Selamat Tahun Baru, Ranum!

Selamat tahun baru, Ranum!

Iya, aku tahu aku terlambat mengucapkannya. Tapi sekarang masih awal tahun, jadi ucapanku masih terasa baru. Iya, kan? kamu menghabiskan pergantian tahun dengan apa? Dengan kesendirian atau dengan tawa riuh rendah? Aku menghabiskannya dengan tidur, seperti malam-malam lainnya. Hahahaha. Aku tidak merasa pergantian tahun harus dirayakan. Tidak ada yang spesial di malam pergantian tahun kecuali penanda bahwa tahun telah berganti dan kita semakin tua serta waktu yang semakin berkurang dalam hidup. Tak ada yang lain.

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis surat untukmu. Tapi selalu kuurungkan. Entah kenapa. Sejak sebelum pergantian tahun, aku ingin sekali bercerita kepadamu. Awalnya aku ingin bercerita tentang keasingan. Aku merasa saat ini aku berubah. Aku tidak lagi penuh rasa optimis. Aku seperti manusia skeptis dan dingin. Aku merasa asing dengan diriku sendiri. Aku juga merasa asing terhadap teman sekatku sendiri. Bahaya betul, bukan? Tapi ternyata perasaan itu hanya sementara.

Aku dan temanku berubah. Petemanan kami tetap. Tetap lekat seperti dulu, tapi cara kami memandang sesuatu sudah berubah. Tidak perlu dipermasalahkan. Aku masih menyayanginya, dan aku rasa dia juga begitu. Semakin umurku bertambah, inner circle pertemananku semakin sedikit. Aku tidak lagi mempunyai cukup banyak energi untuk tertawa di grup yang besar. Aku jauh lebih menikmati menghabiskan waktu dengan sekelompok kecil teman yang benar-benar aku sayang.

 Pada hari pertama tahun ini aku menyusun rencana jangka pendek tentang hidupku. Rencanaku sedikit, yaitu lulus, bekerja, dan semakin banyak bepergian. Tapi pada prosesnya aku yakin banyak hal menarik akan terjadi pada hidupku, seperti yang telah terjadi pada tahun-tahun yang telah lewat. Sebelumnya, aku tidak pernah memiliki resolusi tahun baru, pun memiliki rencana pasti dalam hidup, tapi setelah aku ingat-ingat banyak sekali hal menarik yang terjadi dalam hidupku. Dan semakin aku mengingat hal-hal baik tersebut, semakin aku merasa bahwa aku dicintai. Aku dicintai oleh teman-temanku, oleh Hidup, oleh Semesta. Dan aku merasa kerdil serta payah. Aku terlalu banyak mengeluh. Termasuk mengeluh padamu, kan? Hahahaha. Aku menyayangimu, Ranum. Terima kasih sudah mau menjadi temanku yang sangat baik. Aku mencintai hidupku dan Semesta.

Saat ini aku belum ingin bercerita apa-apa padamu, Ranum. Surat ini hanya penyampai rinduku padamu. Baik-baik di sana. Aku juga akan baik-baik di sini. Aku menunggu ceritamu. Jaga kesehatan dan jangan lupa berbahagia 🙂

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s