Pada Suatu Sore

Sore ini, ketika aku menginjakkan kaki di stasiun, aku disambut oleh langit yang indah. Jingga di ujung di antara awan yang gelap menggumpal. Aku tak ingat kau. Yang kuingat malah burung-burung yang mulai kehabisan pohon, gedung baru yang banyak lahir, dan manusia yang makin berjejalan di kota ini. Tapi tak ada satu pikiranpun tentangmu melintas di kepalaku meski banyak senja kita habiskan bersama dengan manis.

Kota ini makin sesak dan penuh dan pejal. Aku ingin pindah saja kalau begini. Ke kota yang masih punya cukup pohon bagi para burung untuk pulang, kota yang masih ramah kepada manusia. Tidak, aku salah. Ke tempat di mana manusianya ramah kepada kota. Tapi aku suka senja di sini. Dan hujannya di sore. Kalau aku pergi, aku sering rindu kota ini. Hidup memang penuh paradoks. Dulu aku juga sering rindu kau, tapi kini tidak lagi. Tapi mungkin aku akan rindu kau. Pasti aku rindu. Meski sekelebat saja.

Orang-orang lain yang turun dari kereta banyak yang bergegas. Bersegera agar sampai pada rumah dan yang menanti. Sedang aku memilih diam sejenak dan memandang langit sore itu. Dari genangan air di stasiun, aku tahu tadi hujan turun. Pantas petang ini udara terasa segar. Ada berapa orang yang menikmati langit itu sepertiku, ya? Apa kabar pemulung yang sering kujumpai di bawah jalan layang itu? Dan bagaimana nasib anak pedagang asongan di depan stasiun? Aku selalu suka sore, terlebih petang sejuk dengan langit yang indah. Apakah mereka juga menyukai sore yang seperti ini? Pada sore kepenatan mulai terurai. Penatku juga mulai terurai. Bagaimana penat mereka?

Bagaimana rasanya menyaksikan langit seperti ini di desa? Atau di pinggir laut? Atau di tengah laut? Atau di atas gunung? Atau di gurun? Aku tak tahu. Aku tak pernah merasakan senja kecuali di kota. Aku merasa kecil dan percuma. Aku jadi ingin menjelma matahari agar tahu rasanya senja di semua tempat. Kalau aku berdoa kepada Tuhan agar mengubahku menjadi matahari sepertinya kurang ajar. Mungkin Dia akan bilang “Manusia itu sempurna, kau malah mau jadi benda!”. Atau Dia akan mengabulkan doaku karena dia Mahabaik. Tapi karena tidak mungkin ada dua matahari di langit bumi, aku akan menjelma matahari di planet baru. Lalu Dia akan berkata, “Bagaimana senjamu? Sudah puas mencipta senja?”. Tapi kemungkinan besar dia akan diam saja. 

***

Kalau aku bosan pada sore atau senja, bagaimana? Ya tidak mengapa. Wajar. Seperti aku bosan pada sebuah lagu kesukaan. Tapi nanti, ketika diberi jeda, pasti rindu akan muncul. Memang tak baik hidup tanpa jeda. Jeda perlu agar ada jarak. Dalam jarak kita dapat menilai dengan utuh. Tanpa jarak, penilaian kabur. Bukankah, begitu? Aku bisa salah. Aku sok tahu. Hidup juga baru sebentar, tapi banyak omong. Harusnya aku malu pada pohon besar di pinggir jalan. Ia diam meski banyak yang ia ketahui. Lebih banyak dari burung yang sering bertengger di dahannya. Iya, aku malu. 

Aku penasaran, sudah berapa banyak lakon yang disaksikan oleh pohon besar di pinggir jalan itu? Hidup kan memang sebuah lakon saja. Semua punya peran. Ada yang berperan sebagai penonton, ada yang berperan sebagai pemain. Aku kira, aku hanya seorang penonton. Tapi tetap saja dalam lakonku, akulah sang tokoh utama. Aku tak suka menarik perhatian tapi suka diperhatikan. Aneh memang. Paradoksal. Aku tak seperti matahari sore yang menarik perhatian dengan warnanya. 

Kereta yang tadi aku naiki sudah jauh pergi. Sudah ada beberapa kereta lagi yang singgah di stasiun ini. Aku masih duduk di stasiun. Masih menyimak langit yang tak biasa. Mendung sudah semakin berkuasa. Rona jingga sudah hampir habis. Lampu-lampu mulai menyala; lampu angkot, lampu pedagang, lampu jalan. Sebentar lagi saja. Aku ingin diam sejenak di antara ramai yang hirukpikuk ini. Nanti aku akan pulang ketika langit gelap. Aku ingin melihat kematian senja.

Tapi meski senja mati, gelap tak benar-benar berkuasa. Aku suka melihat cahaya-cahaya di kota ini. Lampu angkot, lampu motor lampu toko, lampu jalan, lampu stasiun, lampu pedagang kaki lima, lampu telepon genggam. Aku suka menyaksikan warna merah dan kuning di jalanan, berbaris bagai sekumpulan bunga. Aku suka melihat lampu toko dan pedagang yang putih sehingga siang dan malam tak jauh beda bagi mereka. Aku juga suka melihat lampu layar telepon genggam menyinari wajah manusia-manusia yang berjalan lambat sambil matanya tertambat di benda itu. Mereka sungguh penuh rahasia. Aku suka saat ini.

Di stasiun, orang banyak yang bergegas. Semua selalu bergerak. Seakan yang diam menjadi langka. Kubayangkan rumah-rumah yang di dalamnya tenang. Seorang istri yang menanti suaminya pulang, seorang suami yang bersiap menjemput istrinya, anak yang menanti orangtuanya, atau bahkan kekosongan yang menanti diisi. 

Aku akan pulang juga. Ke rumahku yang hangat. Tapi nanti. Sebentar saja kunikmati waktuku di antara semua yang bergegas ini. Aku ingin diam dulu sejenak. Aku ingin mencoba memaknai waktu. Membuat jeda di sela yang gegas seperti ini memang mengasyikkan. Tapi juga membuatku sadar. Semua harus pulang ke rumah. Dan pemaknaan mengenai rumah dapat berbeda bagi setiap orang. Tapi kita tetap harus pulang. Aku harus pulang. Lima menit lagi aku pulang. Tunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s