Cerita tentang Kura-Kura dan Temanku

Kura-kuraku mati kemarin di kolamnya. Kura-kura kecilku belum juga tua dan cukup banyak kuceritakan. Aku sedih. Tak habis pikir. Kenapa kura-kuraku yang sepertinya sehat mati di kolamnya sendiri? Aku belum juga sempat memberinya teman. Katanya kura-kura memiliki umur yang lama, tapi kura-kuraku tidak. Ia masih sangat muda dan sudah disambut kematian. Entah ia beruntung atau sial.

Tapi kura-kuraku kiranya cukup bahagia. Dia yang tidak pernah menikmati alam bebas, setidaknya mati di kolamnya sendiri dan bukan di kolam kura-kura lain. Aku kuburkan dia di pekaranganku. Kukatakan kepada kura-kuraku yang sudah mati itu, “Kau cukup beruntung karena mati di kolammu sendiri. Aku juga ingin mati di rumahku nanti. Jadi, jangan menyesali kematianmu.” Setelah kukuburkan kura-kuraku, hujan turun dengan deras. Aku di ruang tamu menikmati hujan dan teh manis panas sambil mengenang kura-kuraku yang mati muda.

Kura-kuraku memang tidak seramah anjing milik tetanggaku, atau selucu kucing temanku. Tapi aku menyukai kura-kuraku. Ia tidak berisik dan mengganggu. Dia selalu diam setia mendengar cerita-ceritaku. Tak jarang aku duduk di pinggir kolamnya dan kami diam berdua. Aku menikmati gemericik yang ada di kolamnya dan dia bertengger di batu. Ia tak begitu peduli aku jarang memberinya elusan sayang di tempurungnya. Justru karena itu aku semakin menyukainya. Kini aku menikmati hujan sendiri tanpa kura-kuraku. Apakah ia di dalam tanah sana juga menikmati hujan sama denganku?

Kematian macam apa kiranya yang akan menjemputku nanti? Apakah mati dengan tenang di tempat tidur atau sakit di rumah sakit? Atau jangan-jangan kematian yang tiba-tiba di tempat kerja? Aku ingin mati saat tertidur. Apakah mati menyakitkan? Atau menenangkan? Kadang aku pikir mati enak juga. Tapi seringkali aku takut mati. Belum banyak gunaku di hidup ini.

Aku pernah beberapa kali bermimpi tentang kematian. Aku pernah bermimpi aku menyeret mayatku sendiri. Dalam mimpiku itu, kematian ternyata tidak begitu menyeramkan. Lebih menyeramkan ketika aku bermimpi orang yang aku sayang meninggal. Sedihnya lekat hingga aku terjaga. Aku benci mimpi yang seperti itu. Aku hanya bisa membicarakan kematian dengan kura-kuraku. ia tidak pernah menyela ceritaku atau menyanggah pendapatku. Aku jadi rindu kura-kuraku.

Apakah ada surga bagi kura-kuraku? surga macam apakah yang kiranya tersedia bagi kura-kuraku dan hewan lainnya? apakah kura-kuraku akan bahagia? Aku mendadak sedih mengetahui badannya akan hancur di dalam tanah. Lebih sedih lagi  mengingat orang-orang kesayanganku yang mengalami nasib yang sama dengan kura-kuraku. kematian memang sering lebih menakutkan bagi yang hidup.

Kura-kuraku kudapat dari seorang teman yang penyayang. Ia menyayangi binatang dan menyayangiku. Ia bilang, ia berikan kura-kura itu agar aku punya teman bercerita. Awalnya aku tidak terlalu senang. Aku bukan tipe penyayang binatang, pun tidak membenci binatang. Minatku terhadap binatang tetap tinggal pada taraf biasa-biasa saja. Tapi ternyata waktu membuatku menyukai kura-kuraku. Dan aku merindukan temanku.

***

Suatu hari temanku yang memberiku kura-kura datang ke rumah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Untung hari itu aku sedang ada di rumah. Tiba-tiba ia sudah berada di depan kamarku sambil menanyakan kemana kura-kura yang waktu ia berikan. “Mati,” Jawabku yang masih merebahkan diri di tempat tidur. “Wah, sayang sekali. Dia masih muda,” katanya. “Yah, begitulah,” kataku sambil mengangkat bahu.

Aku tidak kaget jika dia muncul secara tiba-tiba seperti itu. Dia salah satu temanku yang paling dekat, dia tahu aku jarang mengunci pintu rumah. Dan dia tahu aku jarang sekali pergi ke luar di hari libur. Aku tak terlalu suka menghabiskan waktu di tempat ramai. Bukan berarti aku tidak suka berkumpul dengan teman-temanku, tapi seringkali aku lebih menikmati suasana yang sepi.

Temanku datang dengan membawa buah kesukaanku. Dia bilang tetangganya memberikannya buah itu, lalu tiba-tiba dia teringat padaku dan langsung datang ke rumahku. Dia memang salah satu temanku yang paling baik. Lelaki pendiam yang cerewet. Dia tahu kapan harus diam dan kapan harus banyak berkata-kata. Kali ini ia memilih banyak berkata-kata denganku.

Aku segera beranjak dari tempat tidur. Aku tahu temanku ini sangat menyukai kopi. Aku membuat kopi hitam untuknya dan teh manis untukku. Sementara aku membuat minuman, ia duduk di meja makan yang dekat dengan dapurku dan bercerita.

“Kamu tahu, aku ingin bekerja di New York,” katanya.

“Wah, semoga semoga kuat bekerja di sana,” tanggapku.

“Kenapa kamu berkata begitu?”

“Katanya New York lebih kejam daripada Jakarta. sedang Jakarta saja menurutku sudah kejam.”

“Jakarta kejam, tapi baik hati.”

“Iya. New York juga baik, yang jahat orang-orangnya.”

“Orangnya ada yang baik juga.”

“Iya. Tentu saja. Tapi kalau ada sebuah kota yang dijuluki kejam, tentulah yang kejam manusianya. Kota selalu baik.”

“hmm…”

“Jangan pergi terlalu jauh. Nanti aku kangen.”

“Hmmm..”

“Tapi kalau kamu memang harus pergi jauh untuk mimpi-mimpimu. Silakan saja. toh kamu masih ada dalam hatiku.”

“Aku harus percaya, nih?”

“Hahahaha. Bebas. Tapi aku sarakan, sih, percaya saja.”

“Baiklah kalau begitu, pembual,” katanya sambil menyalakan lagu dari telepon genggamnya.

Lagu Piano Man dari Billy Joel terputar. Aku menyukai lagu ini, tapi liriknya terlalu menyedihkan karena menceritakan tentang kesepian. “…they’re sharing a drink they call loneliness. But it’s better than drinking alone.” Aku menyukai bagian itu. Sementara menunggu air mendidih, aku duduk di sebelah temanku, menikmati musiknya. Dia menatapku, aku menatap kekosongan. Pikiranku jauh ke seberang benua. Di benua lain, malam sedang meraja, aku membayangkan seorang lelaki atau perempuan di sebuah bar yang ramai dan merasakan kesepian. Kesepian memang tidak selalu hadir di tempat sepi.

Ketika lagu selesai, ceretku berbunyi. Air matang. Kutuang air itu ke cangkir. Temanku memilih menikmati minumannya di teras. “Biar ada angin,” katanya. Akhirnya kami pindah. Aku menyukai melihat temanku menyeruput kopinya. Dia selalu menutup matanya pada sesapan pertama. Entah kenapa. Padahal belum tentu kopi buatanku nikmat. Temanku memang manis sekali. Ia tak pernah berkata rindu padaku, tapi aku tahu ada rindu yang terselip pada perjumpaan ini.

Aku baru sadar, aku sudah lama sekali tidak berhubungan dengannya. Aku sama sekali tak mengetahui kabarnya. Terakhir kami bertemu adalah ketika ia memberiku kura-kura itu, dan itu sekitar delapan bulan yang lalu. Aku baru sadar kalau aku adalah teman yang buruk.

“Kamu apa kabar? Terakhir kali aku mengetahui kabarmu adalah delapan bulan yang lalu,” kataku mengisi kekosongan pembicaraan yang terjadi setelah sesapan kopi pertamanya.

“Saat ini sedang baik. Beberapa bulan yang lalu aku agak kacau,” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku agak khawatir.

“Sebaiknya kita tidak usah membicarakan hal yang kurang enak begini. Kita kan sudah lama tidak bertemu”

Aku menatapnya. Aku mengerti ia belum mau bercerita padaku saat ini. Dia bukan tipe orang yang suka menceritakan masalahnya kepada orang lain. Ia agak tertutup kalau soal seperti ini. Temanku memang manis, ia tidak ingin berbagi kesedihan. Tapi aku ingin membuatnya nyaman untuk bercerita apapun padaku.

“Aku sebenarnya agak rindu kura-kura darimu,” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Kamu belum juga memberinya nama?” tanyanya

“Belum. Fungsi nama kan hanya untuk membedakan yang satu dengan yang lain, sedang dia adalah satu-satunya kura-kura di sini. Tak perlu ia kuberi nama.”

“Hahaha. Kamu tidak romantis!”

“Mungkin begitu. Tapi aku realistis.”

“Mau kubawakan kura-kura lagi?”

“Tidak. Aku tidak siap kehilangan.”

Lalu dia diam. Aku juga diam. Cukup lama aku berdiam diri. Aku membaca ekspresi wajahnya, di sana tersirat kesedihan. Aku tahu ada yang tidak menyenangkan sedang terjadi padanya, dan ucapanku pasti mengganggunya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Tidak ada apa-apa.”

“Bohong.”

Lalu jeda lumayan lama. Lalu dia menarik napas panjang. “Aku terkena kanker otak” katanya pelan. Aku seperti kehilangan penyangga tubuh. Dengkulku lemas. Temanku yang manis tidak seharusnya terkena kanker di usianya yang masih muda ini. Aku merasa kacau. Aku merasa bersalah karena tidak berada di sisinya ketika ia divonis kanker. Aku bingung harus berkata apa. Aku takut kehilangan dia.

“Apakah kamu takut kehilanganku?” katanya menatapku dengan senyumnya yang manis. Aku tak menjawabnya. Aku malah menatapnya dalam-dalam. Banyak yang ingin aku katakan. Kata-kata berdesakan, dari kepala menuju mulut. Berebut untuk diucap. Berebut untuk bermakna. Tapi yang keluar hanya diam. dan malah mataku yang ingin berbicara. Aku kira saat ini mataku yang berbicara paling baik. Ia menghindari pandanganku dengan menyesap lagi kopinya. Aku diam.

Aku masuk ke dalam rumah, mengambil kotak kenangan. Kotak ini adalah rahasiaku, tapi aku ingin memberitahunya banyak hal. Aku keluar membawa kotak kenanganku. Kotak berwarna hijiau. Di dalamnya ada benda-benda yang aku anggap penting. Aku keluarkan beberapa hal di depannya. Aku keluarkan tiket kereta beberapa tahun lalu. Tiket itu adalah tiket kereta antar provinsi ketika aku pertama kali pergi ke luar kota bersamanya. Aku ceritakan lagi padanya, malam itu di kereta aku tidak bisa tidur karena terlalu senang, sedang ia pulas tidur di sampingku. Dia tersenyum. Aku keluarkan lagi tiket salah satu museum di kota itu. Itu adalah kunjungan pertamaku ke museum itu, dan dia yang mengajakku ke sana. “Kau suka gadis pemandu di museum itu, kan? matamu tak lepas darinya sepanjang tur di museum itu.” kataku. Dia tersenyum dan melihat-lihat foto di dalam kotak kenangan. Fotoku dan dirinya di kota itu. “Perjalananku denganmu ke ke luar kota waktu itu adalah perjalanan jauh pertamaku,” kataku “Terima kasih banyak telah mengajakku bahkan menarikku dari kota ini yang begini-begini saja. Semenjak itu aku jadi suka bepergian. Terima kasih banyak.”

Dia diam. menatapku. Lalu menyesap kopinya lagi. Menggenggam cangkirnya agak lama. lalu menatapku lagi. “Aku masih ingin bekerja di New York. Kota itu butuh orang baik sepertiku.” Katanya sambil tertawa kecil. “Aku masih belum mau mati.” Kemudian dia menaruh cangkirnya. “Tapi, kalau aku harus mati, tak apa juga. Aku senang kamu menyimpan banyak kenangan tentangku.”

***

Sampai saat ini, temanku yang pemalu tak pernah tahu bahwa kotak kenangan itu adalah rahasiaku. Dia adalah orang pertama yang kuberitahu tentang rahasiaku ini. Ia seperti kura-kuraku yang kini sudah ada di dalam tanah, pendengar rahasia yang sabar dan baik. Kiranya ada kenangan yang lebih lama mati daripada raga. Sore itu aku berdoa dengan amat nyaman: semoga temanku bisa bekerja di New York dan kura-kuraku bersenang-senang di surga.

Tuhan pandai membaca hati, bukan?

Advertisements

4 thoughts on “Cerita tentang Kura-Kura dan Temanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s