Hubungan Eropa dan Pribumi di Zona Kontak dalam Sang Juragan Teh karya Hella S. Haase

oleh Galuh Sakti Bandini

Pendahuluan
Indonesia sebagai sebuah bangsa pernah dijajah oleh beberapa negara Eropa. Penjajahan yang paling lama adalah penjajahan oleh Belanda, yaitu sekitar 350 tahun. Dalam penjajahan yang berlangsung cukup lama tersebut tentu saja terjadi persinggungan budaya antara para penjajah, sebagai pendatang, dan masyarakat pribumi sebagai yang terjajah sekaligus penduduk asli.

Bentuk-bentuk persinggungan budaya dapat terlihat salah satunya dalam karya sastra. Sejak 1850-an muncul terjemahan teks-teks Eropa ke dalam bahasa Melayu (Jedamski, 2009:173). Terjemahan merupakan salah satu bukti terjadinya persinggungan budaya, dalam hal ini bahasa, antara bangsa Eropa dan bangsa pribumi. Tidak hanya itu, banyak karya sastra yang menampilkan latar ruang kolonial yang tentu saja menggambarkan persinggungan masyarakat di dalamnya.

Sastra yang menggambarkan latar kolonial di Hindia-Belanda tidak hanya diproduksi ketika penjajahan masih berlangsung, tapi juga setelah Indonesia Merdeka. Hella S. Haase, seorang pengarang Belanda, pada 1947 pernah menerbitkan karya yang menceritakan mengenai Indonesia pada zaman kolonial yang berjudul Oeroeg. Pada 1992 ia kembali menuliskan sebuah roman mengenai kehidupan seorang Belanda yang menjadi juragan teh di Priangan yang berjudul Heren van de Thee. Pada 2015, novelnya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sang Juragan Teh.

Romannya yang berjudul Sang Juragan Teh disusun berdasarkan surat-surat dan dokumen yang diserahkan yayasan Het Indisch thee-en familie-archif kepada Hella S. Haase. Roman ini memiliki latar tempat di Belanda dan di Hindia Belanda tahun 1873–1918. Akan tetapi, roman ini lebih banyak mengambil tempat di Hindia Belanda, yaitu di perkebunan teh di Priangan, Jawa Barat.

Akan menarik mengamati bagaimana Eropa sebagai pendatang dan penjajah bertemu dan berinteraksi dengan pribumi. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas mengenai Hubungan antara Eropa dan Pribumi di zona kontak yang ada di dalam novel. Penulis akan fokus kepada hubungan yang terjadi antara Rudolf Eduard Kerkhoven, Seorang Eropa totok dan merupakan tokoh utama, dengan pribumi.

Eropa dan Pribumi dalam Zona Kontak
Teori mengenai zona kontak (contact zone) dipopulerkan oleh Mary Louise Pratt. Ia mendefinisikan zona kontak sebagai social spaces where culture meet, clash, and grapple with each other, often in contexts of highly asymmetrical relations of power, such as colonialism, slavery, or their aftermaths as they are lived out in many parts of the world today (Pratt, 1991).

Berdasarkan definisi tersebut, di dalam roman Haase tentu terdapat zona kontak karena latar sosial di dalamnya adalah masyarakat kolonial; ada yang menjajah dan terjajah sehingga ada relasi kuasa yang asimetris. Zona kontak dapat mengaburkan jarak antara penjajah dan terjajah. Zona kontak yang yang terjadi di dalam Sang Juragan Teh terjadi di ruang kolonial. Ruang kolonial sebagai ruang pertemuan adalah konstruksi tempat yang mencerminkan pandangan penjajah tentang wilayah koloni dan pengghuninya (Sharp dalam Suprihatin, 2015: 84).

Penulis hanya akan berfokus kepada tokoh Rudolf Eduard Kerkhoven karena ia adalah tokoh utama yang merupakan Belanda totok. Ia datang ke Hindia Belanda untuk membuka lahan perkebunan teh yang kemudian juga berkembang menjadi perkebunan kina. Ia memiliki perkebunan teh di Gambung, daerah Priangan. Di sana ia harus mempekerjakan penduduk setempat agar perkebunannya dapat berjalan.

Kontak pertama Rudolf dengan penduduk Gambung terjadi ketika ia membuka lahan di sana.

Ketika berbalik, ia melihat sekerumunan orang telah berkumpul mengitari dua pembantunya, Muntayas dan Jenggot,…Saat sadar sedang diperhatikan olehnya, para penduduk desa itu pun berjongkok. Kepala desanya memberi penghormatan, dan menyapanya dengan sebutan juragan, tuan tanah. Ia menjawab dalam bahasa Sunda sehari-hari, bahasa yang cukup dikuasainya…Meski tak seorangpun berani menatapnya—itu tidak pantas—ia beranggapan bahwa kebisuan mereka merupakan tanda setuju. (Haase, 2015: 14–15)

Dari kutipan tersebut dapat terlihat relasi kuasa yang asimetris. Rudolf sebagai orang Eropa memiliki status yang lebih tinggi, sedangkan para penduduk Gambung memiliki status yang lebih rendah. Perbedaan status antara Rudolf dan para penduduk setempat terlihat dari kalimat “Saat sadar sedang diperhatikan olehnya, para penduduk desa itu pun berjongkok.” dan “tak seorangpun berani menatapnya—itu tidak pantas—“. Perbedaan posisi antara Rudolf yang berdiri dan para penduduk desa yang berjongkok mengesahkan perbedaan status tersebut. Dan anggapan bahwa tak pantas bagi pribumi menatap seorang Eropa menandakan bahwa Rudolf sebagai orang Eropa lebih mulia dibandingkan dengan mereka.

Kedudukan yang timpang antara Rudolf dan penduduk pribumi memang sengaja dibentuk oleh wacana kolonial. Loomba (2016: 3) mendefinisikan kolonialisme sebagai penaklukan dan penguasaan atas tanah dan benda rakyat lain. Oleh karena itu, Eropa, atau dalam kasus ini Belanda, sebagai pendatang yang menjadikan negara Hindia Belanda sebagai wilayah koloni otomatis mendapat status dan kekuasaan yang lebih tinggi dari kaum pribumi. Identitas kaum pribumi yang terjajah bukanlah subjek yang memiliki esensi tetap, melainkan dibentuk secara diskursif. Akan tetapi, kenyataan bahwa Rudolf menguasai bahasa Sunda menunjukkan bahwa dalam zona kontak tersebut terjadi pertukaran budaya, dalam hal ini bahasa.

Dari kutipan di atas, sama sekali tidak terlihat suara dari kaum pribumi sebagai subaltern. Ketiadaan suara subaltern sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gayatri Spivak. Menurutnya, tidak mungkin menggali kembali suara subaltern atau subjek-subjek tertindas. Spivak berangkat dari kasus pembakaran diri janda di India saat mengatakan bahwa gabungan cara-cara kerja kolonialisme dengan patriarki dalam kenyataannya menjadikan sulit bagi subaltern untuk mengartikulasikan pandangannya (Spivak dalam Loomba, 2016: 345).

Dalam kutipan Haase di atas, para pekerja semuanya terdiri atas laki-laki. Jadi, tidak hanya perempuan yang menjadi subaltern, melainkan pribumi yang tidak memiliki kapital apapun. Pierre Bordieu (dalam Grenfell, 2008: 72) menyatakan bahwa seseorang dapat menguasai arena apabila memiliki kapital sosial yang kuat. Kapital sosial yang kuat dibentuk oleh kapital ekonomi dan kapital budaya. Dalam hal ini, para pekerja Rudolf tidak memiliki modal sosial yang lebih banyak dibandingkan dengan Rudolf.

Ketimpangan kekuasaan antara Rudolf dan pribumi tidak terlalu tampak ketika ia berjumpa dengan Raden Karta Winata di perkebunan ayahnya. Rudolf belajar bahasa Sunda dengan Raden Karta Winata sehingga kedudukan mereka tidak terlalu timpang.
Di rumah juga ada tamu yang menginap, Raden Karta Winata, bangsawan muda Sunda, yang dulu murid di sekolah pendidikan guru yang didirikan Karel Holle, dan ayahnya adalah penghulu Garut. Ia pemuda yang sederhana, bertata krama baik, menguasai bahasa Belanda dan sedang menerjemahkan berbagai buku untuk kepentingan sekolah…kini sedang menerjemahkan Robinson Crusoe karya Defoe ari edisi Belanda milik ayah Rudolf, yang menawarkan bimbingannya, dengan imbalan pelajaran bahasa Sunda. Rudolf juga bersyukur atas kesempatan ini, dan turut mengikuti pelajaran. (Haase, 2015:147)

Dari kutipan tersebut fokalisator yang menceritakan mengenai Raden Karta Winata sama sekali tidak mendiskreditkannya meskipun ia seorang pribumi. Hal tersebut disebabkan oleh kapital sosial yang dimiliki oleh Raden Karta Winata. Disebutkan bahwa ia adalah seorang bangsawan sunda yang ayahnya adalah penghulu Garut. Hal itu menunjukkan bahwa ia memiliki kapital budaya yang cukup tinggi. Kapital budaya merupakan keseluruhan kualifikasi intelektual yang bisa diproduksi melalui pendidikan formal, informal, maupun warisan keluarga (Grenfell, 2008). Jadi, dari ayahnya ia sudah diwarisi kapital budaya yang cukup besar. Sebagai bangsawan dan anak dari penghulu Garut tentu saja Raden Karta Winata memiliki modal ekonomi yang lumayan besar. Selain itu, kemampuannya berbahasa Belanda juga menambah kapital sosialnya.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam zona kontak jarak atau perbedaan antara penjajah dan terjajah dapat terlihat kabur. Di rumah Ayah Rudolf, Rudolf dan Raden Karta Winata tidak digambarkan sebagai penjajah dan terjajah, tetapi sebagai guru dan murid. Dan hal yang menarik adalah Karta Winata digambarkan sebagai guru bahasa Sunda Rudolf dan Ayahnya. Hal itu berarti kedudukannya sebagai pribumi di atas Rudolf dan ayahnya sebagai bangsa Eropa. Meskipun begitu, suara Raden Karta Winata sama sekali tidak terlihat dalam kutipan tersebut.

Perkebunan Rudolf di Gambung menjadi zona kontak yang paling sering Rudolf datangi dan di sanalah ia paling banyak berinteraksi dengan pekerja pribuminya. Pekerja pribuminya memang merupakan subaltern. Suara mereka jarang sekali terdengar. Akan tetapi, bukan berarti tidak pernah ada perlawanan dari mereka yang tidak bersuara di dalam karya ini.

Rudolf paham bahwa ia membutuhkan pribumi untuk membantunya menggarap perkebunannya, akan tetapi ia enggan menaikkan upah para pekerja. Akhirnya, ia kesulitan mendapatkan orang untuk bekerja padanya.
Beberapa hari setelah kedatangannya, ia menerima tawaran bantuan untuk membersihkan jalur yang menghubungkan antarkebun, biasanya dari enam orang yang sama. Jenggot memberitahunya bahwa akan lebih banyak lagi pekerja yang datang, asalkan ia memberi upah yang lebih tinggi. (Haase, 2015: 158)

Dalam kutipan di atas memang tidak terdapat kalimat langsung dari Pribumi sebagai subaltern. Akan tetapi, melalui fokalisator yang juga merupakan narator, Jenggot bersuara. Jenggot merupakan pribumi, pembantu Rudolf yang dikirim dari perkebunan orangtuanya di Arjasari. Ia menyuarakan pendapatnya kepada Rudolf. Ketika ia menyuarakan pendapatnya, dapat dilihat bahwa sebenarnya ia juga bersuara demi kepentingan kaumnya, yaitu masyarakat pribumi.

Dari kalimat “asalkan ia memberi upah yang lebih tinggi” dapat disimpulkan bahwa Rudolf memberi upah yang terlalu rendah bagi pribumi. Hal itu menimbulkan perlawanan di kalangan pribumi. Perlawanan itu terlihat dari sedikitnya jumlah pribumi yang datang untuk bekerja. Masalah sedikitnya pribumi yang datang untuk bekerja Rudof selesaikan bukan dengan menaikkan upah, melainkan dengan memberi beban pekerjaan yang lebih ringan serta memberi para pekerja itu hadiah, berupa tembakau Belanda.
Jenggot kemudian bersuara lagi, kali ini suaranya vokal, ketika anak penjaga istal kuda Rudolf tidak kembali setelah lalai menjalankan tugas.

“Apa Jenggot bermaksud mengatakan bahwa Odaliske tidak akan kabur seandainya aku memberi Japan upan karena mengurus kuda? Aku telah menjanjikan pakaian baru untuknya. Itu akan diterimanya.”
“Juragan tahu bahwa sekarang ini orang bekerja demi upah, bukan demi hadiah.”
Rudolf terusik. (Haase, 2015: 166)

Dalam kutipan di atas, suara Jenggot yang selama ini disuarakan melalui narator terdengar langsung. Ia lagi-lagi menggugat keputusan Rudolf yang tidak membayar upah pekerjanya. Alih-alih upah, Rudolf memberi hadiah bagi orang yang bekerja padanya.
Latar waktu penceritaan ketika Jenggot menyuarakan pemikirannya adalah tahun 1870an. Ketika itu, sistem perbudakan telah dihapus di Hindia Belanda. Pada masa itu, Pribumi yang bekerja kepada orang Belanda bukan lagi berstatus sebagai budak yang dipelihara oleh tuannya, tetapi sebagai pekerja. Sebagai pekerja, berarti orang pribumi berhak mendapat bayaran atas pekerjaan yang dilakukannya. Rupanya, Rudolf masih mempertahankan sistem budak bagi penjaga kudanya, Japan. Hal inilah yang dikritik oleh Jenggot.

Ternyata kritik yang disuarakan Jenggot terkait dengan kebijakan Rudolf, membuat Rudolf gelisah. Berdasakan fokalisasi yang dilakukan oleh narator, Rudolf terusik oleh apa yang telah diucapkan Jenggot. Menurut Pratt (1991: 37), kritik merupakan salah satu seni di dalam zona kontak. Jenggot, sebagai subaltern, ternyata dapat bersuara. Hal ini menguatkan apa yang dikatakan oleh Judith Walkowitz (dalam Loomba, 2016: 352) bahwa subaltern membuat sejarah mereka sendiri, meski berada di bawah keadaan-keadaan yang tidak mereka kendalikan atau hasilkan sepenuhnya. Mereka adalah pembuat sekaligus pemakai budaya, tunduk kepada batasan-batasan sosial dan ideologis yang sama, namun dengan kuat melawan batasan-batasan itu pula.

Dari dua kutipan terakhir, terlihat bahwa Jenggot merupakan sosok subaltern yang cukup vokal menyerukan mengenai pembayaran upah yang pantas bagi para buruh. Suaranya dapat didengar melalui fokalisasi yang dilakukan oleh narator maupun melalui suranya sendiri di dalam kalimat langsung. Seolah-olah ia adalah corong bagi suara subaltern lainnya. Akan tetapi, perlawanan masyarakat pribumi tidak berhenti ketika Jenggot dikirim kembali ke Arjasari.

Rasa gembiranya terhadap kedatangan sejumlah besar orang yang mendaftarkan diri untuk menebang dan membakar hutan, hanya berlangsung sebentar. Mereka menolak tawarannya membayar sepuluh gulden per satu areal tanam yang dibersihkan dari hutan…Rudolf mendapat kesan bahwa hanya sejumlah orang yang mencegah pekerja lainnya untuk menerima persyaratan yang diajukannya itu. Kali ini ia tidak bisa menyalahkan Jenggot, karena pria itu tetap tinggal di Arjasari sebagai penjaga malam. Pada prinsipnya Rudolf siap membayar lebih…namun sama seperti hari-haru pertamanya di Gambung, ia merasa lebih baik tidak gampang menyerah. Pada akhirnya, ia kembalai membayar upah per orang per hari. (Haase, 2015: 179–180)

Kutipan di atas memperlihatkan perlawanan masyarakat pribumi yang merasa bahwa Rudolf tidak memberikan upah yang sepadan dengan apa yang mereka lakukan. Para pekerja pribumi juga memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan perlawanan. Perlawanan yang mereka lakukan adalah dengan tidak memberikan jasa yang mereka punya untuk Rudolf karena Rudolf tidak memenuhi keinginan mereka untuk membayar lebih mereka.

Menurut Foucault (dalam Taylor, 2011), kekuasaan (power) hadir di mana-mana (omnipresent) sehingga kekuasaan dapat ditemukan dalam berbagai interaksi sosial. Bagi Foucault kekuasaan bersifat cair dan tidak selalu mengalir dari atas ke bawah. Teori Foucault mendapat pembuktiannya dalam kutipan di atas, yaitu ketika para pekerja pribumi menolak tawaran pembayaran Rudolf dan mengajak pekerja lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Akan tetapi, berdasarkan konstruksi sosial pada masa itu, Rudolf sebagai orang Eropa yang memiliki kuasa lebih di banding pribumi merasa bahwa harga dirinya akan jatuh apabila ia menuruti permintaan para pekerja pribumi tersebut sehingga ia mengubah keputusannya dengan membayar upah per hari setiap orang. Dengan begitu, ia tidak perlu menuruti permintaan pribumi. Pada akhirnya Rudolf tetap digambarkan sebagai pihak yang lebih berkuasa dibandingkan dengan pribumi.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap roman Sang Juragan Teh karya Hella S. Haase, terlihat bahwa zona kontak antara Rudolf dan pribumi kebanyakan terjadi di perkebunannya, di Gambung. Di dalam zona kontak itu, kekuasaan yang asimetris bertemu dan berbenturan. Dalam relasi kuasa yang asimetris tersebut pengaruh kapital sosial sangat kuat.

Masyarakat pribumi yang bekerja kepada Rudolf merupakan subaltern masyarakat kolonial. Mereka jarang sekali bersuara, tapi bukan berarti tidak ada suara. Jenggot sebagai perwakilan masyarakat pribumi mampu bersuara dan menyuarakan pendapatnya mengenai keputusan Rudolf yang dinilai tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Selain itu, meskipun Rudolf sebagai penjajah dan orang Eropa memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan dengan pribumi, bukan berarti para pribumi sebagai subaltern tidak dapat melawan sama sekali. Perlawanan-perlawanan pribumi terlihat dengan cara menolak bekerja kepada Rudolf karena upah yang diberikan Rudolf dinilai terlalu sedikit.

Perlawanan yang dilakukan para pekerja pribumi membuktikan bahwa kekuasaan sifatnya cair dan berada di ruang sosial manapun. Akan tetapi, pada akhirnya Rudolf tetap dihadirkan sebagai pemilik kekuasaan yang lebih tinggi dibanding pribumi. Hal itu disebabkan oleh kepemilikan kapital sosial Rudolf yang lebih besar daripada pekerja pribuminya. Selain itu, hal tersebut juga disebabkan oleh konstruksi wacana kolonial.
Selain Gambung, zona kontak yang rudolf miliki dengan pribumi berada di rumah ayahnya, Arjasari. Akan tetapi hubungan yang ditampilkan berbeda dengan ketika ia berhubungan dengan para pekerja pribuminya karena di Arjasari, pribumi yang melakukan kontak dengan Rudolf adalah seorang bangsawan muda sunda yang memiliki kapital sosial yang cukup besar.

Daftar Pustaka
Blackburn, Susan. 2012. Jakarta: Sejarah 400 Tahun. Depok: Masup Jakarta.
Grenfell, Michel. 2008. Pierre Bordieu: Key Concepts. Durham: Acumen.
Haase, Hella S. 2015. Sang Juragan Teh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Jedamski, Doris. 2009. “Terjemahan Sastra dari Bahasa-Bahasa Eropa ke dalam Bahasa Melayu sampai Tahun 1942” dalam Sadur:Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Loomba, Ania. 2016. Kolonialisme/Pascakolonialisme. Yogyakarta: Narasi.
Suprihatin, Christina Turut. 2015. Ruang Kolonial dan Ideologi Huisje-Boompje-Beestje dalam Karya Perempuan Penulis Hindia-Belanda. Disertasi. Depok: Universitas Indonesia.
Taylor, Diana. 2011. Michel Foucault: Key Concepts. Durham: Acumen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s