Ramu Rasa


​Aku tak pandai meramu huruf menjadi kata manis yang kau sebut puisi.

Pun aku tak pandai meramu rasa yang bercampur di dada dalam kata-kata itu.

Tapi tidakkah kau rasakan semua yang tak teramu itu dalam secangkir teh yang kuhidangkan di sore yang hujan tadi?

Atau pada jejak langkah yang berusaha seirama dengan tapakmu?

Tapi aku masih berkutat dengan kata yang ituitu juga; entah untuk apa.

“Kalau kata sudah bisu dan aku mulai tumpul, adakah rasa masih setia?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s