Kutipan Cerita dalam Kepalaku

“Biar kubawa ini ke kutub, tempat terjauh darimu.” katanya sambil mengambil gelisah dan khawatir dari kepalanya. Ia masukkan yang ia ambil dari kepalanya ke dalam karung. Ia ikat kuat-kuat. Tak banyak khawatirnya, tapi kuat. Lalu ia pergi sambil membawa karung itu. Hanya karung itu yang ia bawa. Sambil tersenyum dia bilang, “Mungkin ada baiknya aku tinggal di kutub bersama kekhawatiranku. Tanpamu.”

Aku menangis. Merasa dicampakkan oleh dia yang terdekat. Khawatirnya berasal dariku. Tanpaku khawatirnya kan musnah. Dia akan tinggal sendiri. Biar mati dia dibunuh sepi!

Ketika ia menghilang dari pandangku, aku tersenyum. Aku merasa sebagian bebanku hanyut. Untuk saat ini aku merasa ringan. Mungkin nanti aku dijenguk rindu. Tapi nanti sajalah itu aku pikirkan. Kini aku tenang tanpanya dan kekhawatirannya yang kuat.

Aku menikmati sore sendiri. Di saat banyak orang pulang ke rumah, dia malah pergi. Tak apa. Sore ini begitu damai kurasa. Tak baik memang hidup dengan orang yang tak bahagia dengan kita. Bahagia memang bisa dibuat, tapi tak bisa dipaksakan. Aku tidak jadi berharap dia mati dibunuh sepi. Aku harap dia bahagia dengan apapun yang ia punya. Aku akan bahagia di sini. Aku tahu.

Langit sore mulai menghitam. Aku masuk ke dalam. Aku mau bermimpi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s