Ini Tidak Seperti dalam Ceritamu

Aku sedang melakukan perjalanan dengan kereta. Tapi tak seperti dalam ceritamu, meski aku ingin sekali kisah perjalananku seperi ceritamu. Cerita tentang sebuah pertemuan dengan obrolan bermakna di kereta. Tapi aku tak jumpa siapa-siapa. Tidak ada “halo” atau perkataan apapun. Yang ada hanya diam.

Aku melakukan perjalanan pada sore menjelang malam. Dan aku sering sekali membayangkan penghuni rumah-rumah yang kulewati. Apakah mereka sedang bersantap bersama? Atau malah terasing di rumahnya sendiri? Tapi aku melihat kehangatan ketika perlahan-lahan satu per satu lampu rumah mulai menyala.

Semakin malam, kereta terasa semakin dingin saja. Aku tak begitu suka perjalanan kereta yang dingin begini. Akhirnya aku pergi ke kereta restorasi, mau beli teh panas. Kita kan belum pernah ke kereta restorasi. Iya, kan? Pertama kali aku ke kereta restorasi adalah bersama ayahku. Kami memesan mie. Kami tertawa karena ternyata sulit juga makan mie di kereta. Keretanya bergoyang terus. Kini aku sendiri dan hanya memesan teh. Kereta restorasi ini sepi. Aku tidak membayangkan apa-apa. Aku cuma ingin hangat. Di ceritamu, si laki-laki dan perempuan bertemu di kereta restorasi, kan? Si perempuan menegur si laki-laki. Tapi dalam perjalananku, aku tak menegur siapa-siapa. Juga tak ditegur siapa-siapa.

Di luar gelap total. Bintang tak kelihatan dari kereta. Mungkin kereta ini sedang melintas persawahan. Tapi kadang terlihat beberapa titik cahaya. Tandanya kami melewati beberapa rumah. Dan di kejauhan aku melihat kilat. Langit jadi sedikit tidak membosankan. Aku di kereta ini memang menikmati kilat itu, tapi mungkin di saat yg sama, di suatu rumah ada anak kecil (atau bahkan orang dewasa) yang gelisah karena kilat itu.

***

Aku menikmati tehku di kereta restorasi. Aku bosan dengan tempat dudukku. Aku melakukan perjalanan agar tidak bosan, tapi malah bosan di perjalanan. Aneh memang. Teh ini mengingatkanku padamu. Aku selalu memesan teh di warung kopi tempat kita biasa bertemu. Tapi sekarang-sekarang ini kita lebih biasa tidak bertemu. Kau dulu pernah bilang padaku, “Semakin dewasa, kita harus semakin siap kehilangan. Sudah suatu kepastian satu per satu orang terdekat kita akan pergi menjauh.”

Aku tak menyangka ternyata kau pun menjauh dari ceritaku. Entah aku atau kau yang pergi menjauh, tiba-tiba aku sadar kita sudah semakin asing. Dan saat ini, tiba-tiba aku rindu kamu. Aku tak pernah membayangkan kita menjadi asing. Aku pikir kau akan selalu di sana, siap untuk mendengar ceritaku atau pamer tulisanmu. Tapi nyatanya kau tak ada di sana ketika kini aku ingin bercerita. Tapi aku sadar, kau bebas memilih untuk berada di mana, kapan saja, dan bersama siapa saja. Aku tak berhak menahanmu di sana hanya agar aku dapat bercerita, kan?

Kertaku berhenti. Aku tak tahu kenapa. Aku juga tak tahu ini berada di mana. Di luar gelap. Tak ada titik lampu atau kilat. Aku jadi gelisah. Aku ingin pagi lekas hadir. “Habis gelap, terbitlah terang” begitu dulu Kartini  pernah bilang. Aku tahu. Tapi aku ingin terang dipercepat. Bodoh, ya?

Sekarang malam sudah mencapai puncaknya. Tengah malam begini sebagian besar penumpang yang lain tidur. Aku satu-satunya penumpang di kereta restorasi. Aku buka telepon genggamku, aku ingin mengobrol dengan temanku yang jauh di sana. Tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin aku akan mengganggunya. Jadi, aku urungkan niatku. Akhirnya aku hanya mendengarkan lagu menggunakan headset. Cukup menghibur. Tapi aku masih rindu kamu. Masih lama akan terang. Tujuanku juga masih jauh.

Kereta ini masih saja dingin. Tehku sudah tandas. Sekarang aku hanya mendengarkan musik. Aku ingin tidak berpikir apa-apa, tapi tidak bisa. Aku memikirkanmu, memikirkannya, memikirkan mereka, memikirkan kalian. Mungkin ada sedikit cemburu yang mengusikku ketika aku sadar aku bukanlah apa-apa bagimu, tak seperti siapapun yang sedang bersamamu saat ini. Aku ingin menjadi sesuatu yang berharga; bagimu atau orang lain. Aku ingin dirindukan. Rindukah kau padaku? Tapi rindumu diam, sama seperti rinduku. Kalau rindu kita diam, bagaimana kita tahu kalau kita saling rindu? Tapi aku pikir, untuk apa kau tahu rinduku padamu? Aku bukanlah apa-apa bagimu.

***

Aku kembali ke kursiku dan tertidur. Ketika aku bangun, matahari sudah lembut bersinar. Aku melintasi persawahan. Aku melihat orang-orang sudah memulai kegiatan. Ada petani yang pergi ke sawah, anak-anak berseragam yang berangkat ke sekolah, dan orang-orang yang akan pergi bekerja ke kantor. Keretaku masih melaju. Masih dingin.

Aku suka dengan hangat sinar matahari yang menembus jendela. Kalau begini aku tak lagi begitu rindu kamu. Aku masih mengingatmu, tapi tanpa banyak rindu. Tidak seperti malam tadi. Kamu pasti baru selesai kerja dan bersiap pulang. Atau jangan-jangan kau sudah pindah kerja? Aku benar-benar sudah tidak tahu kabarmu. Aku sedih mengingatmu yang asing.

Bagaimana, sih, akhir ceritamu itu? Apakah si laki-laki dan perempuan itu akhirnya terus berhubungan? Atau akhirnya mereka berpisah juga? Aku tidak berpisah dengan siapa-siapa kalau nanti sampai stasiun tujuanku. Tidak juga dapat menjalin hubungan dengan seseorang. Aku sendiri saja. Tapi aku tidak kesepian. Sebentar lagi aku sampai di kota tujuanku, kota asing. Tapi aku suka. Aku bersemangat mengenal kota itu. Aku tidak akan menetap di sana. Hanya berkunjung. Justru itu aku semakin senang. Datang sebagai orang asing tanpa mencoba terasing.

Sudah kubilang, perjalananku ini tidak seperti ceritamu meskipun aku ingin sekali seperti ceritamu. Tak ada pertemuan, tak ada perpisahan, yang ada hanya perjalanan. Di perjalanan ini aku ingat ceritamu, lalu rindu kamu, lalu aku sampai. Di manapun kau berada, berbahagialah. Menulislah lagi. Aku ingin membaca ceritamu lagi.
Gambir-Wlingi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s