Teduh

Aku Teduh yang hadir ketika kau menikmati kopimu siang hari tadi di sebuah kedai yang rimbun. Kudengar kau gumamkan banyak kata yang sewujud rapalan mantra tentang kecewa. Sebuah dendang merdu yang dibawa angin tak cukup meredam kecewamu rupanya. Aku ingin sekali menemanimu menghabiskan kopi itu dan mendengar lebih lama rapalan anehmu itu. Tapi aku tahu, sebentar lagi aku akan hilang. Padahal aku juga ingin berbagi cerita denganmu. Betapa aku kecewa terhadap matahari itu. Aku ingin mengada selamanya di sini, tapi karena dia aku harus hilang ketika malam. Aku ingin sekali mengada dan menikmati malam. Kenapa aku harus hilang oleh sesuatu yang membuatku ada? Aku kira ini tidak adil. Tapi aku hanya Teduh. Siapa yang sadar akan hadirku kecuali mereka yang terganggu oleh terik? Tapi kemarin aku putuskan untuk berhenti kecewa. Aku ada dan aku sadar bahwa aku ada, itu sudah cukup. Lebih bahaya jika aku ada tapi menyesali keberadaanku. Aku akan lelah sendiri karena tak peduli betapapun aku kecewa tentang keberadaanku, aku akan tetap ada. Aku ada untuk mereka yang ingin berteduh. Aku tahu aku berguna dan aku bahagia karenanya. Aku kira hal yang tidak menyadari kegunaannya patut dikasihani. Aku hampir mengasihanimu hingga kau hembuskan nafas dan mengurai kekecewaanmu. Ketika kau merelakan hal-hal yang memang harus direlakan, aku lega. Kopimu tandas tepat ketika aku harus menghilang. Bagiku senyummu di sesapan terakhir cukup untuk menjadi pemandangan terakhir yg kulihat hari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s