Sore di Cikini

Dari dulu aku sudah suka sore. Sore adalah masa ketika kesibukan mulai terurai. Sore seperti jeda antara siang dan malam. Aku selalu menyukai sore, apalagi sore di Cikini. Bagiku, sore di Cikini itu manis. Banyak kenangan terukir di sana.

Aku memang jarang hafal jalan di Jakarta. Tapi aku tahu cara ke Cikini, baik berkendara menggunakan mobil atau motor, maupun menggunakan kereta. Aku lebih suka menggunakan kereta. Terasa lebih syahdu. Hahahaha. Biasanya aku ke Cikini untuk menuju TIM. Seperti kemarin.

Trotoar Cikini


Kemarin siang aku ke TIM bersama teman-temanku. Kami akan menonton film-film pendek yang dimainkan di Kineforum. Pemutarannya pukul 14.15, tapi kami sudah tiba di sana sebelum pukul 13.00. Kami takut kehabisan tiket. Dan memang banyak jumlah pengunjung yang datang. Kami senang menonton filmnya. Filmnya hangat. Ceritanya bagus dan menyentuh. Sepertinya saat ini sudah jarang film yang menyentuh perasaan tanpa ada unsur asmaranya sepeti film yang tadi kami saksikan.

Kami pulang pada sore. Kami bertiga. Aku dan satu temanku pulang, sedang temanku yg satu lagi akan melanjutkan perjalanan ke GI. Mumpung hari minggu, hari bebas. Ia akan menonton film lagi. Perjalanan menuju Stasiun Cikini memang jalan yang itu-itu saja, tak ada yg berubah. Tapi setiap pulang dari TIM menuju stasiun Cikini, selalu ada yang menarik perhatianku. Entah pedagang yang mulai membuka toko di pinggir jalan, daun jatuh, atau sekadar tukang ojek yang mangkal menunggu penumpang. Pulang dari TIM hatiku selalu senang.

Aku senang menonton pertunjukan bagus di TIM. Seandainya tidak bagus pun aku senang ke TIM. Tempat aku menikmati banyak kesenian, menemukan buku bagus, serta diskusi sastra. Di sana ada toko buku Bang Jose serta Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin; dua tempat yang sangat berkesan untukku. Ada pula anak-anak kecil yang latihan menari. Aku suka menyaksikan mereka menari. Hal-hal tersebut membuat hatiku ringan. Aku memang tidak bisa berkesenian. Aku tidak bisa menggambar, menyanyi, menari, melukis, atau yang lain. Tapi aku suka sekali menikmati karya seni. Aku kadang iri pada pelaku seni, tapi aku sadar diri, kok. Aku bersyukur masih banyak yang berkesenian.

Menuju Stasiun Cikini

 Coba kau bayangkan, sudah ada berapa sastrawan dan seniman besar Indonesia yang sering menghabiskan waktunya di TIM? Banyak sekali! TIM seperti pusat orang berkesenian. Salah satu tempat di Jakarta yang membuat kita merasa bebas. Setidaknya, begitu bagiku. Dan aku selalu senang menghabiskan soreku di Cikini.

Ceritaku ini memang tidak jelas. Tidak beralur serta memiliki narasi yang baik. Foto-fotonya juga tidak bagus. Tapi aku memang tidak berniat menghasilkan tulisan yang bagus. Aku hanya ingin bercerita tentang sore di Cikini dan betapa aku menyukainya 🙂

Cikini!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s