Ranum, Ini Ceritaku

Selamat pagi, Ranum. Maaf aku bohong. Di surat terakhirku, aku bilang bahwa aku akan mengirimimu surat lagi setelah surat tersebut, nyatanya tidak. Maaf juga surat ini tidak dimulai dengan menanyakan kabarmu, tapi dibukan dengan permohonan maaf. Apakah kamu merindukan ceritaku, Ranum? Sudah lumayan lama aku tidak bercerita padamu. Jadi, apa kabarmu?

Aku sudah lama berhenti mencatat hal-hal yang terjadi di hari-hariku. Jadi sesungguhnya aku agak-agak lupa tentang apa yang terjadi dalam hidupku selama aku tidak mengabarimu. Tapi tetap saja aku mampu bercerita padamu, Ranum. Ada beberapa kejadian yang ingin aku ceritakan kepadamu, kebanyakan tentang pertemuan.

Beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan sahabat-sahabatku di tempat kerja salah satu temanku. Teman kami, sutradara muda, baru saja pulang dari Cannes dan membawa kemenangan. Kami semua bangga padanya. Di sela kesibukan yang banyak menyita waktu, akhirnya kami berkumpul juga. menyempatkan waktu untuk merayakan keberhasilannya, dan tentu saja juga melepas rindu. Ada banyak sekali cerita di sana, Ranum. Tapi anehnya kami sedikit sekali membicarakan filmnya.

Kami membicarakan tentang hubungan dan prinsip. Tentang hal-hal yang terjadi di seputar kami. Wah, seru sekali. Aku tak banyak bicara malam itu. Aku lebih suka mendengar. Perbincangan seru terjadi antara temanku yang sutradara muda itu dengan temanku yang lain. Tentang cemburu, tentang pasangan, tentang kesetiaan, tentang logika, tentang komitmen, dan tentang nafsu. Ada juga pembicaraan serius seputar politik, sastra, dan semacamnya. Seru, bukan? Banyak tawa terurai malam itu. Kami berbincang hingga larut, hingga dini hari. Bayangkan, Ranum! Sudah lama sekali aku tidak berbincang hingga lupa waktu. Kami berhenti karena salah satu dari kami harus bekerja pagi-pagi sekali. Lalu kami berfoto. Terakhir kali kami berkumpul adalah setahun yang lalu, ketika temanku, si sutradara muda, pulang dari festival film di Berlin. Dulu kami berbicara tentang cita-cita, tahun ini kami sedang merintis jalan menuju cita-cita kami. Entah apa yang akan kita bicarakan di pertemuan berikutnya yang entah kapan. Entah telah jadi apa kami saat itu. Kami bahagia malam itu, kami akan bahagia di pertemuan selanjutnya.

Dan bagaimana denganmu, Ranum? Kapan terakhir kali kamu bertemu dengan sahabatmu? Aku penasaran apa yang akan kalian bicarakan. Dan kapan kita akan bertemu, Ranum? tapi, aku rasa kita tak harus bertemu raga. Dalam surat-surat kita, jiwa kita bertemu dan bertaut. Bukankah, begitu? Tapi tetap saja, sih, aku ingin sekali bertemu denganmu. Lalu kita akan berbincang hingga lupa waktu, atau berjalan jauh, atau duduk dekat jendela sambil menyeruput kopi buatanmu.

Ngomong-ngomong, apakah kamu mudik? Kau lihat di berita, kan, betapa menghebohkan peristiwa mudik tahun ini. banyak yang menderita karena terjebak macet berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Aku dan keluargaku mudik juga, tapi tak kena macet karena kami naik pesawat. Sebenarnya yang mudik hanya orangtuaku, sedangkan aku hanya mengikuti mereka. Tapi, aku sangat menikmati perjalanan mudik. Aku telah jatuh cinta kepada tanah kelahiran orangtuaku. Aku meresapi perjalanan dari bandara menuju rumah nenekku (Kakekku sudah meninggal). Untuk sampai di rumah nenek, kami haru melewati pegunungan. Dan aku menyukai setiap kelokan dan setiap bentuk rumah yang aku lewati. Ada suasana menyenangkan di desa nenekku. Setiap pohon jati seolah menyambut kami. Dan di rumah nenek sudah banyak saudaraku yang lain.

Di kampung ayah ibuku, selalu ada hiburan rakyat di libur lebaran. Mungkin orang dari kota banyak membawa uang lebih sehingga mampu menyewa hiburan. Aku menonton tarian yang menceritakan asal-usul daerah itu, dan aku menyukai salah satu penarinya. Aku memang sangat suka penari yang dapat menari dengan seluruh jiwanya, Ranum. Penari itu masih muda, lelaki, ia memerankan salah satu pendekar. Gerakannya memeseonaku, Ranum. Gerakan tangan, posisi kaki, kepala, dan badannya semuanya indah!

Aku bukanlah penari, dan aku tidak dekat dengan dunia tari. Ayah, ibu, atau saudaraku tidak ada yang penari. Tapi aku suka melihat orang menari. Aku jadi ingat, lelaki pertama yang aku sukai adalah penari di kampung ayah ibuku. Dia jauh lebih tua dariku. Dulu aku sekitar umur enam tahun, dan dia sudah remaja. Dia penari dan memang sering tampil di perhelatan. Dia bukan penari profesional, hanya penari biasa saja. Penari kampung. Tapi aku terpesona oleh tariannya.

DSC_0040

ini penari yang tariannya aku suka. Ia masih sangat muda 🙂

Kakekku pernah memiliki seperangkat gamelan, dan gamelan itu dimainkan setiap malam jumat dan malam minggu. Dia selalu datang ke rumah kakekku, bukan untuk bermain gamelan, tapi ia melayani pemain gamelan. Biasanya lelaki yang sudah berumur yang bermain gamelan, dan para pemuda yang mengantarkan penganan kecil dan minuman, entah teh atau kopi. Aku senang sekali melihatnya di rumah kakekku. Waktu kecil, aku takut sekali dengan suara gamelan. Suara gamelan membuat aku merasa kecil dan asing. Tapi kehadiran dia membuatku berani keluar kamar. Hahahahaha. Cinta monyet kalau kata orang.  Dia cepat akrab denganku. Aku rasa dia menyukai anak kecil. Aku masih ingat, suatu malam dia dan aku duduk di halaman. Desa kakekku dulu masih terbelakang, belum banyak listrik. Langit malam benar-benar terlihat sangat indah dari sana. Aku dan dia memandang ke langit. Aku menyukai langit malam yang penuh bintang, dan dia berkata “Kamu mau balik ke Jakarta? tinggal di sini aja. Di sana gak ada bintang kayak di sini.” Dan kenangan itu masih menempel kuat sampai sekarang.

Orang yang aku suka itu kini entah di mana. Bintang juga sudah tidak terlalu kentara jika dilihat dari sana. sudah banyak polusi cahaya. Halaman rumah kakekku sudah banyak berubah. Tapi kenangan seprerti lem, menempel di sana-sini. Tapi mudikku kemarin bukan hanya sekadar menghidupkan kenangan, tapi juga mencari cerita baru. Aku bertualang, Ranum. meski hanya di desa dan masih dekat saja. Tapi aku menemukan hamparan sawah yang indah sekali. Aku pergi pagi-pagi sekali, dan aku melihat matahari terbit di persawahan yang dikelilingi bukit-bukit ijau, dan di sela bukit-bukit itu masih terdapat kabut. Aku ingat, pagi itu langit jingga lembut. Petani mulai berdatangan ke sawah dan aku sangat-sangat menyukai momen itu.

Aku melanjutkan perjalanan, kali ini agak jauh. Untung aku naik motor bersama adikku (Aku tidak bisa mengendarai motor), jadi tidak terlalu melelahkan. Aku sampai di bendungan yang terbentuk dari mata air. Bendungan itu indah sekali, Ranum. Sungguh! Ia dikelilingi bukit hijau, airnya juga hijau, ada teratai di salah satu sisisnya yang jauh dariku. Matahari mulai naik, tapi masih lembut. Dan aku menikmati mandi cahaya matahari pagi di sana. Bendungan itu masih sangat sunyi. Mungkin karena masih pagi. Kamu harus ke sana, Ranum. kamu pasti suka! Tapi kalau aku tinggal di sana terus menerus, mungkin aku tak akan begitu meresapi keindahannya. Orang desa yang dibawa ke kota penuh gedung indah saat malam hari juga pasti menyukai kota. Ya begitulah, kita lebih tertarik pada yang asing.

Aku baru selesai membaca buku Emansipasi, kumpulan surat-surat Kartini, terjemahan Sulastin Sutrisno. Dulu aku pernah membaca yang versi tahun 1970-an, tapi sepertinya lebih tipis dari yang sekarang. Kartini adalah salah satu idolaku. Dulu aku terpesona pada pemikirannya yang jauh melampaui wanita pada masanya. Ia sudah memikirkan tentang ketidakadilan yang dialami wanita jawa karena poligami, dan betapa berkuasanya lelaki. Ia sangat menyukai sastra dan dapat memahami keindahan hidup. Ia menceritakan ironi yang ia lihat dan ia sangat pandai menyampaikannya. Tulisannya beberpa kali dimuat di majalah Belanda. Dan dia sebenarnya tahu bahwa tullisannya hanya dipakai iklan bagi majalah-majalah itu untuk menarik pembaca. Kartini adalah wanita yang cerdas. Dia sangat menghargai pendidikan. Dialah yang mengatakan bahwa seorang wanita perlu mendapat pendidikan karena dari perempuanlah anak-anak lahir dan pertamakali mendapat pendidikan. Aku ingat kata-kata Kartini “Tidak menyimpan dendam, itulah kebahagiaan yang sebenarnya.”

Tetapi, kini, selesai membaca surat-suratnya, aku merasa sedih. Aku mengerti kesedihan yang menyelimuti Kartini. Dia sangat ingin membuat sekolah untuk para perempuan. Untuk itu, ia berkeras untuk mendapatkan pendidikan sebagai guru di Belanda. Akhirnya pemerintah mengabulkan permintaannya ini, tetapi ayahnya sakit dan tidak mengizinkan Kartini pergi ke Belanda. Akhirnya ia dan adiknya batal pergi ke Belanda. Alih-alih ke Belanda, Kartini dan adiknya, Roekmini, akan pergi ke Batavia. Di Batavia dia akan mendapat pendidikan sebagai guru. Mengingat status Kartini sebagai anak Bupati, pergi ke Batavia masih merupakan hal baru. Tapi ternyata ia juga batal ke Batavia karena ia menikah dengan Bupati Rembang. Dan ironisnya, ia menjadi istri kedua padahal ia berkali-kali bersuara keras menentang poligami. Hal ini aneh sekali. Tapi Kartini selalu meninggikan suaminya dalam surat-suratnya. Satu-satunya cita-citanya yang tercapai adalah ia memiliki sekolah yang awalnya ia buka di Jepara, lalu kemudian setelah menikah ia buka di Rembang. Aku merasa batalnya kepergian Kartini ke Belanda atau Batavia merupakan hal yang sudah direncanakan. Memang sulit untuk menjadi pemula. Kasihan Kartini, tapi setidaknya ia telah memiliki sekolah dan mengajar beberapa anak perempuan.

Aku ingin seperti Kartini. Ia memiliki kata ajaib untuk mnjaga semangatnya, yaitu “Aku mau!”. Dan aku menyukai karakter Kartini yang terbuka dan rendah hati. Tapi Kartini tetaplah wanita Jawa. Ia merendah dan menyembunyikan kesedihannya yang terdalam. Membaca surat-suratnya seperti memasuki hatinya, pikirannya. Tapi aku sedih karena sejak awal aku tahu ia tidak akan ke Belanda dan akan menjadi istri kedua Bupati Rembang. Jangan-jangan nanti kalau aku sudah meninggal dan cucuku membaca surat-suratku untukmu dia juga akan merasa memasuki hidupku. hahahahaha.

Maafkan aku, Ranum. Suratku kali ini tidak menarik dan terlalu panjang. Aku juga tidak tahu kenapa begitu. Aku sedang menulis cerita pendek tentang kura-kura. Entah apakah tulisan itu akan selesai atau tidak. Aku hanya ingin menulis tentang kura-kura dan itu tiba-tiba. O iya, waktu mudik, aku main ke pantai sepi yang indah. Kapan-kapan aku ajak kau ke sana.

20160710_065556

Akan kubuatkan satu sajak yang isinya deburan ombak hanya untukmu. Bahagialah, Ranum.

 

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s