Dongengkan aku

Apa yang kamu harapkan dariku? Aku terperangkap waktu yang semakin keras. Dongeng sudah tidak laku lagi di duniaku. Banyak yang sudah lupa pada dongeng. Memang, ada beberapa yang masih mendongeng. Tapi dongeng hanya ada di dunia anak-anak yang belum diperangkap waktu. Manusia dewasa semakin hari semakin gersang. Banyak hidup yang bergerak sesuai tiktoktiktok jam. Pukul segini harus begini, lalu pukul segitu harus begitu.

Ada segelintir manusia dewasa yang terlihat bebas, pukul segini di sana, pukul segitu di tempat lain lagi. Ada yang memotret senja, lari anak-anak, atau ikan paus. Ada yang menulis tentang gurita raksasa di tengah kota sambil menyeruput teh hangat di teras rumah tanpa harus tergesa. Tapi kebanyakan dari manusia dewasa diperangkap waktu. Dan aku sebenarnya rindu sekali pada sebuah dongeng yang bebas dan liar.

Dulu ibuku terbiasa mendongeng, tapi kini tidak lagi. Jadi, maukah kau mendongengkanku tentang kuda-kuda gagah yang berlari bebas di padang rumput, Pengelana? Dengan surai yang bergerak karena derapnya yang liar dan dipermainkan angin. Aku ingin menjelma kuda dan berlari di padang rumput. Aku ingin berlari bebas.
Atau dongengkan aku tentang sungai yang mengalir dari gunung hingga bermuara ke laut. Ceritakan aku keadaan di antaranya. Tentang sawah hijau, hutan lebat, atau kampung kumuh. Aku ingin mengalir dengan tenang, lalu ganas, lalu  ke laut. Aku ingin mengalir, Pengelana, bukan tergenang.

Tapi aku terjebak banyak hal di sini. Aku terikat oleh banyak hal. Sudah siapkah aku mengalir atau berlari bebas meninggalkan semua yang terikat di sini? Aku rasa aku belum sanggup. Makanya aku tidak bisa menjadi pengelana sepertimu. Apakah yang kau harapkan dariku, Pengelana? Aku tidak dapat pergi dari rutinitas. Aku tidak bisa kabur begitu saja dari segala sesuatu yang mengikatku di sini. Aku tidak bisa. Aku memiliki tanggung jawab pada segala yang terikat padaku. Dan aku tidak akan lari hanya karena bosan.

Sesekali aku memang pergi, tapi aku selalu kembali. Aku selalu pulang. Kamu pulang ke mana, Pengelana? Pulang bagiku adalah kembali untuk memeluk kenangan. Apakah arti pulang bagimu yang selalu pergi? Pernahkah kau merindukan seseorang dalam perjalananmu? Apa kau telah berhasil memerangkap waktu? Tapi menurutku tak ada satu pun di antara kita yang mampu memerangkap waktu. Ia berkuasa atas segala yang ada dalam ruang. Dan kita jelas-jelas berada dalam ruang. Sebelum kau pergi, Pengelana, dongengkan aku tentang matahari terbit di pegunungan atau di mana saja. Tentang langitnya yang berubah warna dari gelap menjadi biru. Setelah itu, baru kau boleh pergi.

Advertisements

2 thoughts on “Dongengkan aku

  1. Baguus tulisannyaa…

    Akan lebih bagus lagi kalau diberi spasi/jarak antar paragraaf, pembaca akan lebih mudah memahami kata demi kata yang sarat makna ini, keep writing! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s