Peredam Gelisah

Terlalu banyak pertanyaan untuk terlalu sedikit jawaban
-Albert Camus-

Kau yang paling tahu betapa banyak pertanyaan yang bergumul di kepalaku. Kau yang paling tahu keraguan macam apa yang menyekat dadaku. Dan Kau yang paling luar biasa meredam semuanya. Lewat mimpi kau redam kegelisahanku dengan pertanyaan lain yang lebih besar dan lebih luar biasa. Kadang bahkan kau beri aku jawaban untuk pertanyaan yang belum terlontar.

Tapi aku ragu bahwa Kaulah yang menyelinap masuk ke dalam mimpi-mimpi terdalamku. Kenapa Kau sudi masuk mimpi orang yang banyak ragunya ini? jangan-jangan itu sebagian dariku yang ingin meredam sebagian yang lain. Tapi aku sungguh berharap itu Kau karena damai yang kurasakan dalam mimpi begitu nyata, bahkan terasa lebih nyata dari kebahagiaan yang kuciptakan.

Pernah ada yang berkata di mimpiku-yang aku harap itu Kau- “Kau harus selalu jujur tentang apa yang kau rasakan, apa yang kau miliki.” hingga saat ini aku masih berusaha jujur. Dengan jujur kepada diri sendiri, aku belajar bersyukur dan menerima diriku seutuhnya. Memang menenangkan, tapi tak mudah. Kadang aku tidak bisa menerima kekuranganku, kekosonganku, kebodohanku. Tapi harus kuterima. Masih kuingat kata-kataMu itu. Setidaknya kuharap itu kata-kata dariMu.

Aku ingat mimpi di antara lonceng-lonceng besar yang berdentang dan bergema syahdu. Di mimpi itu tak ada Kau. Tapi ada doa yang ikhlas; dan aku ingat Kau. Suara lonceng itu masih terasa dalam dadaku ketika aku terjaga. Aku yakin Kau menyayangiku lebih dari Aku menyayangimu.

Terima kasih karena mengirimku ke dunia yang penuh dengan orang-orang baik. Paling tidak, aku dikelilingi oleh orang-orang baik. Aku selalu merasa disayang oleh mereka, dan aku selalu menyayangi mereka. Kau kirimi aku seorang kakak yang mampu meredakan gelisahku, yang selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku harap ia tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan remehku. Kau juga kirimi aku teman-teman yang menyayangiku. Setiap penat menyerang, aku akan datang ke mereka dan mereka akan melahirkan tawa. Tawa yang mereka hadirkan mampu melelehkan penat yang mengepung. Dan yang paling aku syukuri adalah keluarga yang sangat-sangat menyayangiku. Aku juga sangat menyayangi mereka. Aku belajar banyak hal dari keluargaku. Terima kasih untuk itu semua.

Aku memang bukan orang baik, tapi aku menyayangiMu. Sungguh. Mungkin aku memang terlihat jauh darimu, tapi aku tahu Kau selalu di dekatku. Ini surat pertamaku untukMu. Picisan memang. Isinya jauh dari bermutu. Kuharap Kau sudi membacanya.

 

Salam tersayang,

Pengagummu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s