Aku Sungguh-Sungguh Ingin Menulismu

Aku ingin menulismu. Sungguh. Di antara kerinduan, ketakutan, dan kejengahan atas hidup yang bergelora, aku ingin sekali meluangkan waktu untuk menulismu yang senantiasa tenang dalam kegelisahan. Menggambarkanmu dengan katakata yang kutahu tak pernah cukup.
Tapi apa yang dapat kutulis? Kata -kata sudah mulai memberontak dan tak masuk akal. Pada hujan yang indah, mereka memilih berbaring dan tak ada yang ingin merangkai diri. Padahal gagasan tentangmu utuh dalam kepalaku. Tentang desah lembut nafasmu ketika kuceritakan mimpi paling liar dan deru detak jantungmu ketika pagi tiba dan percakapan harus berakhir.

Katakataku kini pembangkang. Kadang, pada malam yang sepi mereka bangkit, meminta diri untuk dirangkai. Mereka ingin bercerita tentang ketakutan katanya. Kan itu sialan namanya! Aku sedang ingin tenang, mereka malah bangkit. Tanpaku, mereka bisa apa? Tapi aku juga tahu diri, tanpa mereka aku jadi apa? Hubungan antara aku dan kata-kataku kini  rumit. Mereka beranak-pinak dalam kepalaku, membaca gagasanku, lalu menjelmakannya. aku ingin berkata bahwa akulah pencipta mereka. Tapi merekalah sebenar-benarnya pencipta cerita. Bagaimana menurutmu?

Aku rasa mereka hanya cemburu. Aku rasa demikian. Dulu aku sempat pandai menulismu, lalu mereka cemburu dan memberontak. Tapi tak apa, aku tahu nanti mereka akan baik-baik saja. Kamu baik dan pecinta cerita, bagaimana mereka dapat membencimu? Kamu selalu terkagum-kagum jika mereka berpamer diri.
Atau jangan-jangan mereka hanya bosan padamu. Bisa jadi, kan?

Akhirnya aku memilih menapakimu saja. Tidak seutuhnya kamu, memang. Aku menapaki jalan yang di atasnya ada sebagian darimu yang terlarut. Tentu saja, di atas jalanan itu ada banyak larutan hidup orang lain yang entah siapa. Di antara larutan-larutan hidup  orang yang saling berkelindan itu, aku memilih menapakimu. Dalam setiap tapakku, kau menderai dalam badai tenang jiwaku. Kamu ini apa sebenarnya? Penyihir? Aku selalu berharap kamu penyihir, tapi kamu hanya manusia yang terlalu indah dan aku tersedot dalam pesonamu yang hampa.

Kalau saja dulu kita tidak menapaki bersama jalan yang rindang itu, kini aku tak akan menapakimu. Kalau kupikir-pikir, kenangan itu sialan juga. Sudah deras hujan turun di atas jalan itu, kenanganmu tak juga hanyut tersapu badai. Dia lebih kekal dari angin kurasa. Tawamu jarang berderai, tapi senyum sering terkembang. Aku mabuk dalam senyummu. Kini kamu hilang. Jangan-jangan kamu memang penyihir? Tapi tak ada penyihir dalam dunia kita, yang ada hanya penyair.

Dan penyair itu seperti penyihir bagi huruf dan kata. Ia bisa menyihir kata menjadi seringan angin dan berhembus merasuk ke dalam jiwamu. Atau mengubahnya menjadi monster menakutkan yang meneror mimpi-mimpimu. Kata-kata itu bisa melesat terbang selincah burung gereja di tangan penyair. Tapi di tanganmu, kata-kata berubah menjadi kejelasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s