Perbincangan Ruang Tamu

Semalam Angin berkata padaku, “Yang kau rindukan akan segera datang padamu esok.” Bukan main senangnya hatiku. Sudah berapa purnama kita tak saling tatap? Sudah berapa pelangi kita lewatkan? Aku terlelap dalam senyum. Aku lupa, bahagia tak pernah kekal. Kamu memang sering membuatku lupa diri. Aku membayangkan wajahmu dan kujelmakan sosokmu dalam mimpiku. Di dalam mimpiku, kamu tersenyum di pagar, aku tersenyum di dalam ruang tamu, melihatmu.

Sesiangan tadi aku bertanya-tanya, kapan kamu akan datang di rumahku? Sedari pagi jantungku sudah berdebar tidak keruan. Mungkin begini rasanya jika rindu akhirnya akan menemukan obatnya. Iya, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Bukankah kamu juga mengetahuinya? Setiap malam, kutitipkan rinduku pada bulan. Dan jika awan sedang ingin menyimpan bulan untuknya sendiri, kutitipkan rinduku pada angin.

Akhirnya sore. Matahari tidak pernah terik hari ini. Langit gelap, tapi tak menangis. Kapan kamu akan datang? Sudah kusiapkan kudapan kesukaanmu, singkong goreng dan teh manis. Kapan kamu datang? Senyumku diselingi gelisah. Tapi akhirnya kamu datang ketika senja menjemput malam. Betapa bahagia melihatmu. Senyumku tak dapat kusembunyikan. Kamu menatapku, teduh. Kulihat senyum tipismu. Kamu memang selalu tersenyum tipis. Dan itulah yang kusuka darimu.

Kau membuka pagar rumahku, lalu berjalan menuju ruang tamu. Aku berdiri di pintu ruang tamu, tak mampu berkata-kata. Pintu ruang tamu dan pagar berhadapan tak seberapa jauh. Betapa jelas sosokmu kini kulihat. AKu yakin ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Kau menatapku lagi. Teduh sekali. Dan kau menyapaku, “ Hai. Selamat senja.” Aku tak mampu membalas dengan kata. Senyumku masih saja mengembang.

Seperti pertemuan yang dilakukan oleh manusia lainnya, kita selalu memulai pertemuan dengan ucapan biasa, seperti “Hai”, atau “Halo”, atau sebuah senyuman. Kita tidak pernah memulai pertemuan dengan hal-hal yang di luar kebiasaan, misalnya dengan sebuah ciuman ganas atau bahkan tangisan menggebu. Tapi sebenarnya sebuah pertemuan tak selalu dibuka dengan perasaan senang, ada kalanya sebuah pertemuan dibuka dengan sedih atau bahkan geram. Semua perasaan itu harus ditutupi oleh hal-hal biasa, basa-basi, agar semua terlihat normal. Bukankah begitu?

Kita duduk di ruang tamuku. Ruang tamuku tak seberapa besar. Ruangan persegi dengan dua buah kursi tamu dan sebuah meja. Di meja yang tak seberapa besar itu kusediakan kudapan kesukaanmu, singkong goreng dan teh manis yang tentu kini telah dingin. Lalu kita berbincang.

“Tak ada lagi bunga di tengah meja kecil ini?” tanyamu.

“Sepengelihatanmu?” jawabku.

“Ternyata banyak yang berubah pada ruang tamu ini. Dulu belum ada lukisan kecil menggantung di dinding itu. Lukisan siapakah itu?”

“Lukisan temanku. Hadiah untuk ulang tahunku.”

“Ah, maaf. Tak ada hadiah dariku untukmu di hari ulang tahunmu.”

“Tak apa. Aku hanya butuh kehadiranmu.”

“Bahkan aku tak dapat hadir di hari itu.”

“Tak apa. Sudah cukup kau beri aku bahagia sebelum itu.”

Lalu kita berdua terdiam. Aku sibuk dengan pikiranku. Kamu entah memikirkan apa. Kita berdua memang terdiam, tetapi rasa-rasanya tak ada yang kurang. Ternyata diam berdua denganmu juga merupakan sebuah kenyamanan. Di luar rimis. Sebentar lagi pasti akan deras. Dalam beberapa menit, malam sampai pada tempatnya seutuhnya. Kita masih diam. Kita berdua memandang halaman depan rumahku yang kecil tapi rimbun itu. Aku tahu kamu suka sekali dengan bougenville di halaman depan rumahku. “Karena warnanya ungu.” Begitu dulu kamu bilang padaku. Pikiranku berisik. Tapi kita masih saja terdiam.

“Ternyata bahagia tak pernah kekal.” ujarmu tiba-tiba, membuka percakapan.

“Lalu apakah yang kekal?” jawabku.

“Itulah pertanyaanku. Apakah yang kekal?”

“Belum kamu temukan jawabannya?”

“Belum. Itulah sebabnya aku kembali padamu.”

“Kenapa? Aku juga tidak mengetahui jawabannya.”

“Iya, aku tahu. Aku ingin mencari jawabannya berdua denganmu.”

“Tapi kita pernah bersepakat bahwa semua pertanyaan dapat mencari jawabnya sendiri.”

Kamu kembali terdiam. Senja padam. Malam hujan. Kita masih di ruang tamu rumahku. Kita pernah bersepakat tentang akhir. Kita telah lama mengetahui luka dan getir akan menyambut kita pada akhir. Kita sadar apa yang kita pilih, apa yang akan kita lalui. Tapi hal itu tak lantas mematikan kita, mematikan rasa. Kita pernah terlarut dalam kata. Kita seringkali melarutkan rasa dalam kata–gelisah, rindu, jawaban. Kita pernah terbuai dalam lirik lagu kesukaanmu yang kini telah menjadi lagu kesukaanku. Kita pernah tertawa bersama. Hal-hal itu yang membuat akhir tidak terlalu menakutkan.

Tapi sesungguhnya aku tahu alasan kenapa kamu datang ke rumahku sore ini. Kamu datang bukan untuk mencari jawaban tentang sesuatu yang kekal. Sama sekali bukan. Kamu tidak pandai berbohong. Ketika kukirim rinduku padamu, kamu sedang berjalan ke Timur, dan aku sedang berjalan ke Barat. Kamu dahulu pernah berkata, “Aku akan berjalan ke Timur dan kamu ke Barat. Kalau kita tetap berjalan lurus dan tidak singgah atau berhenti, kita akan bertemu lagi.”

Aku mengerti, itu adalah salam perpisahan karena kita berdua sama-sama tahu pertemuan yang seperti itu tentu memakan waktu yang sangat lama–atau bahkan mustahil. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mulai mengirimimu rinduku. Lalu kamu datang ke rumahku. Mungkin bukan hanya aku yang merindukanmu, mungkin kamu juga merindukanku. Tetapi kamu tidak pernah menyatakannya. Kamu sangat menyukai diam.

“Aku merindukanmu.” Begitu saja perkataan itu meluncur dari mulutku dan sampai pada telingamu meski aku tak tahu apakah juga sampai pada hatimu.

“Aku tahu.” Hanya itu jawabmu

“Apakah rindu memang harus dibayar tuntas?”

“Aku tak tahu. Yang aku tahu hutanglah yang harus dibayar tuntas. Apakah rindu semacam hutang?”

“Hutang rasa barangkali.”

“Ah, kalau begitu apakah kamu berhutang padaku? Aku tak pernah meminjamkan rasa padamu. Aku memberimu rasa. Jadi semestinya rindumu itu tak perlu kau bayar. Lagipula, dengan apa rindu harus dibayar?”

“Tentu saja dengan perjumpaan dan perbincangan.”

“Jadi, kau sedang membayar rindumu saat ini?”

“Bisa jadi begitu. Tapi katamu tadi, rindu bukanlah hutang yang harus dibayar.”

“Iya juga. Ngomong-ngomong, Singkong goreng buatanmu enak sekali meski sudah dingin.” Katamu mengalihkan topik pembicaraan.

Aku melihatmu memakan singkong goreng yang sudah dingin. Aku merasa bersalah. Harusnya kusajikan makanan hangat untuk malam yang beranjak dingin ini. Oleh karena itu, aku beranjak ke dapur untuk membuat coklat panas kesukaan kita. Aku tahu kamu belum menyentuh teh itu. Tak apa. Aku tahu coklat panas memang bukan minuman yang cocok untuk menemani singkong goreng dingin.Tak apa, kita menyukainya.

“Coklat panas buatanmu nikmat sekali.” Ujarmu ambil mengaduknya dengan sebatang kayu manis.

“Semanis puisi?”

“Semanis puisi.”

“Bacakan aku sebuah puisi yang kau ingat.”

“Aku hanya ingat bagian akhirnya. Bagaimana?”

“Ucapkanlah.”

Pada Lupa kita juga akan jadi karib

“Goenawan Mohamad?”

“Iya. Kamu suka?”

“Aku lebih suka saat ini.”

“Aku sangat suka matamu.”

“Pernah kamu temui yang lebih indah dari puisi?”

“Banyak.”

“Pernah kamu memuisikannya?”

“Hanya dalam ingatan.”

“Bagaimana kalau terlupa?”

“Pada Lupa kita juga akan jadi karib, kata penyair itu.”

Dan perbincangan bergulir seiring rotasi bumi yang tak pernah berhenti. Tapi waktu menjadi anomali saat ini. Ketika kata-kata mengalir dari mulut kita, lalu diam tercipta di sela-selanya. Waktu seakan membatu, membeku, tak bergerak. Kita kekal dalam perbincangan yang dibungkus rindu. Hujan masih saja deras. Kita masih saja di ruang tamu. Malam makin padam. Sebentar lagi terang. Kita tutup malam dengan pelukan hangat. Kita sambut pagi dengan genggaman erat. Tentu banyak harapan tentang kita mencuat di sana-sini ruang hati, tetapi akal meredam banyak harapan kosong.

Di ruang tamu ini kita berdua saja memang, tapi aku merasa penuh, merasa lengkap. Bagaimana kamu yang seorang saja dapat melengkapiku? Aku tak menemukan jawabannya. Kurasa tak perlu juga kuketahui jawabannya. Tak semua membutuhkan jawaban, kan? Akhirnya kita harus meneruskan perjalanan kita masing-masing. Kamu ke Timur dan aku ke Barat. Aku rasa aku tidak akan berkarib dengan Lupa. Aku tidak ingin berkarib dengannya. Kalau nanti ternyata kita tak bertemu, apakah yang lebih dapat kuandalkan selain ingatan? Selamat jalan, kamu yang selalu gelisah mencari-cari. Semoga bertemu apa yang harus kamu temukan. Hujan telah berhenti, langit lazuardi membayangi setiap langkahmu yang menjauh, yang kupandang dari teras rumahku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s