Ranum, Akhirnya Aku Menulis Untukmu lagi

Pagi, Ranum. Sudah beberapa minggu ini aku tidak menulis untukmu. Aku tidak menulis karena memang tidak ada yang ingin kutulis. Tidak ada cerita yang ingin kubagi denganmu. Bukan karena aku melupakanmu, tapi karena memang tidak ada yang menarik dari hidupku. Aku tergilas dalam rutinitas yang rajin. Tapi dua hari belakangan ini aku mengalami hari yang di luar kebiasaan.

Kamu kan selalu tahu betapa aku buta tentang filsafat, tapi dua hari lalu aku dipaksa mengerti filsafat. Bukan secara keseluruhan, tapi hanya filsafat absurdisme Albert Camus. Menurut Camus, manusia absurd adalah manusia yang terjerat rutinitas, seperti cerita Sisiphus dari Yunani yang dikutuk untuk selalu mendorong batu sampai atas bukit hanya untuk kembali mendorongnya lagi dari bawah, begitu juga manusia. Manusia lahir dan hidup di dunia hanya untuk mati. Dan di hidupnya, manusia memiliki rutinitas yang selalu dilakukannya hingga ia mati dan itu adalah hal absurd menurut Camus. Untuk itu kita harus memberontak. Tapi bukan dengan bunuh diri karena itu sama saja dengan menyerah. Kita hanya dapat memberontak bahwa kita sadar kita terjebak rutinitas dan kita harus selalu bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, terhadap keputusan-keputusan yang kita ambil atas diri kita. Aneh sekali, ya, pemikirannya? Hahaha

Lalu malam harinya aku menonton teater yang melakonkan karya Arifin C. Noer yang berjudul Sumur Tanpa Dasar. Aku belum pernah membaca naskah drama itu sebelumnya, tapi aku tahu kekuatan drama Arifin ada pada kata-katanya. Drama itu berkisah tentang lelaki kesepian yang selalu bertanya dalam hidupnya. Ia tidak pernah tenang. Aku menyetujui banyak hal dari ucapan-ucapannya. Hal itu menerbitkan kegelisahanku. Aku bertanya-tanya selalu, apakah aku bisa bahagia? Apakah aku cukup manusia? Untuk apa dan siapa aku melakukan hal-hal yang aku lakukan selama ini dalam hidupku? Tapi di akhir pementasan aku paham bahwa bahagia dapat dikondisikan. Hidup tak selalu bahagia dan tak selamanya menyedihkan. Sudut pandang dan pola pikir selalu bisa diutak-atik. Hal yang paling penting adalah aku sadar tetang apa yang aku pilih, aku tahu apa yang aku mau, dan aku harus menghidupi hari ini dengan hidup yang penuh. Yang penting adalah kesadaran. Aku mendadak eksistensialis. Hahahaha.

Aku menonton teater tersebut bersama sahabat-sahabatku. Sebenarnya pementasan teater itu juga menjadi ajang kumpul dengan teman lama. Aku sudah lama tidak berkumpul dengan sahabat-sahabatku itu. Kami pulang bersama dan banyak sekali tawa berhambur. Aku rindu mereka ternyata. Bahagia sekali memiliki mereka dalam hidup. Kali ini aku setuju dengan kalimat Mas Kecak, seniorku di kampus “jarak menghidupkan hasrat”.  Karena jaraklah pertemuan kemarin lebih berarti. O iya, kami tak bisa masuk ke perumahan kosanku karena portalnya sudah ditutup, jadi kami menghabiskan sepertiga pagi di sebuah restoran 24 jam. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari pementasan yang baru kami tonton hingga masalah hidup lainnya. Dengan mereka aku dapat tertawa lepas. tawa yang berderai ternyata mengurai jenuh yang mengendap. Tapi aku yakin, Ranum, kalau kamu bertemu sahabat-sahabatku itu, kamu akan geleng-geleng kepala. Persahabatan kami tidak manis. Kami jarang mengeluarkan kata rindu, jarang memuji, tapi kami tahu kami saling menyayangi dan mendukung.

Hari itu aku tidur pukul 4.45, lelah tapi bahagia. Kami terjaga sekitar pukul 9. Akhirnya kami sarapan bersama di kamarku setelah bertahun-tahun tidak melakukannya. Sarapan bersama mungkin menurutmu biasa saja, tapi tidak bagiku. Aku pernah sarapan seorang diri dan aku tak dapat menghabiskan porsi makanan yang biasanya aku santap. Biasanya aku makan dengan teman sekamarku, begitu ia pergi dan aku sendiri, ternyata aku tak selahap biasanya. Bukan aku berlebihan, tapi memang begitu kenyataannya. Aku tak kesepian, tapi dalam sendiri ternyata yang sedikit bisa menjadi cukup dan yang biasanya cukup ternyata berlebihan.

Siang harinya aku membantu salah satu sahabatku mengepak barang-barang karena ia akan pindah kosan. Kosan dia dekat dengan kosanku, tapi pertemuan jarang kami lakukan. Hal itu karena rutinitas kami yang tak sejalan. Kamarnya pernah akrab denganku. Aku dulu sering menginap di sana. Ternyata melihat kamar itu kosong dan menyadari temanku akan pergi, aku jadi sedih. Satu per satu temanku akhirnya pergi, meneruskan jalan yang telah mereka pilih. Aku tahu aku selalu dapat menemuinya, tapi menyadari jarak kami yang semakin jauh, ternyata sedih juga. Aku mendapat rak buku dari kosannya.

Aneh sekali sebenarnya, aku sudah ingin membeli rak buku sejak beberapa bulan yang lalu, tapi aku selalu mengurungkan niat. Tiba-tiba saja yang kubutuhkan datang sendiri padaku tanpa perlu aku cari dengan cara yang sungguh tidak terdugu. Hidup memang suka seperti itu, sih. Apakah kamu setuju? Tapi aku yakin kamu tak setuju. Kamu kan selalu berpikir bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Tapi kalau kupikir-pikir, itu bukan kebetulan, tapi ternyata apa yang aku lakukan tanpa sadar telah membuatku mendapatkan apa yang kubutuhkan. Mungkin di dalam ketidaksadaranku itu aku berusaha. Hahaha. Kamu pasti kesal membaca pernyataanku yang terakhir, kan? maafkan kalau pernyataanku seringkali tidak jelas maksudnya. Tapi kamu kan sudah terbiasa. Hehehe.

Sore harinya aku ke kampus untuk melihat penampilan salah satu sahabatku. Dia menyanyi malam itu, dan sahabatku yang lainnya bermain gitar. Aku menyukai momen-momen bersama mereka. Aku akrabi petikan gitar dan tarikan suara sahabatku yang indah. Tapi sebelum merelihat mereka, aku melihat penapilan kuda kepang Banyumas di kampusku. Aku bahagia menyaksikan kesenian itu. melihat pertunjukan itu membuatku merasa akrab dengan kampung halamanku. Kuda kepang Banyumas mirip dengan Jathilan di kampungku. Aku bahagia sekali katena tidak menyangka ada pertunjukan itu sebelumnya.  Menonton mereka menari, aku seperti melihat rakyat pada umumnya. Kesenian itu seperti milik rakyat sepenuhnya, bukan kesenian priyayi seperti sendratari atau tari-tari halus lainnya.

Sebenarnya aku ingin menulis lebih baik dan lebih banyak tentang tarian ini, tapi kepalaku penuh dan aku masih payah untuk merapikan apa yang berkecamuk dalam kepala dalam bentuk kata-kata seperti ini, Ranum. Maaf aku yang bodoh ini sehingga kamu pasti kesulitan memahami maksudku.

Kamu mengerti, kan, sekarang kenapa aku bilang dua hari ini di luar kebiasaan? Dalam dua hari ini aku seperti dibangunkan dari tidur nyenyakku. Pikiranku kembali hidup. Aku berpikir lagi tentang makna, tentang diri, tentang manusia, tentang yang ada dan akan berakhir, tentang rindu, tentang kebahagiaan.

Maafkan aku untuk surat panjang dan tidak teratur ini, Ranum. Aku senang kamu selalu mau membaca suratku. Ceritakanlah aku tentang sungai dan bukit hijau di suratmu berikutnya, ya. Aku rindu mereka. Atau tentang pohon dan kumbang. Aku rindu ceritamu. Sehat-sehat dan bahagialah, Ranum.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s