Kutipan Cerita dalam Kepala: Percakapan

 

DSC_0057

Gadis itu membuka telepon genggamnya. Menekan nomor-nomor, lalu berbincang dengan teman baiknya di seberang sana.

“Aku kesepian. Temani aku mengobrol.”
“Memang kau sedang di mana? Jangan merasa kau seorang diri. Kan kau punya teman.”
“Di danau tempat biasa.”
“Di danau sepi itu? Pantas saja. Kau salah mengartikan sepi hingga merasa kesepian.”
“Lalu aku harus apa? Tolong temani aku.”
“Menemanimu di sana? berada di sisimu saat ini adalah suatu kemustahilan. Kita sudah beda kota.”
“Ah, sebenarnya kita tak hanya beda kota. Kita berbeda dalam banyak hal.”
“Termasuk dalam cinta? Hahahaha”
“Mungkin saja. Kau mencintaiku tidak?”
“Memang kau tahu apa itu cinta?”
“Sesuatu yang indah dan membahagiakan?”
“Mmm…begitu. Aku tak berani mengatakan aku mencintaimu karena cinta biasanya mempersatukan, sedangkan kita berjauhan begini.”
“Tapi aku menyayangimu. Aku masih merasa nyaman bertukar kata denganmu.”
“Lantas, apakah itu bisa disebut cinta?”
“Aku tak tahu”
“Mungkin kita juga berbeda dalam cinta”
“Mungkin juga tidak.”
“Mungkin begitu”
“Kau membuat pikiranku ramai.”
“Apakah jika pikiranmu ramai lantas kesepianmu hilang?”
“Entahlah. Tapi aku jadi merasa tidak terlalu sepi.”
“Baguslah. Berhentilah menunggu. Kau sudah terlalu lama menunggu.”
“Lalu aku harus apa? Mengejar?”
“Setidaknya, mulailah suatu perjalanan. Mulailah berjalan.”
“Sendiri?”
“Kau takut sendiri? Nanti kalau mati juga kita sendiri-sendiri.”
“Bicaramu ngawur. Aku takut kesepian.”
“Siapa yang bisa menjamin kalau kau tak akan kesepian jika berjalan dengan orang lain?”
“Entahlah.”
“Memangnya kau tidak pernah kesepian dalam keramaian?”
“Jadi maksudmu, sendiri lebih baik bagiku?”
“Bukan. Tentu saja aku berharap kau menemukan orang lain dalam perjalanan yang dengan senang hati menemanimu.”
“Baguslah.”
“Dan tentang kesepian, ia tak selalu pasti hadir dalam kesendirian. Kau bisa merasa penuh dan utuh dalam kesendirian. Sebaliknya, bisa jadi kau kesepian dalam keramaian.”
“Tapi aku tak pernah kesepian jika di sampingmu.”
“Lantas kau ingin aku menemanimu? Kau kan tahu itu adalah hal yang mustahil.”
“Berharap kan boleh saja.”
“Kau ini…kita sama tahu apa yang kita hadapi. Aku hanya dapat berdoa untuk kebaikanmu. Dan aku kira kamu harus tahu bahwa selamanya aku tak suka jika kau bersedih. Jadi, bergembiralah. Dunia mahabaik.”
“Ah, kamu manis sekali.”
“Jadi, masih merasa kesepian?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, pergilah dari danau itu. Mulailah berjalan.”
“Aku belum mau. Aku masih ingin sendiri. Dan kali ini aku tak akan salah mengartikan sepi.”
“Baiklah kalau itu maumu. Percayalah, di luar sana ada banyak orang yang menyayangimu.”
“Juga membenciku.”
“Selalu ada yang membenci jika ada yang menyayangi. Bukankah semua hal memang seperti itu?”
“Iya. Memang seperti itu. Tapi aku senang dengan pernyataanmu tadi. Aku selalu suka disayang.”
“Karena kau menyayangi banyak orang.”
“Mungkin begitu. Mungkin juga tidak.”
“Aau memang cinta sekali dengan kemungkinan.”
“Tidak. Aku mencintaimu.”
“Sudahlah, jangan berbohong.”
“Hahahahaha. Kau pandai sekali membacaku.”
“Kau adalah buku kesukaanku.”
“Dan kau adalah pembaca favoritku.”

***

Setelah percakapan usai, gadis itu kembali menikmati sepinya danau. Kali ini tanpa kesepian. Perbincangan dengan temannya telah membuatnya nyaman. Ia kini menunggu sore. Ia selalu menyukai sore. Angin berhembus. Di luar semestanya, kesibukan sedang terurai. Sore, permulaan untuk istirahat. Ia masih menunggu sore di danau sepi itu sambil memikirkan perjalanan yang akan ia lakukan.

Ia ingin pergi jauh dengan kereta, dengan pesawat, lalu berjalan dan menikmati keterasingannya. Mungkin besok di bangku pinggir danau yang kini ia duduki akan ada seseorang yang juga kesepian yang juga ingin pergi jauh. Saat itu, ia mungkin sudah di kota lain. Ia tidak benar-benar sendiri ternyata. Kini ia mengerti, sepi dan kesepian ternyata dapat dipisahkan. Ia lihat angsa-angsa yang sedari tadi berenang di danau. Betapa tenang. Ia kini merasakan apa yang dirasakan angsa-angsa itu

Advertisements

One thought on “Kutipan Cerita dalam Kepala: Percakapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s