Ranum…

Ranum, aku diburu gelisah. Aku diburu oleh kecemasan-kecemasanku sendiri. Betapa aku kerdil di tengah dunia yang mahaluarbiasa ini. Begitu banyak yang tidak aku ketahui, Ranum. Pram bilang, hidup hanya menunda kematian. Nah, kalau itu soalnya, bagaimana caraku menunda kematian. Harus diisi oleh apa hidupku yang kosong ini, Ranum? Tak selamanya waktu dapat dihabiskan untuk bersenang-senang, bukan? Aku seperti limbung kehilangan pijakan. Aku tertelan konvensi yang dibuat oleh orang-orang sebelumku. Tak sepenuhnya aku tolak konvensi itu, tapi aku menolak menjadi sapi perah yang hanya tahu mengikuti tanpa pernah bertanya kenapa.

Begitu banyak guruku di luar sana, yang sungguh sangat kukagumi. Aku selalu ingin seperti mereka. Sepertinya rasa penasaran mereka tak pernah habis. Mereka sangat peka terhadap banyak hal di dalam hidup ini. Aku juga ingin seperti itu. Tapi semakin hari aku semakin sadar banyak sekali kebodohan bersarang pada diriku. Dan aku sungguh sangat tidak peka. Aku gelisah, Ranum.

Suatu ketika dulu, aku pernah menyatakan gelisah yang serupa ini pada seorang teman baik. Ia berkata “Yakinlah kau telah berada di jalan yang tepat. Ini jalurmu. Kau hanya perlu membuka pintu lain di tahap barumu ini.”

Aku masih yakin aku berada di jalur yang tepat. Toh aku juga tidak bisa berbalik. Aku hanya gelisah. Kesal pada diriku sendiri dan bukan pada siapapun juga. Sedari dulu sebagian diriku selalu bertanya “Apa yang telah kau lakukan untuk hidupmu sendiri atas usahamu sendiri?” dan aku selalu dan selalu tergagap untuk menjawabnya.

Ranum, bukan maksudku mengganggumu dengan semua celotehanku ini. Tidak sama sekali. Dan aku sesungguhnya telah mengetahui bahwa jalan keluar ada di tanganku sendiri. Aku hanya ingin bercerita untuk sekadar mengurangi beban. Aku tahu, bebanku ini sungguh remeh dibanding beban orang lain di dunia ini. Misalnya saja pengemis yang tak kunjung keluar dari lingkaran pengemis meskipun ia ingin sekali berhenti dari pekerjaannya itu. Atau nelayan yang tak punya cukup modal untuk melaut. Atau koruptor yang bergelut dengan nuraninya yang belum sepenuhnya hilang. Atau negara yang menterinya sendiri bertengkar. Sungguh remeh memang masalahku.

Oleh karena itu, aku berterima kasih karena kamu masih mau mendengar celotehku yang remeh ini. Aku bahagia memilikimu. Bahagia dan sehatlah.

 

Salam Termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s