Blindness

jose saramago

 

Judul: Blindness
Pengarang: Jose Saramago
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Matahari
Jumlah halaman: 487

 

Pernah jatuh sakit karena tertular? Ada banyak penyakit menular di dunia ini, misalnya demam berdarah, flu, cacar, dan masih banyak lagi. Penyakit-penyakit menular tersebut dapat diobati dengan perawatan intensif di rumah sakit. Akan tetapi, bagaimana jika penyakit yang menular itu adalah kebutaan dan belum ada yang mengetahui penyebab dan obatnya? Tentu saja perkaranya menjadi lain.

Jose Saramago, penulis asal Portugis yang pernah memenangkan hadiah Nobel di bidang kesusastraan ini mampu menceritakan tentang kebutaan menyeluruh di suatu negara dalam bukunya yang berjudul Blindness. Saramago mampu menuliskan kemungkinan terburuk dari suatu negara yang seluruh rakyatnya menjadi buta.

Awalnya kebutaan itu dialami satu orang secara mendadak. Seorang lelaki sedang menyetir mobil, lalu mendadak buta. Akan tetapi kebutaan yang ia alami bukanlah kebutaan biasa, ia buta dalam putih dan bukan hitam. Ia melihat semuanya seperti putih susu. Ia memeriksakan matanya ke dokter mata, lalu dokter mata tersebut menjadi buta. Orang yang membantunya pulang ke rumah juga menjadi buta. Tidak lama kemudian, istirnya juga buta.

Setelah banyak orang yang tiba-tiba menjadi buta, akhirnya pemerintah menetapkan bahwa kebutaan tersebut merupakan wabah. Orang-orang pertama yang mengalami kebutaan diisolasi di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah tidak terpakai agar kebutaan tersebut tidak menyebar. Di dalam tempat isolasi tersebut awalnya hanya diisi oleh beberapa puluh orang, lalu lama-kelamaan dihuni oleh ratusan orang.

Tempat tersebut dijaga oeh para tentara. Para orang buta di dalam tempat tersebut diharuskan mengatur dirinya sendiri. bayangkan bagaimana orang-orang buta tersebut mengatur dirinya. Terjadi kekacauan. Awalnya pembagian tempat tidur, lalu masalah kebersihan dan kakus. Banyak yang tidak mencapai kakus untuk menuntaskan hajatnya dan akhirnya membuang kotoran di sembarang tempat. Selain itu, masalah lain adalah masalah pembagian makan. Para tentara menyediakan makanan, tetapi yang mengatur pembagiannya adalah para penghuni karantina tersebut yang semuanya adalah orang buta. Ketika seseorang kehilangan pengelihatannya, tentu saja sulit untuk membagi makanan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu mereka dapat mengatur pembagian makan.

Sebenarnya, cerita ini berfokus pada satu bangsal, yaitu bangsal pertama tempat orang-orang pertama yang mengalami kebutaan. Uniknya, ternyata di dalam bangsal tersebut terdapat satu orang yang tidak buta, yaitu istri dokter mata. Ia dapat melihat tetapi berpura-pura buta agar dapat menemani suaminya yang buta. Sesungguhnya ia yang membantu mengontrol keadaan agar tidak terlalu kacau. Di dalam novel ini tidak disebutkan satu nama pun. Semuanya menggunakan kata ganti dengan merujuk pada identitas lain para tokoh. Cerita ini berfokus pada tujuh orang, yaitu Lelaki Buta Pertama, Istri Lelaki Buta Pertama, Dokter Mata, Istri Dokter Mata, Bocah Juling, Wanita Berkacamata Hitam, dan Lelaki Bertampal Mata Hitam. Semuanya adalah penghuni bangsal pertama.

Ketika di tempat isolasi tersebut dihuni oleh sekelompok ‘mafia makanan’ yang menahan semua pasokan makanan para penghuni kecuali yang mampu membayar terjadilah kekacauan. Kekacauan tersebut diperparah ketika sekelompok mafia tersebut meminta bayaran dengan tubuh wanita. Para wanita harus menyerahkan tubuhnya agar mereka mendapat mekanan. Isti dokter juga menjadi salah satu wanita yang menyerahkan tubuhnya. Ia melihat bagaimana hal tersebut terjadi dan bagaimana seorang wanita mati karena diperkosa oleh empat belas laki-laki secara bergilir. Kemanusiaannya seperti diuji. Akhirnya istri dokter membunuh kepala ‘mafia makanan’ ini dengan gunting yang dibawanya. Pembunuhan kepala mafia itu merupakan perlawanan yang mewakili kaum perempuan di tempat tersebut.

Keadaan menjadi semakin kacau ketika terjadi perlawanan lainnya. Akhirnya salah seorang penghuni yang membawa pemantik membakar ruang ‘mafia makanan’ tersebut berkumpul yang berakibat terbakarnya seluruh tempat tersebut. Mereka akhirnya keluar dari tempat isolasi tersebut. Ternyata di luar keadaannya sama saja, bahkan lebih buruk. Semua orang telah menjadi buta. Tidak ada lagi tentara yang menjaga rumah sakit jiwa tersebut. Satu-satunya orang yang tidak mengalami kebutaan adalah istri dokter. Entah mana yang lebih buruk, orang buta di dunia buta atau orang yang dapat melihat di antara orang buta.

Semua orang mempertahankan hidup dengan mengais-ngais makanan. Kepemilikan atas rumah sudah tidak diakui karena sekarang semua orang berpindah tempat untuk mencari makanan. Banyak mayat di pinggir jalan, entah karena kelaparan atau karena hal lain. Banyak kotoran di mana-mana. Terdapat kelangkaan air bersih dan semua manusia terlihat kotor. Istri dokter yang mampu melihat mebawa rombongannya ke tempat aman dan pergi mencari makanan. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya.

Di rumahnyalah mereka semua tinggal. Hujan deras menjadi anugerah baginya karena hanya jika hujan deraslah ia dapat mencuci semua pakaian kotor mereka dengan persediaan sabun yang ia miliki. Berkat hujan pula ia dapat mengumpulkan air untuk keperluan penting lainnya. Ia juga dapat membersihkan diri. Tidak hanya dirinya, tetapi juga yang lain.

Setelah sekian lama istri dokter hidup bersama orang-orang buta, akhirnya tiba-tiba salah satu dari mereka dapat melihat kembali, lalu disusul oleh yang lain. Akhirnya pengelihatan semua orang telah pulih. Tetapi istri dokter merasakan sesuatu yang lain di samping kebahagiaan, ia merasakan kesedihan hingga akhirnya ia menangis. Cerita ditutup dengan kejadian ironis, yaitu hilangnya pengelihatan istri dokter ketika yang lain memperoleh kembali pengelihatan mereka.

***

Buku ini bagus karena idenya yang sangat tidak biasa. Jose Saramago, sebagai pengarang, mampu berpikir tentang betapa chaos-nya sebuah negara yang semuanya kehilangan pengelihatan. Ketika salah satu indera yang paling penting yang dimiliki manusia itu tidak berfungsi secara tiba-tiba dan dialami oleh semua orang tentu saja akan menimbulkan kepanikan dan kekacauan. Pemerintahan sudah tidak berfungsi. Tidak ada lagi perintah. Keegoisan manusia muncul dan manusia kembali menjadi makhluk primitif. Siapa yang kuat, dialah yang menang.

Makanan yang pernah mudah didapat menjadi kemewahan tersendiri ketika semua orang menjadi buta. Kedisiplinan dan keteraturan kehilangan makna karena memang amat sulit menjaga kedisiplinan semasa mata masih melihat oleh orang yang kehilangan pengelihatan. Hal-hal paling buruk dideskripsikan Saramago dengan sangat baik.

Akan tetapi, dalam buku terjemahan terbitan Matahari ini terdapat kekurangan dalam hal bahasa yang mengganggu saya. Pertama adalah tentang sudut pandang yang berubah. Sejak awal, pencerita adalah orang ketiga mahatahu. Ia tidak terlibat dalam cerita. Pencerita tidak pernah melibatkan dirinya dalam cerita. Kata ganti yang ia gunakan adalah mereka, istri dokter, dan panggilan lain yang merujuk kepada masing-masing tokoh. Gaya penceritaannya kadang memang seperti mengajak pembaca menjadi bagian dalam cerita; seperti seorang teman yang menceritakan kisahnya kepada teman lainnya. Akan tetapi, di tengah cerita pencerita menggunakan kata ganti ‘kami’ yang berarti si pencerita juga termasuk ke dalam cerita sebagai orang yang bisa melihat (karena ia mampu mendeskripsikan semuanya dengan sangat baik). Hal tersebut membingungkan bagi pembaca. Lihat saja kutipan berikut ini:

“Menit-menit berlalu, sejumlah lelaki buta telah terlentang, berapa sudah terlelap. Sebab, teman-temanku, karantina memang dimaksudkan buat makan dan tidur…sepanjang mereka memasok kami dengan makanan, karena kami tidak dapat hidup tanpanya, ini seperti tinggal di hotel.” (Saramago, 2015: 160)

Dari kutipan di atas, seolah-olah pencerita adalah salah satu interniran buta yang dikarantina. Akan tetapi setelah itu tidak ada lagi kata ganti ‘kami’. Pencerita tetap bercerita seperti biasa dan ia menjadi orang ketiga mahatahu di luar cerita kembali. Ia bercerita tentang tujuh orang adalah penghuni bangsal pertama dan tidak ada dia di dalamnya. Entah apakah ini disengaja oleh pengarang, atau kesalahan tim penerjemah, atau kealpaan editor.

Selain itu, penggunaan bahasa yang tidak tepat juga mengganggu saya sebagai pembaca. Sejak awal, di dalam narasi tidak pernah digunakan kata-kata tidak baku. Tiba-tiba di dalam narasi, di halaman 354, terdapat kata-kata tidak baku.

“…lelaki tua yang bertampal mata hitam, yang kakinya gede, mengatasi problemnya dengan memakai sepatu basket, yang secara khusus dibuat untuk pemain basket setinggi enam kaki dengan tangan dan kaki sepadan tinggi badannya. Memang tampak menggelikan, kayak pakai selop putih..” (Saramago, 2015: 354)

Alih-alih menggunakan kata ‘gede’, penerjemah dapat menggunakan kata ‘besar’. Selain itu, kata ‘kayak’ jelas-jelas tidak baku karena bahasa Indonesia menyediakan padanannya, yaitu ‘seperti’. Kata-kata tidak baku yang terdapat di halaman tersebut juga tidak dicetak miring. Seharusnya, kata-kata tidak baku ditulis dengan cetak miring. Hal-hal menyangkut bahasa ini memang terlihat sepele, namun dapat mengganggu proses membaca. Kenikmatan pembaca dapat terganggu hanya karena hal-hal sepele seperti ini. Alangkah baik jika editor Matahari dapat menyunting hal-hal kebahasaan ini dengan lebih teliti. Tidak mungkin saya mengkritik Saramago karena saya memang tidak membaca karya ini dalam bahasa aslinya, tetapi terjemahannya. Jadi, yang harus membenahi diri adalah tim penerjemah Matahari dan editornya.

Terlepas dari segi bahasa, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena mampu menghidupkan imajinasi kita tentang hal-hal buruk sehingga kita mampu mengoreksi kekurangan diri kita sendiri. Menggugah kemanusiaan kita yang selama ini dimanjakan oleh banyak kemudahan. Apakah kita sanggup kehilangan sesuatu yang paling esensial? Apakah kita mampu mempertahankan kemanusiaan ditengah kekacauan? Apakah kita siap dengan ketiba-tibaan dalam hidup? Saya merenung setelah selesai membaca buku ini. Ternyata banyak pertanyaan dalam diri yang harus dijawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s