Cerita Singkat untuk Ranum

Ranum, penulis yang kugeri sejak SMA itu menulis dengan sangat giat karena ia merasa perlu lebih giat dari orang giat agar semua tanggung jawabnya terpenuhi. Pantas ia menjadi penulis yang kugemari dan digemari oleh banyak orang lainnya. Ia produktif dan karya-karyanya nikmat dibaca. Aku ingat kata-kata teman baikku yang dulu diucapkan di jalan menuju stasiun Cikini dari sebuah acara di TIM, “Dalam menulis juga butuh kedisiplinan.” begitu ucapnya. Aku amini dia benar-benar. Penulis idolaku itu¬†memberikan bukti nyata tentang hal tersebut. Aku sadar, aku bodoh dan malas. Aku akan berusaha rajin dan tidak malas agar pintar. Kalau aku pintar kau akan merasa bangga, kan?

lucu juga mengingat bagaimana aku secara tidak sengaja membeli buku penulis kesukaanku itu di sebuah pameran, buku kumpulan esai. Sampulnya tidak menarik perhatian remaja yang baru masuk SMA, tapi karena itulah aku membelinya. Setelah aku baca, aku jadi tahu banyak hal dan ingin mengetahui lebih banyak tentang hal yang dibicarakan buku tersebut. Diawali buku esai tersebut aku mulai membaca kisah-kisah pewayangan, membaca sastra, dan membaca apapun. Aku ingin seperti itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s