Of Mice And Men Karya John Steinbeck

OfMiceandMen

Judul: Of Mice and  Men
Pengarang: John Steinbeck
Penerjemah: Isma B. Koesalamwardi
Penerbit: Ufuk Press
Tahun terbit: 2006
Jumlah Halaman: 199

Kebanyakan dari kita pasti pernah menangis ketika menonton film. Biasanya air mata kita keluar karena cerita yang sangat menyayat hati. Kita sebagai manusia biasa, terenyuh karena terbawa oleh cerita pada film tersebut. Akan tetapi, pernahkah kita menangis karena sebuah bacaan?

Saya sendiri jarang sekali menangis karena sebuah bacaan, padahal baik bacaan–dalam hal ini fiksi— maupun film memiliki alur yang membuat saya terhanyut oleh cerita. Sejauh ini, hanya dua buku yang membuat saya meneteskan air mata, keduanya novel. Novel pertama adalah Horeluya karya Arswendo Atmowiloto dan yang kedua adalah Of Mice and Men karya John Steinbeck yag diterjemahkan oleh Isma B. Koesalamwardi. Dalam tulisan ini saya hanya akan membicarakan tentang buku ke dua.

Of Mice and Men pertama kali terbit pada 1937. Latar dari novel ini adalah California pada masa depresi. Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat, George dan Lennie, yang telah melalui perjalanan panjang bersama. George bertubuh kecil namun cerdas, sedangkan Lennie bertubuh besar dan sangat kuat tetapi agak terbelakang. Lennie sangat mudah melupakan sesuatu. George selalu melindungi Lennie dari masalah yang ditimbulkannya. Mereka saling bergantung sama lain.

Mereka pernah bekerja di sebuah peternakan, tetapi harus kabur dari sana karena seorang perempuan yang ketakutan ketika Lennie menyentuh rok merahnya. Lennie menyukai rok merah gadis tersebut, tetapi gadis tersebut mengira Lennie melecehkannya. Teriakan gadis itu membuat Lennie panik dan malah menguatkan pegangannya. Akhirnya ia diburu oleh warga sekitar sehingga ia dan George harus bersembunyi di selokan untuk kemudian kabur. George sangat paham bahwa Lennie tidak pernah berniat jahat terhadap siapapun. Ia hanya tidak mampu mengontrol kekuatannya ketika panik.

Mereka memliki cerita kesukaan mereka yang berisi mimpi mereka, yaitu cerita tentang sebuah tanah lapang yang di atasnya berdiri rumah kecil beserta kebun dan beberapa hewan ternak yang dimiliki oleh mereka sendiri  sehingga mereka tidak perlu lari atau bersembunyi. Mereka akan mengatur hidup mereka sendiri tanpa suruhan orang lain dan mereka aman di sana. George akan menceritakan tentang hal tersebut ke Lennie dan ia sangat menyukainya.

Setelah kabur, mereka akhirnya mendapat pekerjaan baru di sebuah peternakan lain. Awalnya semua baik-baik saja hingga akhirnya Lennie secara tidak sengaja membunuh istri anak pemilik peternakan. Lennie sangat menyukai sesuatu hal yang lembut, awalnya ia membelai rambut istri anak pemilik peternakan ketika George sedang pergi ke bar. Lennie terus membelai rambut wanita itu hingga akhirnya wanita itu ketakutan oleh kekuatan Lennie. Ia berteriak dan membuat Lennie panik. Lennie mengguncangnya hingga lehernya patah. Lennie tidak menyadari keuatannya. Ketika perempuan itu tidak bergerak, ia baru menyadari bahwa wanita itu telah mati, sama seperti tikus-tikus yang mati karena ia belai. Ia bersembunyi ke sebuah sungai tempat ia dan George pernah bermalam sebelum tiba di peternakan.

Sekembalinya dari bar, George menemukan mayat istri anak pemilik pternakan dan mengetahui dengan pasti bahwa itu perbuatan Lennie. Suami perempuan mati tersebut juga mngetahui hal tersebut dan merasa sangat marah. Ia berkata ia akan menembak Lennie. Mengetahui Lennie dalam bahaya dania sama sekali tidak dapat menyelamatkannya, George akhirnya mengarahkan penghuni yang lain ke arah yang berseberangan dengan tempat Lennie bersembunyi. Ia tahu tempat persembunyian Lennie karena ia pernah memberi tahu Lennie tentang tempat tersebut jika Lennie membuat masalah.

George akhirnya menembak kepala Lennie dengan tangannya sendiri. Ia tidak ingin Lennie mati di tangan orang lain yang membenci Lennie. Ia tahu pasti bahwa Lennie tidak pernah bermaksud jahat, ia hanya tidak dapat mengontrol kekuatannya. Ia menembak Lennie di bagian belakang kepalanya sambil menceritakan kisah kesukaan mereka. Lennie tidak pernah tahu bahwa George akan menembaknya. Ia begitu senang diceritakan oleh George. Betapa menyedihkan ketika seorang sahabat menembak sahabatnya sendiri karena tidak ingin sahabat itu dihabisi oleh orang yang membencinya.

Sebenarnya, nasib Lennie sama dengan nasib anjing tua milik penjaga peternakan yang ditembak oleh salah satu penghuni yang tidak menyukai baunya. Setelah anjing tua itu ditembak, penjaga peternakan bergumam di dekat George bahwa harusnya ia sendiri yang membunuh anjing itu dan bukan orang lain. Nasib George dan Lennie sama seperti penjaga peternakan dengan anjing tua kesayangannya. Bukan sebagai majikan dan peliharaan, tetapi sebagai sahabat yang saling menyayangi dan melindungi.

Telah saya katakan di awal tulisan bahwa saya menangis membaca cerita ini. Cerita ini sangat mengharukan sehingga tidak mengherankan novel ini telah beberapa kali diadaptasi ke dalam film dan tv series. Tidak hanya alurnya yang apik, tetapi perwatakan tokohnya dibangun sangat kuat. Konflik dibangun dengan sangat hati-hati dan sudah ditunjukkan gejalanya di awal cerita, yaitu tentang Lennie yang tidak mampu mengontrol kekuatannya. Klimaks cerita ini berada di akhir, ketika George memutuskan bahwa ia harus membunuh Lennie sebelum anak pemilik peternakan yang membunuhnya. Meskipun akhir cerita tidak bahagia, pembaca tetap merasakan katarsis karena penyelesaian yang dipilih sang tokoh yang ternyata mengagetkan. Jika sebuah cerita adalah rajutan maka cerita ini adalah rajutan yang indah.

Novel ini memang berisis banyak ironi. Tidak hanya tentang George yang harus mengambil keputusan pahit, tetapi juga tentang perlakuan masyarakat Amerika saat itu kepada orang kulit hitam. Di peternakan itu terdapat satu orang kulit hitam yang bertugas menjaga istal kuda. Ia diperlakukan sangat tidak adil dan Steinbeck mampu menggambarkan dan mengungkapkan ketidakadilan tersebut dengan baik. Orang Negro sama sekali tidak dihargai di dalam masyarakat. Mengingat tahun terbit dan latar cerita, keputusan Steinback mengangkat hal-hal tabu tersebut dalam novelnya dapat dikatakan cukup berani.

Dalam hal ini sebenarnya saya tidak boleh hanya mengapresiasi Steinbeck sebagai penulis yang telah menghasilkan karya yang nikmat untuk dibaca, tetapi juga penerjemah yang mampu membuat karya ini tetap enak dibaca dengan bahasa lain. Penerjemahan bukanlah hal mudah. Penerjemah harus berusaha sangat keras agar karya yang ia terjemahkan artinya tidak melenceng atau tidak mengubah makna. Untuk itu ia harus memiliki kepekaan terhadap kata-kata. Jika penerjemah salah memilah kata, akibatnya makna yang dibangun kurang kuat dan dapat membuat kualitas karya tersebut turun. Jadi sudah seharusnya saya ucapkan selamat kepada penerjemah buku ini yang terjemahannya mampu membuat saya menangis.

Bagi saya, hal yang menyenangkan ketika membaca buku adalah ketika saya mampu mendapat katarsis atau kepuasan. Kepuasan pembacaan tidak hanya didapatkan dari bacaan dengan akhir yang menyenangkan. Kepuasan tersebut dapat diperoleh dari berbagai jenis bacaan, bisa jadi saya katarsis setelah membaca buku sejarah atau ensiklopedia. Membaca buku seperti menimbun kekayaan dan mencari harta karun. Selalu ada hal baru yang didapat. Selalu ada cerita baru untuk menambah khayalan. Jadi, mari membaca! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s