Sang Juragan Teh Karya Hella S. Hasse

sang-juragan-teh

Judul: Sang Juragan Teh
Judul Asli: Heren van de Thee
Halaman: 430
Pengarang: Hella S. Hasse
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Membaca buku Sang Juragan Teh karya Hella S. Hasse seperti bertamasya ke alam Priangan pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Latar waktu dalam buku ini adalah 1873–1918. Pembaca dibawa masuk ke dalam kehidupan Rudolf Kerkhoven semenjak muda di Gambung, perkebunan teh miliknya, hingga akhirnya harus meninggalkannya. Hasse mampu menggambarkan perkebunan teh milik Rudolf dengan sangat apik. Bagaimana perkebunan teh yang hijau terhampar luas itu dinaungi oleh Gunung Tilu dan dikelilingi oleh hutan-hutan.

Pembaca tidak hanya dikenalkan dengan kehidupan Rudolf, tetapi juga keluarga besarnya yang merupakan tokoh-tokoh Belanda yang cukup kaya di Hindia belanda. Rudolf Kerkhoven adalah anal laki-laki pertama dari enam bersaudara. Ia memiliki satu kakak perempuan yang beranama Bertha, dua adik laki-laki, Julius dan August, serta satu adik perempuan, Cateau. Ayahnya hijrah ke Hindia Belanda dan membuka perkebunan teh yang dinamakan Arjasari. Sebelum ayahnya, sudah ada beberapa orang dari keluarga besarnya yang lebih dulu membuka usaha di Hindia Belanda.

Rudolf Kerkhoven pergi ke Hindia Belanda setamatnya dari universitas di Delft. Ia pergi ke perkebunan ayahnya dengan harapan dapat meneruskan usaha ayahnya. Akan tetapi, ternyata ia dititipkan di perkebunan milik sepupunya dan diharapkan dapat belajar dari sana. Pada awalnya ia tinggal di perkebunan milik Adriaan van Holle di Parakan Salak, lalu kemudian ia pindah dan tinggal di perkebunan teh milik Eduard Kerkhoven yang masih terhitung sepupunya di Sinagar. Di sana, Rudolf belajar banyak tentang budidaya teh dan secara rutin menyurati ayahnya di Arjasari tentang keadaannya serta tips dalam membudidayakan teh karena ayahnya masih terhitung baru dalam bisnis tersebut.

Akhirnya Rudolf mendapat perkebunannya sendiri di Gambung dengan kepemilikan saham yang dibagi tiga. Setengah miliknya, lalu yang setengah lagi milik ayahnya serta kakak iparnya, Van Santern. Ia membangun perkebunan itu dari awal karena lahan miliknya merupakan lahan bekas pemerintah yang tidak terawat. Usahanya perlahan-lahan menuai hasilnya. Lalu ketika ia berkunjung ke Batavia, tempat adik perempuannya, ia bertemu dengan Jenny Roseegaarde. Mereka saling menyukai dan akhirnya menikah. Jenny ia bawa ke Gambung dan mengalami hidup yang benar-benar berbeda dari hidupnya di Batavia. Awalnya Jenny merasa bahagia, tetapi seiring bertambahnya anak mereka dan rumah yang tidak terlalu besar serta sikap Rudolf yang meskipun berhati baik tetapi cenderung keras kepala dan otoriter membuat Jenny merasa tidak bahagia. Ia menginginkan kebebasan, tetapi Rudolf tidak menyadari itu hingga Jenny wafat.

Bisnis Rudolf berkembang pesat. Bisnisnya tidak hanya budidaya teh, tetapi juga kopi dan kina. Ia memiliki lima orang anak, empat anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak pertamanya bernama Rudolf, anak keduanya bernama Eduard, anak ketiganya bernama Emile, anak keempatnya bernama Karel, dan anak bungsunya merupakan perempuan bernama Bertha. Rudolf dan Eduard (selanjutnya Ru dan Edu) dikirim ke Belanda karena masalah biaya. Mereka melanjutkan pendidikannya di sana, begitu juga Emile yang menyusul beberapa tahun setelahnya. Karel meneruskan pendidikannya di Batavia, sedangkan Bertha mendapatkan pendidikannya di rumah.

Semua anak Rudolf dapat dikatakan berhasil mandiri. Ru dan Emile kembali ke Gambung untuk meneruskan bisnis ayahnya, Edu menetap di Belanda dan bekerja di sana. Akan tetapi, sebenarnya hubungan Rudolf dengan keluarganya dapat dikatakan tidak mulus. Ia berselisih dengan adik-adiknya sendiri. Ia berselisih dengan August perihal perkebunan ayahnya, Arjasari, yang diwariskan kepada August. Ia juga berselisih dengan adik iparnya, Joan E. Henny suami Cateau, karena ia anggap memfitnah dan tidak mendukung keputusannya sehubungan dengan permintaan Rudolf untuk kenaikan gaji dan tunjangan janda untuk Jenny. Terdapat perbedaan pola pikir antara Rudolf dengan Joan E. Henny serta August. Masalah perselisihan itu tidak berakhir hingga adiknya wafat.

Hal yang menarik dari buku ini adalah cara hidup para Belanda totok yang datang ke Hindia. Bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan tempat baru mereka. Mereka belajar bahasa dan kebudayaan setempat, tetapi juga tidak ingin melepaskan budaya Belanda mereka. Mereka tetap ingin menjadi warga yang terhormat di kalangan pribumi yang merupakan pekerja mereka dengan cara memakai pakaian yang berbeda dan ketegasan sikap yang ditampilkan. Rudolf digambarkan tidak dapat beradaptasi dengan makanan dari Hindia Belanda dan hal itu merupakan salah satu masalah yang dihadapinya. Ada salah satu tradisi yang merupakan ajang bersosialisasi yang diperuntukkan untuk kaum Eropa, yaitu pacuan kuda yang sering dilaksanakan di Bogor atau Bandung. Pada acara seperti itu semua orang Eropa yang mengenakan pakaian terbaiknya, lalu setelah pacuan kuda selesai mereka bersosialisasi di pesta dansa. Keluarga Rudolf jarang menghadiri acara tersebut karena biaya yang terlalu mahal. Tetapi, setelah Rudolf mampu memperoleh banyak keuntungan, anak perempuannya serta ia dan istrinya mampu menghadiri pertemuan tersebut.

Tidak hanya itu, ternyata terdapat perbedaan kehidupan yang sangat signifikan antara masyarakat Belanda yang tinggal di perkebunan dan tinggal di kota besar, seperti Batavia. Kebanyakan wanita Belanda tidak menyukai tinggal di ‘udik’. Bertha dan Cateau, saudari Rudolf adalah gadis-gadis yang sangat tidak menyukai tinggal di pedesaan, begitu juga Marie, adik Jenny. Cara mereka agar tidak tinggal di pedesaan adalah dengan menikahi pria yang bekerja di kota. Menarik melihat kenyataan bahwa kehidpan wanita dibatasi oleh pernikahan. Mereka tidak pernah bekerja, hidup mereka didedikasikan untuk rumah tangga. Bagaimana mengatur pekerja dan bujang, menyiapkan jamuan untuk tamu, mendidik anak, serta mengurus rumah. Para wanita jarang sekali digambarkan memiliki wewenang khusus atas sesuatu, termasuk harta. Semua ada di bawah kendali suami. Seringkali pernikahan antara wanita dan pria tidak didasari oleh ketertarikan satu sama lain seperti halnya yang dialami oleh Rudolf dan Jenny, tetapi sebatas hubungan bisnis atau demi kemudahan hidup di masa mendatang. Contohnya, Cateau yang menikahi Joan E. Henny agar tidak perlu hidup di pedesaan. Masalah banyaknya anak juga menimbulkan masalah tersendiri bagi perempuan Belanda. Mereka merasa kerepotan dan akhirnya harus mengirimkan anak-anak mereka ke Belanda untuk diasuh oleh kerabat mereka di sana. Jenny mengirimkan dua anaknya ke Belanda. Ibu Jenny juga merasa sangat kewalahan karena memiliki sangat banyak anak dan akhirnya berakibat pada kesehatan jiwa dan raganya.

Hubungan antara orang Belanda dengan pribumi juga merupakan hal yang menarik yang digambarkan dalam buku ini. Rudolf memang dekat dengan pekerjanya, tetapi juga sekaligus mengadakan jarak dengan mereka. Rudolf sering membantu penduduk desa dan berbaik hati membuat pondok bagi para pekerja yang bekerja di kebunnya. Akan tetapi, ketegasan Rudolf yang enggan menaikkan upah dinilai olehnya sebagai salah satu cara agar ia tetap dihormati. Demikian pula cara berpakaiannya yang menggunakan pakaian Belanda meskipun tidak nyaman di udara tropis agar ia memiliki wibawa. Pada awal masa tinggalnya di Gambung, pekerja sempat melakukan pemberontakan kecil-kecilan dengan cara mogok kerja. Ternyata hal tersebut adalah hasutan dari salah satu asisten pribuminya, Jenggot, yang menghasut warga untuk meminta kenaikan upah. Hal itu diatasi oleh Rudolf dengan membina hubungan baik dengan pribumi serta Jenggot dengan cara memberikan hadiah dan sedikit menaikkan upah harian mereka.

Ketika terjadi pemberontakan oleh pekerja di perkebunan teh lain sehingga para mandor harus membawa senjata saat kontrol, Rudolf menganggap hal itu adalah suatu hal yang berlebihan. Menurutnya, jika terjadi suatu pemberontakan, pasti yang salah adalah para pemilik kebun teh dan pengelolanya yang mempelakukan pekerjanya secara tidak adil. Di perkebunan teh miliknya, Gambung, tidak pernah ada pemberontakan. Akan tetapi, bukan berarti Rudolf adalah salah satu orang Belanda yang memihak pribumi. Ia tetap memandang pribumi sebagai orang yang memiliki status yang lebih rendah dari orang Belanda.

Di antara keluarga besar Rudolf terdapat orang-orang yang dekat dan cukup memiliki nama baik di antara kaum pribumi. Salah satunya yang paling terkenal adalah Karel Holle. Karel merupakan salah satu sepupu Rudolf yang akrab dengan para pemuka agama Islam di tanah Priangan. Ia mahir berbahasa Sunda dan memahami sastra kuna Jawa dan Sunda serta memahami Islam. Ia dikenal ramah dan baik hati terhadap penduduk pribumi dan berusaha menyejahterakan mereka. Karel sempat dituduh menghasut pemberontakan oleh kaum Pribumi. Akan tetapi, kedekatan karel dengan pemuka agama Islam juga dimanfaatkan oleh pemerintah Belanda saat itu untuk mendapatkan informasi.

Selain Karel, Julius, adik Rudolf juga memiliki pandangan sendiri terhadap kaum pribumi, atau dalam hal Julius, Indo. Ia mengadopsi anak Indo Belanda dari kerabatnya. Hal ini merupakan salah satu hal yang dianggap memalukan oleh keluarga besar Rudolf karena anak itu telah bercampur dengan darah pribumi. Dalam surat Julius yang dialamatkan kepada Rudolf, ia menuliskan:

Kalian tidak menyadari betapa kerasnya diri kalian! Kalian berani menyebut pribumi sebagai ‘monyet-monyet’, meskipun dengan maksud bersenda gurau. Kalian menganggap orang-orang berdarah campuran sebagai orang-orang berkelas lebih rendah. (Hasse, 2015: 363)

Anak-anak Rudolf tidak mewarisi sifat keras ayahnya. Anak-anak Rudolf cenderung lebih terbuka. Emile, anak laki-laki Rudolf, membaca Nietzche tanpa sepengathuan ayahnya. Dan ia menyukai seni dan sastra terbaru, berbeda dengan Rudolf yang sangat tidak menyukai hal-hal baru. Ia digambarkan sebagai seorang lelaki konservatif.

Buku Sang Juragan Teh karya Hella S. Hasse menggambarkan sudut pandang lain tentang masyarakat Belanda yang hidup di Hindia Belanda. Pramoedya pernah juga menggambarkan suasana Hindia belanda pada abad yang hampir sama melalui Tertralogi Burunya, tetapi sudut pandangnya tetap sudut pandang pribumi. Hasse memperluas pandangan kita tentang keadaan Hindia Belanda. Bagaimana orang Belanda memandang kaumnya sendiri tergambar jelas dalam buku ini, begitu juga hubungan antara Belanda dan pribumi melalui kacamata orang Belanda. Buku ini menyenangkan untuk dibaca karena alurnya yang linear dan cara bertutur yang ringan yang dinarasikan oleh orang ketiga. Akan tetapi, di dalamnya juga terdapat surat-surat yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang membuat pembaca semakin mendalami kehidupan para tokohnya.

Sesuai dengan pernyataan pengarangnya, buku ini ditulis berdasarkan surat-surat dan dokumen-dokumen milik Het Indische thee-en familie archief (Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia). Oleh karena itu, novel ini dapat dikategorikan sebagai sastra sejarah yang menarik untuk dibaca karena dapat menambah pengetahuan kita tentang kehidupan sosial di perkebunan teh di Hindia Belanda pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Novel ini juga termasuk Sastra Hindia Belanda karena ditulis oleh orang Belanda, menggunakan bahasa Belanda dan bercerita tentang kehidupan di Hindia Belanda. Akan tetapi, buku yang penulis baca sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s