Ranum, Ayo Bercerita lagi!

Halo, Ranum.

Apa kabar? Klise ya? Maaf kalau aku  membuka surat ini dengan pertanyaan klise. Harus dengan apa aku buka surat ini? Tentu saja, harusnya kamu sudah tahu bahwa surat ini dibuka dengan rindu, meskipun tidak tertulis. Aku masih merasa gembira jika mengingat liburanku kemarin. Aku semakin cinta dengan perjalanan dan kemanusiaan. Sudah kamu terima kiriman foto dariku? Benar katamu, aku kurang piknik. Hahahahaha. Liburan kemarin aku menikmati hutan pinus dan menikmati pemandangan dari atas bukit. Betapa melegakan, Ranum, melihat hamparan bumi yang hijau dan bukan gedung-gedung tinggi. Perasaanku yang lebam terobati oleh alam bebas.

Ranum, apakah kamu percaya ungkapan homo homini lupus? Apakah kamu percaya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya? Aku sih percaya. Masalahnya, dalam ungkapan itu seolah-olah serigala mewakili hal yang buruk dan licik. Padahal ya, Ranum, serigala itu memiliki sisi yang manis. Ya, manusia memang licik dan sangat sulit dipercaya, tapi bukan berarti manusia selalu buruk. Tanpa manusia lainnya, kita bisa apa? Jangan-jangan serigala merasa tersinggung oleh ungkapan itu? Jangan-jangan manusia tidak lebih baik dari serigala. Bukankah pendiri Roma menyusu pada serigala? Berarti serigala tidak selalu buruk. Aku dengan jelas mengatakan bahwa aku mencintai manusia dan kemanusiaan dengan segala kebaikan dan keburukan yang  dikandungnya.

Bukan berarti aku mendukung segala bentuk kejahatan dan kelicikan dan kecurangan. Akan tetapi, cobalah bayangkan jika hidup ini yang ada hanya melulu kebaikan. Apakah tidak gawat? Hidup akan kehilangan gregetnya. Masyarakat Bali percaya bahwa Kebaikan selalu berperang melawan Kejahatan, dan hingga kini belum ada yang memenangkan perkelahian tersebut. Aku setuju benar dengan hal itu. Kebaikan belum tentu menang melawan kejahatan, begitu pula sebaliknya. Bukankah dalam diri manusia selalu ada pertentangan? Begitu pula dalam dirimu, kan? Tidak mungkin kamu selalu baik. hahahaha. Tapi kamu baik, Ranum, most of the time. And that’s why I like you a lot.

Dalam hidup ini sesungguhnya aku seringkali meragu. Bagaimana caranya memercayai orang sekaligus tak sepenuhnya percaya padanya. Bagaimana, Ranum? Tidak elok lah jika kita sama sekali tidak memercayai manusia, tapi juga tidak mengenakkan jika kita terlalu percaya hingga akhirnya bergantung. Aku tahu, selalu ada kemungkinan untuk dikhianati, tetapi ketika dikhianati tetap saja rasanya sangat tidak menyenangkan. Apakah sebaiknya tidak usahlah aku memikirkan hal itu? Aku begitu memercayaimu, Ranum. Apakah kamu merasa terbebani? Bilang saja kalau kamu merasa aku mengganggu.

Aku punya hobi baru, Ranum, yaitu melisankan puisi. Biasanya puisi-puisi kesukaanku hanya aku baca dalam hati. Tetapi belakangan ini aku merasakan kenikmatan jika melisankannya (meskipun aku hanya berani melakukannya di depan cermin). Kapan-kapan kamu harus mendengarnya. Aku akan bacakan puisi kesukaan kita, tentang manusia, waktu, dan kematian. Lalu aku akan mendengarmu menyanyikan lagu kesukaan kita, tentang penantian. Betapa menyenangkan. Ah, aku jadi benar-benar merindukanmu. Dalam surat terakhirmu, kamu mengatakan kamu merindukanku. Tahukah kamu bahwa aku sangat sangat senang membacanya? Aku baca dan baca berulang-ulang. Kapankah rindu ini terbayar? Tapi rindu bukan hutang yang harus dibayar. Rindu adalah sesuatu yang absurd yang tolak ukurnya sangat tidak jelas.  Apakah jarak? Apakah waktu? Entahlah.

Belakangan ini aku memikirkan tentang diriku. Aku masih belum benar-benar mengenal diriku, Ranum. Apakah mungkin seorang manusia mampu mengerti dirinya seutuhnya padahal manusia tidak pernah statis, manusia dinamis. Semua berubah, termasuk kepribadian, phanta rhei. Bukankah begitu? Betapa banyak keinginanku, betapa banyak pula keraguanku. Aku masih mencoba mengerti apa yang aku mau. Aku masih mencoba banyak hal baru sebelum tua. Aku merasa aneh dengan kalimatku barusan. Tidak ada yang salah dengan menjadi tua, tapi seolah-olah ketika kita tua, semakin sedikit yang dapat kita lakukan. Ada banyak kegiatan yang terasa aneh jika dilakukan oleh orang tua. Apakah memang begitu? Aku tak tahu. Mungkin benar. Siapalah aku ini yang mampu memutuskan benar dan salah?

Harus kusudahi surat ini, Ranum. Aku tak mampu merangkum apa yang berkecamuk di dalam kepalaku untuk kusampaikan padamu. Maaf jika suratku berantakan dan tidak runut. Gagasanku melantur dan meloncat-loncat. Maaf jika suratku tidak menyenangkan untuk dibaca. Doaku selalu untukmu, Ranum, semoga kamu selalu bahagia dan membahagiakan. Semoga kamu temukan apa yang harus ditemukan. Semoga doa-doa manismu untukku serta doaku untukmu dikabulkan oleh Pemilik Semesta yang mahasegala.

 

P.S: Aku takut aku tak memiliki waktu untuk mengatakan ini. Jadi, selagi masih dapat kukatakan, aku akan mengatakannya (atau dalam hal ini menuliskannya). Aku merasa sangat beruntung dapat mengenal dan dekat denganmu. Aku selalu berusaha ada untukmu. Jadi, jangan pernah merasa kesepian! Terima kasih karena selalu ada untukku. Aku menyayangimu.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

4 thoughts on “Ranum, Ayo Bercerita lagi!

    • Terima kasih, ya. Seneng deh ada yg baca tulisan kayak gini. Hehehe. Tulisanmu juga bagus 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s