Kutipan Cerita dalam Kepala

Ini entah cerita yang keberapa

 

Hidup memang penuh dengan ketiba-tibaan. Tiba-tiba kita bertemu dengan seseorang. Tiba-tiba kita berpisah dengan seseorang. Tiba-tiba daun jatuh dari rantingnya. Tiba-tiba lempengan bumi bergerak. Tiba-tiba gunung meletus. Tiba-tiba aku di sini.

Tiba-tiba saja cerita-cerita tentang kita berkelebat. Tentang semua yang pertama kali. Pertama kali kita bertemu, pertama kali kita menghabiskan malam, pertama kali kita berpisah. Tiba-tiba aku menceritakan itu semua kepadamu. Tiba-tiba aku cerewet tidak terkira.

Tapi hidup juga penuh dengan kepastian. Hidup pasti berhenti. Waktu pasti berjalan. Dunia pasti berputar. Ombak pasti berdebur. Awan pasti berarak. Kucing pasti mengeong. Kita pasti berpisah.

Pasti kita tak dapat menghindar dari perpisahan. Oleh karena itu, perpisahan menjadi penting. Aku tidak ingin berpisah dengan penuh dendam atau penyesalan. Aku ingin berpisah dalam kebahagiaan dan kerelaan. Aku ingin perpisahan yang manis.

Kita pernah manis. Kita pernah bahagia. Semoga itu cukup untuk mengekalkan aku dalam memorimu karena semua hal itu cukup untuk membekukanmu dalam kotak kenanganku. Semoga kamu tak lekas melupakanku.

Akan lebih mudah jika aku dapat pergi ke bulan, atau hinggap di Pluto dan dilempar keluar dari lingkaran planet. Akan lebih mudah jika aku berjalan ke Timur dan kamu ke Barat dan kita tidak akan pernah bertemu di garis khatulistiwa lainnya. Akan lebih mudah. Tapi aku dan kamu masih di taman yang sama. Masih akan menatap matahari yang sama. Dan bulan masih dapat kita saksikan bersama-sama. Aku masih akan terus dapat menatap bahu dan punggungmu. Kita masih dalam satu lingkaran yang sama. Bagaimana mungkin ini akan menjadi lebih mudah?

Tapi dalam hidup kita harus memilih. Kita telah memilih. Kamu telah memilih. Akhirnya kamu pulang. Akhirnya kamu memberitahuku bahwa kamu akan pulang. Ingat lagu yang liriknya berbunya “Beritahu aku jika kamu ingin pulang?” Akhirnya ia menjelma nyata. Kita tidak akan menyesali apapun. Kita akan bahagia dengan cara yang berbeda. Kita akan bahagia. “Jadikan bahagia sebagai hobi dan bukan cita-cita,” katamu. Baiklah. Terima kasih banyak untuk banyak hal. Selamat tinggal-atau sampai jumpa? hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s