Ranum

Ranum, aku ingin menangis. Bukan. Bukan karena hidup ini indah,
tapi karena ini terlalu menyakitkan. Terlalu menyesakkan. Ternyata sesakit ini, Ranum. Aku tidak sanggup menahannya. Aku ingin merinai pada dini hari yang sepi ketika ia bahkan tak tahu aku sedang merinai. Atau menjadi kabut pada pagi sehabis hujan dan menyaksikan daun-daun mulai terjaga. Atau menjadi sesuatu yang bukan aku. Bukan aku.

Kalau aku menangis, Ranum, itu bukan karena hidup ini indah. Kalau aku menangis, Ranum, itu pasti karena ada yang lebam di dalam diriku. Dan kalau aku menangis, Ranum, kalau aku menangis, tandanya memang benar-benar menyakitkan. Aku heran, kenapa Sapardi, si penyair tua itu, ingin menangis karena hidup ini indah? dia pasti sangat sakit. Dia pasti sudah gila. Aku ingin merinai saja, Ranum. Merinai dan mengalir ke laut. Menyatu pada samudera yang bijaksana lalu perlahan menjadi ombak yang menyapu pantai; menyapu kaki-kaki bahagia. Aku sedang tidak ingin menjadi aku. Aku ingin menjadi kamu. Aku ingin menjadi daun. Aku ingin menjadi bunga. Aku ingin menjadi angin. Aku ingin menjadi Alina. Aku ingin menjadi domba. Mungkin aku sudah gila.

Ranum, aku gelisah. Aku membutuhkanmu. Kapan kamu pulang? Kapan kamu kembali ke kota kita? Kapan waktu mempersilakan kita bersitatap dan saling mengurai beban satu sama lain? Semesta memang penuh rahasia. Aku merindukanmu benar-benar saat ini. Aku membutuhkanmu. Lekas kembali.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s