Pengaruh Pers terhadap Perkembangan Sastra Melayu Tionghoa[1]

 

Pendahuluan

Periode awal kesastraan modern Indonesia dalam sejarah sastra Indonesia seringkali hanya memasukkan kesastraan yang dihasilkan oleh penulis Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Menurut Jakob Sumardjo (2004: 1), tonggak sejarah sastra Indonesia sendiri ditandai dengan terbitnya buku Azab dan Sengsara oleh Merari Siregar yang terbit pada 1919. Buku tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka sehingga tentu saja bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Tinggi atau Melayu Riau yang sesuai dengan ejaan dan tata bahasa Melayu yang disusun oleh Ch. A. van Ophuijsen pada 1901 (Iskandar, 2000: 17).

Akan tetapi, sesungguhnya kesastraan modern Indonesia sudah dimulai jauh sebelum itu. Kesastraan di Indonesia atau di Nusantara sudah ada sejak zaman dahulu sehingga dikenal pula sastra Melayu klasik. Sastra inilah yang turut memberi bentuk kepada sastra modern. Hal yang membedakan sastra modern dari sastra klasik adalah huruf yang digunakan serta cara produksinya. Sastra klasik di Indonesia masih menggunakan huruf Jawi[2] dan masih ditulis atau disalin secara manual, sedangkan sastra modern sudah menggunakan huruf latin dan dicetak menggunakan mesin sehingga dapat diproduksi dalam jumlah banyak.

Di samping sastra yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, terdapat sastra yang diterbitkan oleh penerbit swasta yang menggunakan bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah. Bahasa Melayu Pasar adalah bahasa Melayu yang berfungsi sebagai sarana pergaulan antara orang yang berbahasa Ibu bahasa Melayu dan penutur bahasa non-Melayu, atau antara penutur bahasa non-Melayu (Teeuw, 1991: 111–112). Karya-karya sastra yang terbit menggunakan bahasa Melayu Rendah ditulis oleh orang Belanda atau Indo, peranakan Tionghoa, dan pribumi.

Pada awalnya, sastra Melayu rendah dimulai oleh orang-orang Belanda, sebut saja H.D. Wiggers yang menerbitkan novel Lawah-Lawah Merah, sebuah karya saduran dari karya berbahasa Prancis. Selain itu ada pula F.D.J Pangemanann dengan Cerita si Conat, dan F. Wiggers, anak dari H.D. Wiggers, yang menerbitkan banyak karya, salah satunya drama satu babak berjudul Lelakon Raden Beij Surio Retno. Sastrawan pribumi pada masa awal antara lain R.M Tirtoadisuryo, Haji Mukti, Mas Marco Kartodikromo, serta Semaoen. Pengarang dari kalangan pranakan Tionghoa jauh lebih banyak dibandingkan pengarang dari kalangan Indo atau pribumi. Karya-karya mereka disebut juga Sastra Melayu Tionghoa. Tulisan ini berfokus kepada peran pers dalam perkembangan sastra Melayu Tionghoa dari awal mula hingga 1930-an yang merupakan zaman keemasan sastra Melayu Tionghoa.

 

Sastra Melayu Tionghoa

            Tidak banyak kritikus atau akademisi sastra yang memiliki nama besar memasukkan sastra Melayu Tionghoa ke dalam penulisan sejarah sastra Indonesia. Sebut saja H. B. Jassin, A. Teeuw, serta Ajip Rosidi yang sama sekali tidak memasukkan sastra Melayu Tionghoa ke dalam khazanah sejarah sastra Indonesia. Salah satu buku yang menjadi buku penting yang membahasa jenis sastra ini adalah buku karya Nio Joe Lan yang berjudul Sastra Indonesia-Tionghoa yang terbit pada tahun 1962. Setelah itu Claudine Salmon meneliti sastra Melayu Tionghoa secara lebih lanjut dan komperhensif. Pada 1985, Salmon menerbitkan buku yang berjudul Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu yang merupakan buku sejarah sastra Melayu. Salmon membagi bukunya berdasarkan periodesasi tertentu, kebanyakan berhubungan dengan kondisi sosial politik yang sedang terjadi di masyarakat peranakan Tionghoa. Leo Suryadinata yang mengkhususkan diri meneliti tentang masyarakat Tionghoa juga menerbitkan buku yang berjudul Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia yang terbit pada 1966. Jakob Sumardjo juga menyinggung tentang sastra jenis ini dalambukunya yang berjudul Kesusastraan Melayu Rendah yang terbit pada 2004.

Menurut Nio Joe Lan (1962), Sastra Melayu Tionghoa adalah hasil sastra yang dihasilkan oleh orang Tionghoa peranakan dalam bahasa Melayu Rendah sampai pada awal tahun 1942. Setelah kemerdekaan Indonesia, hasil karya sastra yang dihasilkan oleh orang Tionghoa peranakan disebut sastra Indonesia. Akan tetapi, menurut penelitian Claudine Salmon, sastra Melayu Tionghoa masih hidup hingga tahun 1960-an.

Menurut Leo Suryadinata (1996), Sastra Melayu Tionghoa atau sastra peranakan Tionghoa adalah karya sastra dalam bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh orang Tionghoa yang dilahirkan di Indonesia. Sastra ini mulai muncul pada akhir abad ke-19 dan merosot setelah Perang Dunia II. Sastra Melayu Tionghoa benar-benar telah berbaur dengan sastra Indonesia mulai tahun 1960-an.

Menurut catatan Claudine Salmon (1985), terdapat 3005 karya Melayu Tionghoa yang dihasilkan oleh 806 pengarang. Kebanyakan pengarang berasal dari pulau Jawa, dan sebagian dari Sumatra. Kebanyakan karya sastra Melayu Tionghoa dihasilkan oleh peranakan Tionghoa yang berasal dari Hokkian. Hal tersebut disebabkan oleh lamanya orang Hokkian menetap di Indonesia. Orang Hokkian telah bermigrasi ke Indonesia sejak abad ke 16. Setengah dari jumlah orang Tionghoa yang bermigrasi ke Indonesia tinggal di pulau Jawa. Hal itulah yang menyebabkan banyak karya sastra yang dihasilkan oleh golongan Hokkian yang berasal dari Jawa (Sumardjo, 2004).

Golongan peranakan Tionghoa di Indonesia sudah tidak dapat berbahasa Tiongkok, oleh sebab itu mereka juga tidak dapat membaca buku-buku yang berbahasa Tiongkok. Kebutuhan akan bacaan menyebabkan munculnya kesusastraan Melayu Tionghoa. Sastra Melayu Tionghoa menggunakan bahasa Melayu pasar karena bahasa tersebut adalah bahasa yang mereka kuasai, selain itu bahasa tersebut juga merupakan lingua franca[3] pada masa itu.

Sastra Melayu Tionghoa di Indonesia sudah ada sejak awal abad 19 (Salmon, 1965). Akan tetapi, sejak munculnya Balai Pustaka tahun 1908, muncullah karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu tinggi, atau bahasa Melayu Riau. Oleh karena politik bahasa tersebut dan bangkitnya kesadaran nasional di kalangan pribumi, pada tahun 1920-an karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu Pasar menjadi milik golongan Tionghoa peranakan dan dinamai sastra Melayu Tionghoa (Sumardjo, 2004). Tahun 1920-an dan 1930-an merupakan zaman keemasan bagi sastra Melayu Tionghoa karena banyaknya jumlah karya sastra yang dihasilkan (Salmon, 1985).  Menurut Claudine Salmon (1985: 85), pada periode ini terdapat perkembangan yang sangat besar pada karya-karya asli yang menggambarkan masyarakat peranakan maupun masyarakat pribumi.

Hal tersebut tidak lepas dari golongan pers peranakan Tionghoa, hal ini dapat dilihat dari profesi kebanyakan pengarang yang juga sebagai jurnalis (Sumardjo, 2004: 45). Senada dengan Sumardjo, Nio (1962: 19) mengatakan bahwa sastra Melayu Tionghoa digunakan oleh golongan Tionghoa-peranakan, dipupuk oleh persurat-kabaran Tionghoa-peranakan, dan ditulis oleh pengarang Tionghoa peranakan. Hal tersebut mempertegas bahwa pers turut berperan penting dalam perkembangan sastra Melayu Tionghoa di Indonesia.

 

Pers Melayu-Tionghoa

            Pada awalnya, pers di Hindia Belanda hanya dimiliki oleh kalangan Eropa dan berbahasa Belanda, ditujukan untuk pembaca yang mampu berbahasa Belanda. Isinya pun seputar kehidupan orang-orang Eropa. Keadaan pers yang demikian dimulai dari sekitar tahun 1744, yang ditandai dengan terbitnya surat kabar Bataviase Noubelles,  hingga 1854 (Suryadinata, 2010; Sumardjo, 2004).

Surat kabar berbahasa Melayu Tinggi dimulai oleh Soerat Kabar Melaijoe, terbit di Surabaya pada 1856 dan terbit tiap hari Sabtu. Akan tetapi surat kabar ini hanya memuat berita dagang. Penerbitan berbahasa Melayu Tinggi lainnya adalah Bintang Oetara yang dikelola oleh Roorda van Eysinga dan WAP Roorda van Eysinga pada 1856–1857. Surat kabar ini memuat kisah-kisah Melayu klasik sehigga dapat dikatakan surat kabar ini adalah benih awal munculnya benih-benih sastra modern (Sumardjo, 2004: 17).

Pada tahun 1850an, kegiatan pers di Indonesia masih dimonopoli oleh masyarakat peranakan Eropa meskipun sudah menggunakan bahasa Melayu (Sumardjo, 2004; Suryadinata, 2010). Penggunaan bahasa Melayu tersebut memungkinkan orang-orang pribumi dan peranakan Tionghoa bergabung sebagai wartawan dan lama-kelamaan menggantikan posisi orang Eropa.

Suryadinata (2010: 16) membagi perkembangan pers Melayu Tionghoa menjadi tiga periode:

  1. Antara 1854–1860: dalam periode ini surat kabar berbahasa Belanda tetap menduduki tempat penting dalam pers Hindia Belanda, tetapi surat kabar berbahasa Melayu mulai muncul.
  2. Antara 1860–1880: ciri dari periode ini adalah surat kabar berbahasa pra-Indonesia dan Melayu mulai banyak bermunculan. Tetapi, yang memimpin kegiatan pers Melayu semua orang peranakan Eropa.
  3. Antara 1881–Kebangkitan Nasional: para pekerja pers, terutama redakturnya, tidak lagi didominasi oleh peranakan Eropa dan mulai didominasi oleh kaum peranakan Tionghoa dan pribumi.

Pada periode ketiga inilah surat kabar Indonesia Tionghoa mulai muncul. Suryadinata (2010) beranggapan bahwa surat kabar Melayu Tionghoa yang pertama kali muncul adalah Li Po (1910) dan bukan Pemberita Betawi (1884), Bintang Betawi (1893), dan  Bintang Soerabaja (1887) dengan alasan bahwa ketiga surat kabar tersebut masih dikelola oleh orang peranakan Eropa sedangkan Li Po sepenuhnya dikelola oleh orang peranakan Melayu Tionghoa. Surat kabar Melayu Tionghoa mencapai puncaknya sekitar tahun 1930-an seiring dengan pergerakan politik yang berkembang pada masyarakat Melayu Tionghoa. Pers Tionghoa terbagi menjadi tiga poros, yaitu pers yang berorientasi ke Tiongkok yang diwakili oleh Sin Po, pers yang berorientasi ke  Indonesia yang diwakili oleh Sin Tit Po dan Soeara Poebliek, dan yang tidak jelas orientasinya, yaitu Perniagaan (Suryadinata, 2010).

Pengaruh Pers terhadap Perkembangan Sastra Melayu Tionghoa

            Telah disebutkan sebelumnya bahwa pers berpengaruh terhadap perkembangan sastra. Umumnya, wartawan peranakan Tionghoa atau pribumi yang  bekerja di pers sudah memiliki wawasan yang cukup luas akibat adanya politik etis yang dijalanakan oleh pemerintah Kolonial pada 1884. Hal itulah yang memungkinkan adanya karya-karya terjemahan yang hadir di dalam surat kabar.

Surat kabar Melayu Tionghoa pada awal abad 20 memberikan tempat khusus pada sastra karena hampir seluruh lembaran surat kabar berisi iklan dan roman terjemahan. Suryadinata (2010: 36) memberikan contoh surat kabar Perniagaan yang terbit pada 19 desember 1904 yang memasukkan cerita “Satiman dan Katidjah (soeatoe tjerita jang baroe ini)” serta feuilleton[4] yang berjudul “Roger Laroque, ditjeritaken oleh pembantoe”.

Pada perkembangannya, surat kabar Melayu Tionghoa masih memasukkan feuilleton di dalamnya. Pada surat kabar Sin Po yang terbit 4 Mei 1914 yang hanya terdiri dari dua lembar memasukkan feuilleton yang berjudul “Djadi Korban dari Kawan Pedagang Manoesia” yang disalin oleh R. Soepadmo. Masih dari surat kabar yang sama yang terbit pada 4 September 1928 yang terdiri dari 3 lembar memuat dua feuilleton yang berjudul “Kang Ouw Kie Hap” oleh Kwo Lay Yen serta “Pernikahan Adjaib” masih dari pengarang yang sama. Pada 1930-an, ternyata feuilleton masih terdapat dalam surat kabar. Contohnya surat kabar Sin Tit Po yang juga memuat dua feuilleton, yaitu “Diboeang Seoemoer Hidoep” dan “Koeboeran Disirem Darah” (Suryadinata, 2010). Dari contoh-contoh yang dipaparkan dapat dikatakan bahwa sastra Melayu Tionghoa menjadi salah satu unsur yang tidak dapat dilepaskan dari pers Melayu Tionghoa. Sastra yang ada di dalam surat kabar tersebut kemudian dibaca oleh masyarakat peranakan Tionghoa sehingga menumbuhkan minat sastra di kalangan pembacanya.

Tidak hanya porsi sastra dalam surat kabar yang turut memengaruhi perkembangan sastra Melayu Tionghoa. Pada awal abad 20 banyak tema karya sastra yang diambil dari berita yang ditulis oleh wartawan, selain itu banyak karya sastra yang terbit lebih dahulu di surat kabar sebelum diterbitkan sendiri dalam bentuk buku.

Contoh dari karya sastra Melayu Tionghoa awal adalah Sair Kadatangan Sri Maharadja Siam di Betawi (1870) yang meskipun tidak diketahui penulisnya, menunjukkan ciri-ciri ditulis oleh seorang peranakan Tionghoa (Salmon, 1965). Syair tersebut ditulis berdasarkan laporan seorang wartawan dalam surat kabar Bintang Barat. Pada 1906, terbitlah sebuah novel Melayu Tionghoa yang berjudul Tambasia yang diikuti keterangan “Sair swatoe tjerita jang betoel soeda kajadian die Tanah Betawie dari halnja Oeij Tambah Sia, tatkalah Sri Padoeka toean besar Duymaer van Twist mendjabat Gouverneur General koetika tahon 1851”. Novel ini pertama kali terbit dalam cerita bersambung atau feuilleton dalam koran Warna Warta pada 1905 dan membantu suksesnya koran tersebut (Liok dalam Salmon, 1985).

Pada periode 1911-1923[5], sastra Melayu Tionghoa yang dihasilkan banyak yang berupa karya sastra terjemahan dari novel Barat. Para penerjemah tersebut kebanyakan berprofesi sebagai wartawan. Beberapa penerjemah tersebut adalah Hoedjin Tjan Tjon Bouw yang menulis untuk koran Tiong Hoa Wi Sien Po, Lie Kim Hok, Gouw Peng Liang, dan Ang Jan Goan. Alasan kenapa banyak penerjemah berasal dari wartawan adalah karena banyak karya terjemahan pertama kali terbit dalam bentuk cerita bersambung yang dimuat di koran, selain itu penerjemahan dilakukan oleh wartawan untuk menambah penghasilan mereka (Salmon, 1965: 55). Untuk novel-novel asli pada periode ini adalah novel realis yang muncul dari sebuah berita setempat yang dilaporkan dalam pers, contohnya Sair Java-Bank di rampok tanggal 22 Nov 1902 yang ditulis oleh Y.L.M yang merupakan orang Tionghoa dan F. Wiggers yang merupakan orang Indo Belanda.

Pada periode berikutnya, yaitu 1920-1930an, masih banyak penulis yang juga berprofesi sebagai wartawan atau jurnalis, contohnya Liem Gwan Ging, redaktur Djawa Tengah Review; Liem Poen Kie, yang bekerja untuk Pantja Warna; dan Oen Hong Seng yang sempat menjabat sebagai pemimpin redaksi Pewarta Borneo (Salmon, 1985: 88). Akan tetapi, terdapat perubahan dalam bentuk sastra Melayu Tionghoa. Pada periode ini muncul majalah-majalah di Jawa yang mengkhususkan diri pada novel.

Claudine Salmon (1965) telah melakukan penelitian mengenai majalah sastra ini. Majalah sastra Melayu Tionghoa pertama adalah Feuilleton yang terbit di Surabaya pada Oktober 1924. Majalah Feuilleton merupakan majalah sastra yang terbit bulanan dan hanya menerbitkan novel-novel yang agak pendek. Majalah ini hanya bertahan selama tiga bulan, tetapi gagasannya mulai tersebar. Masih pada bulan dan tahun yang sama terbit majalah bulanan lain yang berjudul Padang Boelan yang terbit di Pare, Jawa Timur, yang menerbitkan sastra terjemahan dari bahasa Tionghoa serta novel-novel asli berbahasa Melayu rendah.

Tahun 1925 terbit majalah Penghidoepan di Surabaya oleh Njoo Cheong Seng serta Hiboerankoe di Bandung oleh Tio Ie Soei. Menurut Salmon (1985), sejumlah kira-kira 180 novel telah diterbitkan dalam majalah Padang Boelan. Pada 1929 terbit majalah Boelan Poernomo di Semarang oleh Oen Hong Seng serta Tjerita Roman di Surabaya oleh Ong Ping Lok. Majalah-majalah tersebut tidak hanya menerbitkan Novel, tapi juga cerita pendek. Pada 1930 muncul empat majalah sastra baru, yaitu Moestika Panorama di Batavia oleh Kwee Tek Hoay, Pelita Penghidoepan di Bandung, Tjerita Novel yang juga diterbitka di Bandung oleh Nio Tian Pang, serta The Beauty di Batavia oleh Kwee Khe Soei. Majalah-majalah tersebut membayar para pengarang untuk cerita mereka sehingga jumlah pengarang pada periode ini meningkat tajam (Salmon, 1985).

 

Kesimpulan

Perkembangan Sastra Melayu Tionghoa tidak lepas dari pengaruh pers Melayu Tionghoa. Ia berkembang seiring dengan perkembangan pers. Sejak awal mula perkembangan pers Melayu Tionghoa, telah terdapat unsur sastra di dalamnya. Ada rubrik khusus di dalam surat kabar yang memuat cerita bersambung, baik dalam bentuk terjemahan atau cerita asli. Hal tersebut dilakukan untuk menarik minat pembaca. Sastra telah menjadi daya tarik tersendiri yang diharapkan dapat menaikkan permintaan akan surat kabar yang memuatnya. Karya sastra yang menarik kemudian akan diterbitkan dalam bentuk buku.

Cerita-cerita yang diangkat dalam sastra Melayu Tionghoa juga banyak yang berangkat dari kisah nyata yang merupakan laporan wartawan dalam surat kabar. Laporan para wartawan tersebut memunculkan ide cerita di kalangan penulis yang mungkin juga seorang pengarang. Meskipun tema anatar berita dan cerita sastra adalah peristiwa yang sama, tetap akan memunculkan kesan yang berbeda di benak pembacanya karena tentu saja sudut pandang dan gaya penceritaan antara berita yang merupakan karya non fiksi berbeda dari gaya penceritaan fiksi.

Pada zaman keemasan sastra Melayu Tionghoa, yaitu 1920-1930an, muncul gaya bentuk baru dalam sastra Melayu Tionghoa, yaitu majalah sastra. Bentuk baru ini dapat dikatakan revolusioner. Majalah sastra mempermudah pembaca karena pembaca dapat membaca banyak karya sastra hanya dengan membeli satu majalah. Dengan kata lain, pers juga membantu menentukan bentuk karya sastra Melayu Tionghoa di samping membantu penyebaran karya sastra Melayu Tionghoa. Karya sastra Melayu Tionghoa yang dimuat dalam pers tentu saja dapat dibaca oleh lebih banyak kalangan karena harganya yang juga lebih murah daripada bentuk buku. Harian atau majalah yang terbit berkala dan selalu memuat sastra tentu juga berpengaruh dalam jumlah karya sastra Melayu Tionghoa. Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut, perkembangan Pers Melayu Tionghoa turut berperan terhadap perkembangan Sastra Melayu Tionghoa.

 

 

Daftar Pustaka

Iskandar, Nur St. 2000. “Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia” dalam Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Pupuler Gramedia.

Nio, Joe Lan. 1962. Sastera Indonesia-Tionghoa. Jakarta: Gunung Agung.

Salmon, Claudine. 1985. Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu. Jakarta: Balai Pustaka.

Sumardjo, Jakob. 2004. Kesusastraan Melayu Rendah Masa Awal. Yogyakarta: Galang Press.

Suryadinata, Leo. 2010. Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

 

[1] Tugas makalah mandiri untuk mata kuliah Sejarah Sastra yang diampu oleh Christina Turut Suprihatin.

[2] Bahasa Melayu dengan huruf Arab.

[3] Bahasa perantara yang digunakan sebagai ‘titik temu’ dua pihak yang memiliki dua bahasa yang benar-benar berbeda.

[4] Cerita bersambung

[5] Sesuai periode yang dibuat oleh Claudine Salmon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s