Kutipan Cerita dalam Kepala

Children-Oil-Painting-06

Sumber gambar: google

Seperti pertemuan yang dilakukan oleh manusia lainnya, kita selalu memulai pertemuan dengan ucapan biasa, seperti “hai”, “halo”, atau sebuah senyuman. Kita tidak pernah memulai pertemuan dengan sesuatu yang tidak biasa, dengan sebuah ciuman misalnya atau bahkan tangisan. Tetapi sebenarnya kita sama-sama mengetahui bahwa sebuah pertemuan tidak selalu dibuka dengan perasaan senang. Ada kalanya sebuah pertemuan dibuka oleh sedih atau bahkan geram.Tapi semua harus ditutupi oleh senyum atau ucapan basa-basi agar semua terlihat normal. Bukankah begitu?

Kamu sedang berjalan ke Barat dan aku berjalan ke Timur ketika kukirim rindu itu. Kamu pernah berkata “Kalau kamu dan aku terus berjalan lurus tanpa pernah berhenti untuk singgah apalagi menetap, kita tentu akan bertemu lagi.” Aku tahu itu adalah kalimat perpisahan karena kita sama-sama paham bahwa pertemuan yang seperti itu akan memakan waktu yang sangat lama. Tetapi rindu tiba-tiba datang, memunculkan keberanianku untuk mengirimnya padamu. Aku sangat rindu berbincang denganmu. Lalu sore ini kita bertemu di kota persinggahan yang bukan kotaku juga bukan kotamu. Mungkin bukan hanya aku yang merindukanmu, mungkin kamu juga merindukanku. Karena alasan apalagi yang sanggup membuat kita kembali untuk bertemu? Kita sama mengetahui bahwa setelah sore ini kita akan kembali berpisah untuk menempuh jalan masing-masing.

Lantas, apakah pertemuan yang didasarkan rindu ini adalah kesia-siaan? Aku kira tidak. Tanpa pertemuan sore ini, tentu perjalananku akan kering dan sesak oleh rindu yang berdentam-dentam. Tanpa pertemuan sore ini mungkin perjalananmu akan diisi oleh rasa penasaran yang tak henti tentang kerinduanku padamu. Kita tidak memperbincangkan tentang sebuah pertemuan atau perpisahan. Kita membicarakan hal-hal di antaranya. Kita membicarakan tentang topeng kesukaan kita, bunga tulip di savana, serta rusa yang menjalin kasih dengan harimau.

Lalu kita tiba pada perpisahan karena kita pernah memulai pertemuan. Kita paham bahwa pada perpisahan tersedia “sampai jumpa” dan “selamat tinggal”. Aku ingin sekali berucap “Sampai jumpa” tetapi sepertinya kita tidak dapat memilih. Masa depan seperti air paling jernih yang membentangkan jawaban bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi. Akhirnya kita tak memilih “sampai jumpa” kita juga tak mengucapkan “Selamat tinggal”. Kamu mulai berjalan ke Barat dan aku melangkah ke Timur. Apakah yang diharapkan pada sebuah pertemuan? Perpisahan yang manis, tentu. Perpisahan ini manis tanpa sepatah katapun tentang perpisahan dan hanya ditutup oleh tatapan yang sangat jernih dan cemerlang yang menyiratkan lebih banyak makna dari yang bisa disuratkan oleh kata-kata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s