Sesungguhnya

“Selamat,” kau berucap pada pagi
“Selamat pagi.” ucapmu padaku
kepada siapa lagi kau ucapkan selamat?

selamat kepadamu yang masih diberi kesempatan menikmati pagi yang selamat.

Sepagi ini aku telah berjalan-jalan di hamparan abjadmu
membacamu selayaknya naskah kesukaan,
membacamu yang kasmaran,
membacamu yang gelisah,
membacamu bagai menyusuri kisah.
betapa menyenangkan.

Kau pernah berkata, “Jangan merasa kesepian.”
apakah itu yang terbaca dari susunan kata yang kuhampar?
Aku membaca cinta yang gelisah pada kisahmu
mungkin kau  membaca kesepian yang tenang pada kisahku

Aku tak pernah ingin membicarakan akhir denganmu karena
bukankah kita pernah bersepakat bahwa setiap pertanyaan mengantongi jawabannya masing-masing?
aku hanya ingin mengajakmu meresapi angin gunung yang dingin
sementara kabut mulai turun, meski hujan tak juga jatuh.

Sesungguhnya,
Aku hanya ingin pergi dari keramaian yang hiruk-pikuk
mencermati pikiranmu di pinggir telaga, di antara gersik angin sambil menikmati matamu yang coklat bening dalam hening.

Sesungguhnya aku hanya
ingin mengada di semestamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s