Ranum, Apa Kabar?

Ranum, apa kabar? Sudahkah lupa kepadaku? Jangan, ranum. Jangan sampai kau lupakan aku. Paling tidak, jangan sekarang. Aku masih mengingatmu, aku masih ingin diingat olehmu. Kamu pasti mengerti, setiap surat dariku adalah penanda bahwa sedang ada rindu yang bergejolak di sini. Kamu pasti mengerti bahwa setiap surat dariku adalah kegelisahan yang belum terurai. Kamu pasti mengerti bahwa ternyata hanya kepadamu aku lagi-lagi mengadu.

Sudahkah kau temukan rumah yang pas untukmu? Atau kau masih ingin berjalan dan berjalan. Aku ingin ikut denganmu, Ranum. Aku terjebak di kota ini. Di kota ini, aku terjebak pada sajak yang sentimentil. Aku ingin pergi dan bahagia, Ranum. Tapi jangan kau pikir aku tidak bahagia di sini. Aku pernah bahagia di sini. Aku pernah mencinta dan dicinta, tentu aku bahagia. Tapi aku ingin pergi dan tahu lebih banyak. Aku ingin belajar tentang hidup, kehidupan, dan menghidupi. Apakah aku jenuh? Mungkin saja tidak. Mungkin aku hanya sedang sedih.

Seperti yang sudah-sudah, nanti pasti sedihku akan hilang. Kau kan lebih paham daripada aku. Tapi proses menjadikan kesedihan menjadi kewajaran ternyata tidak mudah, Ranum. Kukira kuakan terbiasa juga pada semua itu. Tapi ternyata tidak. Sedih tetap sakit dan aneh. Limbung rasanya pijakanku. Tapi anehnya, tak ada airmata keluar. Aku ingin menjadi pemenang dan yang utama, Ranum. Salahkah? Aku tak mendapat jawaban, Ranum. Aku ingin pundakmu saat ini. Aku ingin bersandar sejenak. Melarung rasa yang mengamuk di dada dan kepala. Aku ingin istirahat.

Ranum, apakah di sana kau merindukanku? Kau pasti bosan, ya, dengan pertanyaanku ini. Tapi aku sungguh-sungguh penasaran. Apakah kau pernah merindukanku di sana? Kapan? Ketika kau sedang melakukan apa? Apakah aku cukup berarti buatmu hingga dapat menerbitkan rindu padamu? Aku benar-benar ingin mendengar jawabanmu. Tapi seperti biasa, kau hanya akan menjawab dengan siratan-siratan yang tak mampu kucerna. Mungkin bukan tak mampu. Mungkin aku hanya takut. Aku tak pandai membaca yang bukan kata. Aku tak pandai membaca tanda.

Bolehkah aku minta oleh-oleh darimu? Tenang saja, aku tak minta senja. Lagipula aku memang tak begitu mengagungkan senja. Aku lebih suka sore. Aku hanya minta topeng. Susah sekali rasanya menyembunyikan rasa ini, Ranum. Tapi aku terlanjur menjadi rahasia. Rasaku yang sesungguhnya tak dapat kuijinkan keluar dan dilihat oleh orang-orang. Tiba-tiba aku ingin bersembunyi di pelukanmu. Masihkah boleh kucari ketenangan dalam pelukanmu?

Ranum, aku ingin pergi ke tempat sepi dan berteriak sekencang-kencangnya. Apakah cinta pernah salah?  Apakah cinta dapat dimanipulasi? Apakah cinta pernah goyah? Apakah cinta hanya omong kosong belaka? Apakah cinta pernah bohong? Apakah cinta? Apakah pertanyaan-pertanyaanku ini mengganggumu? Tolong carikan jawabannya untukku dalam perjalananmu. Kali ini, aku sangat menunggu balasan darimu.

Kau pasti lagi-lagi kesal dengan suratku ini. Kau pasti bertanya, “Kali ini, siapakah yang menyakiti hatimu?” Dan aku akan menjawab “Bukan siapa-siapa.” Ah, aku belum pandai berbohong. Kau pasti akan segera tahu. Kenapa kau bisa mengetahuinya? Apakah dari sana kau juga memantauku? Sama seperti aku yang selalu memerhatikanmu?

Terima kasih, Ranum. Terima kasih telah mengada di duniaku. Terimalah semua rasaku. Kalau kau rasa terlalu menyusahkan, larung saja semua rasaku padamu di laut. Kusudahi suratku ini dengan doa agar kau selau baik-baik dan sehat-sehat saja di sana. Semoga kau temukan yang benar-benar bahagia dan membahagiakan. Aku masih di sini kalau kau ingin pulang. Mungkin kata pulang kurang tepat, tapi aku masih di sini kalau kau memutuskan untuk kembali. Aku menyayangimu.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s