Mimpi Gadis (Part 1)

Gadis itu terbangun dari mimpinya. Lagi-lagi dia bermimpi tentang laki-laki itu. Dia tidak pernah berharap memimpikan laki-laki itu. Gadis itu mengerti, mimpi adalah campuran dari harapan dan ketakutan. Tapi gadis itu tidak berharap sesuatu dari laki-laki yang hadir di mimpinya, apalagi takut. Jadi, bagaimana dia bisa memimpikan laki-laki itu? Tapi mimpi juga tercipta dari hal lain yang tidak mampu dia ungkapkan. Mimpi juga bisa berarti misteri.

Gadis itu terbangun tepat tengah malam. Dia tidak melanjutkan tidurnya. Dia merenungkan lagi mimpinya semalam. Di mimpinya, dia seperti dilempar dari ruang kosong melalui lubang hitam dan terjatuh tepat di samping laki-laki itu. Laki-laki itu ternyata sedang bercengkrama dengan wanita lain. Laki-laki dan wanita lain itu menyapa sang gadis, lalu melanjutkan pembicaraan mereka. Sepanjang mimpi, gadis itu hanya melihat si laki-laki bercengkrama dengan wanita lain tanpa mampu mengucapkan sepatah kata meski dia ingin sekali bertanya, “Kenapa aku harus memimpikanmu?”

Di sepanjang mimpinya gadis itu sadar sedang bermimpi, tapi dia tidak kuasa untuk terjaga. Jadi, yang dia lakukan hanya diam dan terus berpikir tentang kenapa dia harus memimpikan laki-laki itu? setelah dia perhatikan, ternyata dia berada ke sebuah taman yang cukup indah dengan bunga dan sungai kecil. “Seharusnya ini bisa menjadi mimpi indah jika tidak ada laki-laki itu” pikirnya. Ternyata keindahan tidak absolut. Tidak ada yang absolut di dunia ini, apalagi di mimpi.

Gadis itu lupa bagaimana dia bisa terbangun dari mimpinya. Selalu begitu. Dia bisa ingat bagaimana dia memulai mimpi, tapi tidak pernah bisa ingat bagaimana mimpi itu berakhir. Mungkin begitu pula dengan kematian. Gadis itu membayangkan hidup adalah mimpi dari kehidupan yang lain. Ah, ada berapa kehidupan sebenarnya? Hidup seringkali terasa seperti mimpi dan mimpi terasa sangat hidup.

Setelah dia terbangun tengah malam itu, dia hanya ingin kembali tertidur tanpa bermimpi. Dia sudah lelah bermimpi. Karena dia selalu ingat mimpinya setelah dia terjaga. Dia bagai hidup di dua dunia. Betapa nyamannya jika ia tidur tanpa bermimpi. Dan kehadiran laki-laki itu di mimpinya membuat mimpinya semakin menyakitkan untuk diingat.

Dia menengok ke luar jendela kamarnya. Langit gelap. Sepertinya bulan sedang tidak purnama. Bintang sama sekali tidak terlihat karena polusi cahaya di kotanya. Ada berapa orang di luar sana yang sedang bermimpi? Ada berapa orang di luar sana yang sedang tidak bermimpi? Adakah orang di luar sana yang sepertinya? Yang enggan untuk tidur kembali karena malas untuk bermimpi lagi? Dia tiba-tiba rindu masa kecilnya, rindu mendengar dongeng dari ibunya sebelum tidur, dan ia akan memimpikan dongeng itu.  Dia rindu tidur dengan nyaman.

Sebentar lagi matahari datang. Dia sangat menyukai perubahan warna langit setiap subuh. Langit berubah dari hitam, menjadi ungu (kadang jingga), lalu kemudian biru. Perubahan warna di langit memang biasa. Hal itu terjadi setiap hari tanpa pernah tidak berubah. Tapi, hal yang biasa akan menjadi sangat bermakna ketika sang penikmat memaknainya, bukan? Sama seperti mimpi-mimpi yang dialami gadis itu.

***

Di suatu siang yang basah, gadis itu merasa kesepian. Ia merasa hujan sedang menenangkannya, menghiburnya, seakan membelainya. Ia sedang sendiri di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai. Ia memesan coklat panas yang entah kenapa belum datang juga. Sebenarnya coklat panas hanya alasan agar ia dapat duduk sendiri di kafe itu sambil memandang ke luar jendela. Ia duduk persis di pojok, dekat dengan jendela besar. Ia melihat orang lalu lalang, tergopoh berlari mencari tempat berteduh. Ia ingat, waktu kecil dulu ia sangat menikmati hujan. Ia menyelinap keluar rumah untuk mandi hujan. Ia berlari, tertawa, menginjak genangan, dan bahagia. Semakin dewasa ia malah menghindari hujan. Tapi ia tetap cinta hujan.

Akhirnya coklat panas yang ia pesan datang. Ia selalu memesan coklat dan bukan kopi meski tidak ada alasan kuat yang membuatnya melakukan hal itu. Apakah semua hal di dunia ini butuh alasan? Ia juga tidak memiliki alasan kenapa ia memilih duduk di pojok kafe itu. ia tidak sedang mengenang atau menunggu. Ia hanya ingin duduk sendiri sambil melihat orang lalu lalang. Tapi ia teringat kata seseorang bahwa di dunia ini semua terjadi karena ada alasan di balik itu semua. Gadis itu berpikir, apa yang akan terjadi kalau ia duduk di sana dan memesan kopi, bukan coklat? Hal apa yang berkaitan dengan keberadaannya di kafe itu? padahal ia merasa kehadirannya di sana tidak berkaitan dengan apa-apa.

Ia jadi teringat mimpinya beberapa hari lalu yang juga berkaitan dengan laki-laki itu. Di dalam mimpinya, dia dan laki-laki itu tinggal di dua kota berbeda yang bersebelahan. Mereka mempunyai kehidupan yang sibuk. Tapi, jika keduanya sudah kehabisan kata-kata di kota yang sibuk, atau mulai merasa kesepian, mereka akan bertemu di sebuah kedai kopi di batas kota. Mereka duduk bersebelahan tanpa mengucapkan sepatah katapun karena yang mereka butuhkan bukan lagi kata-kata, tapi kehadiran satu sama lain.

Mereka duduk menghadap jendela yang besar. Mereka memesan air putih. Kenapa air putih? Gadis itu juga tidak begitu mengerti kenapa mereka hanya memesan air putih padahal mereka ada di sebuah kafe. Kehadiran kata-kata dirasakan tidak terlalu perlu di antara mereka karena kehadiran satu sama lain yang lebih bermakna. Di dalam mimpinya, gadis itu hanya menatap ke dalam wadah air putih dan bukan menatap laki-laki itu. Gadis itu merasa bahagia dapat duduk di sebelah laki-laki itu. sedangkan laki-laki itu hanya mentap ke luar jendela. Ada beragam rasa yang dilebur dalam diam.

Pada kenyataannya, gadis itu memang sudah jarang bertukar cerita dengan laki-laki itu. Kota yang sibuk, bagi gadis itu, mewakili kehidupan. Mereka memang jarang bertemu. Dia pernah menceritakan mimpinya itu pada sang lelaki, tapi lelaki itu tidak menanggapi cerita sang gadis sama sekali. Sejak saat itu, sang gadis tidak ingin menceritakan apapun pada lelaki itu. Mimpi yang bagi sang gadis sangat sarat makna, bagi sang lelaki adalah sesuatu yang tidak perlu ditanggapi. Gadis itu kecewa.

Tapi gadis itu juga tidak bisa menyalahkan sang lelaki. Apalah arti mimpi bagi orang yang tidak memimpikannya? Tidak ada sangkut pautnya. Wajar saja kalau laki-laki itu tidak menanggapi. Harus ditanggapi bagaimana? Kadang gadis itu merasa konyol juga. Gadis itu merasa mungkin sudah saatnya merelakan laki-laki itu. Mereka tidak akan dapat bersama selama masing-masing masih mempertahankan ideologinya. Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik untuk diikhlaskan daripada harus mati-matian dipertahankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s