Surat, Ranum

Selamat pagi, Ranum.

Selamat pagi meski aku tak tahu surat ini akan kau baca pada kapan. Baik-baik saja kah, kau? Hujan menyampaikan apa padamu? Kerinduanku? Doaku selalu agar kau bahagia dan sehat kapanpun di manapun. Aku juga berusaha untuk bahagia dan sehat.

Kemarin aku sedang merasa aneh. Aku merasa hidupku sangat kosong, tidak berguna. Aku alpa bersyukur. Lalu aku bercerita pada temanku. Aku tahu sekarang kenapa aku seperti ini. aku belum memulai apa-apa untuk mencapai mimpiku, sementara teman-temanku yang lain sudah mulai merintis jalan menuju mimpi mereka.

Lalu ketika aku pulang, aku mendapati ayahku sakit. Demam katanya. Aku khawatir. Tidak biasanya dia sakit. Sudahkah kuberi tahu kau bahwa aku anak manja? Sebagian besar waktuku aku gunakan untuk memikirkan tentang diriku, dan baru kemarin aku menggunakan waktuku memikirkan orangtuaku. Ah, aku egois sekali. Pantas, aku begini-begini saja.

Aku tahu ayah dan ibuku selalu khawatir kalau aku sakit, dan aku sebagai anak manja dan egois berpikir hal itu sudah sewajarnya dan seharusnya sehingga aku tidak merasa bersalah. Aku jarang melihat mereka sakit. Aku terbuai oleh kasihsayang mereka dan lupa membalasnya. Aku lupa, mereka juga manusia yang bisa sakit. Kini tiba saatnya aku merasakan kekhawatiran yang mereka rasakan. Mungkin kalau ada pengukur rasa khawatir, rasa khawatirku melihat mereka sakit masih jauh lebih sedikit dari kekhawatiran mereka bila melihat anaknya sakit.

Ranum, sejujurnya aku menikmati perhatian orangtuaku padaku ketika aku sakit. Aku suka mengetahui fakta ibuku memperhatikan napasku ketika aku tertidur. Ia bilang, ketika aku sakit napasku akan lebih cepat dan pendek. Ah, kasih seorang ibu memang luar biasa, kan? aku belum siap kehilangan ibuku, dan mungkin tak akan siap.

Nah, ini permasalahan baru, Ranum. Kita sama tahu kalau manusia pasti akan mati. Mati berarti kehilangan bagi yang hidup. Suatu saat nanti aku akan kehilangan orangtuaku. Kalau sekarang aku begitu khawatir melihat mereka sakit, mampukan aku mengobati kekecewaan ketika kehilangan mereka nanti? Mampukah aku mempertahankan kewarasanku? Aku tidak ingin mengkhawatirannya, tapi kadang perasaan itu muncul.

Kau mungkin merasa aku konyol karena merasa seperti itu. Mungkin kau merasa kesal. Tak apa. Maaf ya, untuk semua hal yang membuatmu merasa kesal padaku. Mungkin aku harus  berkata yang sama kepada kedua oarangtuaku. Bagaimana menurutmu? Baiklah, nanti aku akan mengatakannya. Sekarang, kusudahi dulu suratku. Bahagialah kau di sana.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s