Kepada Ranum

Halo, Ranum. Apa kabar? Lama sudah aku tak berkirim kabar padamu. Aku yakin, sudah lebih dari sebulan aku sama sekali tidak menyapamu. Aku rindu kamu, sungguh. Tapi aku tidak sempat menulis surat untukmu.

Sebulan kemarin aku bekerja di pusat kota untuk sebuah acara berskala internasional. Aku dipekerjakan di bagian undangan dan registrasi. Memang sih, terdengar biasa saja. Tapi pekerjaan ini luar biasa menyita waktuku. Aku bekerja dari hari Senin hingga Jumat. Berangkat sekitar pukul 9 atau 10 pagi, aku pulang paling cepat pukul setengah 8 malam (dan itu jarang sekali terjadi). Pernah aku sampai kantor pukul setengah 12 siang, pulang pukul setengah 6 pagi! Wah, aku luar biasa lelah sehingga tidak dapat menulis surat untukmu.

Di kantor itu aku kenal banyak orang baru. Aku dan temanku adalah yang paling muda di kantorku, kami sering diperlakukan layaknya anak kecil. Di sana, karena pekerjaan terlalu membosankan dan melelahkan, aku dan temanku memiliki ‘penyegar’. Penyegar yang aku maksud adalah lelaki yang umurnya hanya lebih tua 3 tahun dariku, sudah beristri dan memiliki anak, tapi dia dapat menghibur kami dengan gaya bicaranya yang lucu. Hahahahaha. Saat-saat yang paling aku suka adalah ketika menemani temanku merokok, dan dia sering ikut merokok. Pembicaraan-pembicaraan kami lucu. Aku suka sekali mendengar gaya bicaranya. Dia seperti anak kecil. Kadang aku merasa dia terlalu cepat menikah. Dia seperti belum cukup matang untuk memulai rumah tangga. Ah, tapi itu kan pendapatku. Dia tentu memiliki pendapat sendiri tentang hidupnya. Dan dia merasa menikah di usia muda adalah pilihan tepat.

Tapi bukan ‘penyegar’ yang aku rindukan. Aku malah rindu orang lain yang sering menggodaku di kantor. Ia sering menjodohkanku dengan seorang laki-laki yang belum menikah di kantor itu. Awalnya aku kesal, tapi lama-lama aku juga ikut bercanda. Aku rindu celotehan-celotehannya yang spontan dan suka membuat seisi kantor tersenyum. Bercandaannya tidak menggangguku. Aku tidak rindu persona, tapi aku rindu suasana. Aneh sekali, ketika aku masih bekerja di sana, aku tak sabar pekerjaan ini selesai. Tapi setelah pekerjaan ini benar-benar selesai, aku rindu suasana kerja di sana. Dasar, manusia.

Selama bekerja, aku sering memikirkan ayahku. Baru kali ini aku benar-benar bekerja dari senin hingga Jumat dan benar-benar menikmati setiap akhir pekan. Ayahku sudah bekerja seperti ini puluhan tahun lamanya. Ia pasti pernah melewati masa-masa buruk. Aku bekerja hanya untuk mengisi waktu luang, aku belum harus membiayai siapapun kecuali diriku sendiri. Akan tetapi, ayahku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan keluarganya. Ada beban di pundaknya. Akulah beban itu dan aku seringkali tidak sadar bahwa aku adalah beban meski ayahku tentu tidak akan berkata bahwa aku adalah beban baginya.

Aku terlalu banyak meminta dan menerima dari ayahku. Aku merasa sangat kerdil. Dan aku begitu tidak memerhatikan ayahku selama ini. Kemarin aku mengobrol dengan kakak sepupuku, ia bilang bahwa ayahku terlihat semakin tua. Ah, iya. Aku baru sadar. Selama ini aku tidak terlalu memerhatikan rambutnya yang memutih dan matanya yang semakin terlihat layu. Aku tidak peka pada kesehatannya. Ia sekarang mudah mengantuk dan tidak sekuat dulu. Aku selama ini berpikir ayahku sehat dan tetap kuat seperti aku kecil dulu. Ah, aku terlalu sibuk dengan duniaku. Ranum, aku harus apa?

Ranum, aku merasa kosong. Aku tidak tahu apa-apa tentang masa depanku. Aku tidak benar-benar tahu apa yang kuinginkan dan yang tidak kuinginkan. Burukkah hal ini, Ranum? Apakah aku benar-benar menyukai hal yang aku bilang aku suka? Aku sedang krisis, ya? Sepertinya begitu. Semua terlihat abu-abu. Aku tidak dapat memberi makna yang utuh pada banyak hal, pada impian, pada harapan, pada hidupku.

Ranum, aku ingn sekali duduk di sebuah café kecil yang tidak terlalu berisik, menyeruput secangkir coklat panas denganmu. Aku ingin sekali bercerita dan membagi perasaan aneh ini denganmu. Tapi bahkan aku tak benar-benar tahu apakah kamu peduli denganku. Aku ingin sekali jalan-jalan, menikmati alam, melihat kehidupan yang tidak akrab denganku. Ah, aku terlalu banyak meminta, ya? Baiklah, sebaiknya kusudahi saja suratku di sini. Lain kali, akan kuceritakan sesuatu yang menggembirakan  untukmu. Sampai jumpa di lain cerita, Ranum.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s