Indonesia dalem Api dan Bara

Indonesia Dalam Api dan Bara adalah karya sastra Melayu Tionghoa berupa novel sejarah yang ditulis oleh Tjamboek Berdoeri, diterbitkan di Malang, November 1947. Tjamboek Berdoeri adalah nama samaran dari Kwee Thiam Tjing. Novel ini berlatarkan pertengahan tahun 1941—1 Agustus 1947 di Surabaya dan Malang.

Indonesia Dalam Api dan Bara menggunakan sudut pandang orang pertama, alur yang digunakan adalah kilas balik. Tokoh Aku menceritakan kembali kejadian-kejadian yang dia alami. Di dalam novel ini tidak terdapat percakapan berupa kalimat langsung antara tokoh aku dengan orang-orang yang dia temui, karena seolah-olah tokoh aku berbicara langsung kepada pembacanya.

Novel ini bercerita tentang tiga zaman yang dilalui oleh Indonesia, yaitu zaman runtuhnya kolonial Belanda, zaman Jepang, dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Pada zaman runtuhnya kolonial Belanda, tokoh aku bercerita tentang keinginan untuk mempertahankan Hindia Belanda dari Jepang dapat menghapuskan rasisme yang telah ada di Hindia Belanda.

Perkara warna koelit dan kebangsaan soedah tida begitoe diambil moemet lagi seperti dalem keadaan biasa. (Berdoeri, 1947: 2)

Diceritakan bahwa pemerintah Hindia Belanda membentuk berbagai macam badan militer untuk membantu mereka dalam perang melawan Jepang, seperti Stadswacht, LBD, EHBO, dll. Tokoh Aku masuk ke dalam stadswacht pada pertengahan 1941 di Surabaya karena keinginan sendiri, bukan paksaan. Meskipun pada teorinya untuk masuk ke dalam stadswacht harus dengan sukarela, tapi pada kenyataannya banyak anggota stadswacht yang masuk karena paksaaan, terutama karyawan yang dipaksa oleh bosnya yang merupakan orang Belanda. Stadswacht adalah pasukan penjaga kota.

Setelah tokoh Aku pindah ke Malang, ia masuk ke dalam stadswacht di sana. Akhirnya ia mendapatkan pangkat sersan. Ia mengkritik sikap peranakan Tiongha yang menjadi serdadunya karena tidak bertanggung jawab atas tugas yang diserahkan kepadanya.

Djangan seantara djadi chef atawa djadi anak-mantoe millionnair, sedeng jang djadi klerk atawa jang poenja toko sedengan sadja soedah betingka tida karoean. Kalo mesti njapoe, koh njapoe katanja; djika mesti koepas kentang, saben satoe bidji kentang dikoepas a la dadoe-dadoean, ngomelnja soedah ada sepoeloeh kali. Bila diwadjibken djaga kamar, lantas akal boeloesnja keloear, minta toeloeng sana-sini boeat soeka djadi ia poenja koeadjiban sendiri. Dan kaloe wacht, ada sadja alesannja boeat bikin dirinja tida berdiri di post penoeh doewa djam di waktoe siang dan satoe djam di waktoe malem, hingga dengen begitoe iaorang tjoerangin kawannja jang kerna lambatnja, moesti berdiri lebi lama di tempat pendjagaannya. (Berdoeri, 1947: 61)

Akan tetapi ia juga mengkritik sikap pemerintahan Belanda yang mendiskriminasi masyarakat peranakan Tionghoa dengan tidak menyediakan kedudukan di pemerintahan.

Orang Tionghoa jang bisa djadi inspekteur Financien 1ste klas tida ada, kerna kedoedoekan begitoe memang tida disediakan oleh Bapa Goebernemen oentoek golongan kita, biarpoen di itoe waktoe kita seriboe satoe kali mendjadi Nederlandsche onderdaan (maar) niet Nederlander. (Berdoeri, 1947: 61)

 

Stadswacht tidak menggaji anggota-anggotanya, tokoh Aku menjadi anggota dengan niat untuk mengalahkan Jepang dan memperthankan Hindia Belanda. Ketika Jepang mulai masuk ke Malang ia kecewa pada petinggi-petinggi stadswacht yang merupakan orang Belanda karena mereka melarikan diri dengan tujuan menyelamatkan diri dan keluarganya, sedangkan tokoh Aku masih bertahan di posnya hingga ada perintah resmi dari atasannya bahwa Belanda menyerah dan stadswacht diperintahkan untuk mundur. Pembaca dapat melihat sisi patriotik dari tokoh Aku. Tapi tokoh Aku bukanlah kaum patriotik yang militan, ketika ia diperintahkan untuk mundur, maka ia mundur dan tidak ikut ke dalam gerakan bawah tanah untuk melawan Jepang.

Setelah Jepang masuk ke Malang, ia menjadi masyarakat sipil kembali. Awalnya masyarakat pribumi menyambut kedatangan Jepang dengan sukacita karena dianggap sebagai saudara tua akan tetapi setelah beberapa lama ternyata Jepang memerintah dengan sangat kejam. Jepang memerintah dengan kekerasan, tokoh Aku menyebut pemerintahan Jepang sebagai pemerintahan yang fasis. Bahasa menjadi salah satu kendala yang dihadapi masyarakat saat itu. Masyarakat Indonesia tidak mengerti bahasa Jepang, begitu pula sebaliknya.

Ketika Jepang baru berkuasa, banyak toko milik peranakan Tionghoa yang dirampok oleh pribumi. Tokoh Aku menyatakan dengan tersirat bahwa sejak dahulu kaum Tionghoa memang sering menjadi korban perampokan, akan tetapi ia tidak menyalahkan kaum pribumi sebagai perampok.

…Tapi djoestroe itoe perboeatan soeroe toko diboeka membawa akibat jang koeatken doegaan saja, bahoea benar-benar orang-orang Tionghoa diam-diam moesti teken soerat perdjandjian resia oentoek minta monopolie agar dirinja saja jang dirampok. Kerna, koetika tida lama kemoedian itoe rombongan militair Djepang berangkat lagi boeat menoedjoe ka Malang, kawanan perampok roepanja tjoema toenggoe sadja itoe saat.

Mereka gotong pergi segala apa jang bisa diambil…(Berdoeri, 1947: 95)

Dan pembatja saja jang boekan golongan Indonesier, djangan lantas pandeng rendah pada bangsa Indonesia, kerna kabetoelan perampok-perampok itoe kebanjakan terdiri dari orang-orang Indonesier. Logisch, sebab itoe semoea perboeatan terdjadi di tanah Djawa, satoe bagean dari tanah Indonesia. Tapi djika kedjadian di Tiongkok, jang djadi perampok-perampoknja djoega orang-orang Tionghoa; bila di Nederland, idem orang-orang Belanda dan begitoe seteroesnja. (Berdoeri, 1947: 96)

Pada zaman Jepang, tokoh aku diangkat sebagai Tonarigumityo atau ketua Rukun Tetangga. Orang-orang yang tidak termasuk ke dalam golongan bangsa Jepang atau Indonesia harus mendaftarkan dirinya dengan membayar biaya tertentu. Biaya pendaftaran disesuaikan dengan pendaftar, jika pendaftarnya adalah seorang yang bukan golongan Eropa membayar seratur rupiah untuk laki-laki dan lima puluh rupiah untuk perempuan. Untuk golongan Eropa, seratus lima puluh rupiah untuk laki-laki, dan delapan puluh rupiah untuk perempuan.

Masyarakat Belanda, terutama yang laki-laki, banyak dijadikan pekerja paksa oleh Jepang, sedangkan yang perempuan dikumpulkan menjadi satu di suatu tempat pengasingan. Hal tersebut berlaku bagi Belanda totok, oleh karena itu masyarakat Belanda mulai sibuk mengumpulkan bukti untuk membuktikan bahwa mereka memiliki campuran dengan bangsa Indonesia, sehingga tidak perlu masuk ke dalam tempat pengasingan.

Pemerintahan Jepang tidak membiarkan organisasi-organisasi tumbuh di Indonesia. Hanya ada satu perkumpulan Tionghoa yang diizinkan berdiri di Malang, yaitu Hua Chiao Feng Kung Hui. Pekerja di dalam anggota ini digaji oleh pemerintah dan mendapat fasilitas yang bagus, tidak sesuai dengan keadaan masyarakat saat itu. Oleh karena pelayanannya yang tidak baik, birokrasi yang berbelit-belit, dan banyak masyarakat yang mengeluh tentang organisasi ini, cara kerja di dalamnya pun diubah, yaitu bekerja dengan sukarela.

Menjelang kekalahan Jepang di dalam perang melawan Amerika, pemerintahan Jepang di Indonesia mendirikan Kakyo Shokai  untuk merekrut pemuda-pemuda Tionghoa untuk dijadikan Keibootai, tentara untuk membantu Jepang dalam Perang. Tokoh Aku pernah menjabat sebagai juru tulis di dalam Kakyo Shokai. Awalnya ia tidak ingin menjabat, akan tetapi karena terus menerus diminta untuk  bekerja di sana akhirnya ia menyetujuinya. Selain itu ia juga tidak ingin dicap antiJepang karena kalau ia sampai dicap seperti itu maka nyawanya akan terancam. Akan tetapi ia hanya bertahan satu bulan karena ia merasa pekerja di sana hanya mesin yang tidak memiliki kehendak sendiri, yang bekerja hanya untuk menerima gaji, dan ia tidak suka bekerja dengan cara seperti itu.

Selain mendirikan Kakyo Shokai dan Keibootai, pemerintah Jepang juga mendirikan Peta (Pembela Tanah Air) untuk orang-orang pribumi yang bertugas seperti Keibotai. Jepang juga meminta emas dan berlian serta barang-barang berharga lainnya dari warga untuk biaya perang mereka. Banyak masyarakat yang dijadikan romusha oleh Jepang. Di beberapa daerah muncul gerakan-gerakan perlawanan terhadap Jepang, tapi yang menjadi korban adalah masyarakat Tionghoa.

Di masa awal kemerdekaan Indonesia, masyarakat Belanda awalnya bersuka cita karena pesawat Belanda mulai hilir mudik di udara dan di Lapangan Rampal diturunkan asupan makanan dan obat-obatan bagi orang-orang Belanda dari pesawat milik Belanda. Banyak orang-orang Belanda dan Indonesia yang berkumpul di Lapangan tersebut. Tokoh Aku, sebagai ketua Rukun Tetangga diminta oleh orang-orang Belanda untuk mengusir orang-orang Indonesia dari sana. Permintaan tersebut ditolak oleh tokoh Aku. Akhirnya tokoh Aku mengadakan suatu rapat dengan warganya, khususnya orang-orang Belanda, untuk memberikan pemahaman bahwa yang harus mereka lakukan adalah menunggu dengan perintah selanjutnya, jangan bersikap sombong, apalagi sampai menyinggung perasaan  golongan lain karena berkemungkinan menimbulkan bentrokan.

Setelah tanggal 10 November 1945, keadaan di Malang mulai genting. Banyak masyarakat yang dicap sebagai mata-mata musuh. Masyarakat Belanda diboikot oleh Pemuda Indonesia, mulai dari listrik hingga makanan. Akan tetapi tokoh Aku memberikan makanan secara diam-diam kepada warganya yang berkebangsaan Belanda. Hal tersebut dilakukannya karena ia merasa wajib menolong sesama manusia tanpa harus memandang bangsa.

Moelai dari hari pemboycotan, dari pagi hingga sore saja dan istri saja dengen semboeni anter barang barang makanan dengan liwatin tembok dan pager, kerna saja tida bisa denger bagimana itoe anak-anak Belanda pada menangis: “Mammie, ik heb honger.”…

Saja berboeat begitoe boekan kerna ingin trima kasinja Belanda, boekan sebab ingin djilat Belanda, dengen menentang kamoerkahannja fihak Indonesier, hanja saja sekedar lekoeken sadja apa jang satoe manoesia koedoe berboeat terhadep sesamanja. (Berdoeri, 947: 170)

Pada pertengahan November 1945, orang-orang Belanda harus ditahan kembali. Warga Belanda di lingkungan yang dipimpin oleh tokoh Aku menitipkan barang-barang berharganya kepada tokoh Aku sebelum mereka berangkat. Setelah orang-orang Belanda pergi, terjadi perampokan di rumah-rumah yang ditinggalkan. Tokoh Aku sendiri didatangi oleh pembantunya yang membawa pemuda-pemuda Indonesia untuk mengambil barang-barang orang Belanda yang dititipkan oleh orang-orang Belanda. Tokoh Aku disuruh oleh pemuda-pemuda itu untuk markas mereka di bekas gedung KSB di jalan Ijen. Akan tetapi setelah ke sana, ternyata ia dimaki-maki karena memberi makan secara diam-diam ke warganya yang berkebangsaan Belanda. Tokoh Aku membela diri dengan mengatakan bahwa sebagai kepala Rukun Tetangga ia tidak bisa membiarkan warganya kelaparan. Tokoh aku meminta dirinya dipecat dari jabatan ketua Rukun Tetangga, akan tetapi hal itu dirasa tidak perlu oleh pemuda. Setelah ia menanyakan perihal barang-barang yang diambil oleh pemuda di rumahnya tempo hari, ternyata mereka tidak mengetahui siapa yang mengambil barang-barang tersebut. Saat itu presiden menganjurkan untuk beramah-tamah dengan orang-orang Tionghoa, sehingga tokoh Aku selamat dari para pemuda. Di masa-masa awal revolusi banyak oknum yang mengambil keuntungan pribadi dari kekacauan yang terjadi.

Pada masa revolusi banyak masyarakat Indonesia yang kelas sosialnya berubah menjadi lebih baik. Banyak pula muncul masyarakat kelas menengah ke bawah yang oleh tokoh Aku disebut dengan Djamino dan Djoliteng.

Tadi ini semoea ada tjiptahan revolutie pembatja, dalem zaman mana djongos bisa djadi toean dan toean djadi nul. (Berdoeri, 1947: 176)

     Golongan marika, dalem keadaan biasa, memang meroepaken golongan pendoedoek dari kelas sedikit lebi tinggi dari kelas jang paling bawah. Dan di zaman revolutie, golongan terseboet bisa mendjadi doewa golongan lagi, Djamino dan Djoliteng golongan gepeupeul dan Djamino dan Djoliteng golngan gespuis…Djamino dan Djoliteng gepeupeul bisa tjongkak, bisa sombong, apalahi djika lagi melangkring di gedongnja, di atas bangkoe saalbuls jang tempat doedoeknja dibikin dari bloesdroe. Tapi ia tida djahat.

Djamino dan Djoliteng gespuis, marika itoe di zaman revolutie mendjadi pemboenoeh, toekang perkosa, toekang bakar reomah pendoedoek jang tida berdosa, toekang sembeleh korban-korbannja jang majit-majitnya kamoedian ditoewangin benzine boeat dibakar! (Berdoeri, 1947: 178)

Tanggal 21 Juli 1947, diadakan praktik bumi hangus untuk menghalau pasukan Belanda. Perampokan-perampokan terjadi lagi. Kekacauan terjadi di mana-mana. Pada tanggal 1 Agustus 1947 tokoh Aku mendapati sanak keluarganya ditahan oleh pemuda Indonesia karena dianggap mata-mata musuh. Ada beberapa orang Tionghoa yang selamat dari penangkapan tersebut, dari orang-orang yang selamat itulah tokoh Aku mencari informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dari mereka ia tahu bahwa orang-orang Tionghoa, termasuk keluarganya ditangkap dan di bawa ke Gadang dan Mergosono. Setelah ia mengetahui yang sebenarnya, ia ingin menemui orang-orang Indonesia untuk diajak berdiplomasi agar orang-orang Tionghoa yang belum dilepaskan selamat. Akan tetapi usahanya tidak berhasil.

Beberapa hari kemudian ia ke Mergosono untuk melihat apa yang terjadi, ternyata ia mendapati kuburan massal yang berisi orang-orang Tionghoa dan beberapa adalah keluarganya. Ia marah sekali karena merasa kuburan tersebut tidak layak. Ia pergi ke Chung Hui untuk melapor, oleh Chung Hui ia disuruh melapor ke Ang Hien Hoo karena mnurut Chung Hui yang mengurus hal-hal tersebut adalah Ang Hien Hoo. Akan tetapi ketika tokoh Aku pergi ke Ang Hien Hoo ia disuruh ke Chung Hui. Tokoh Aku menjadi sangat marah karena merasa dipermainkan. Akhirnya ia menyeret dua orang dari Ang Hien Hoo untuk melihat bagaimana keadaan di Mergosono. Di akhir buku ini, tokoh Aku hanya berharap kedamaian segera datang di Indonesia.

Apa sebenarnya yang ingin diceritakan pengarang lewat buku ini? Jika dibaca sepintas buku ini seperti hanya memberi gambaran tentang segala sesuatu yang terjadi di Malang pada thun 1941—1947, akan tetapi jika dilihat lebih lanjut sebenarnya pengarang menyinggung soal kemanusiaan dan membicarakan tentang ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat peranakan Tionghoa. Di dalam setiap pergantian zaman atau di setiap kericuhan, pengarang selalu mengatakan bahwa masyarakat peranakan Tionghoa selalu dirampok atau menjadi korban. Kerugian atau kekerasan yang dialami oleh masyarakat peranakan Tionghoa memang bukanlah hal yang selalu dibicarakan pengarang dari awal hingga akhir cerita, namun ia selalu menyisipkannya.

     Jang saja, sebagi orang Tionghoa, sekarang hendak kemoekaken pada pembatja, oentoek ambil doewa tjonto sadja, jalah ini:

Di Blitar ada bebrapa orang Indonesia jang gaboengkan dirinja dalem Peta, lakoeken pemberontakan lawan tindesan Djepang, tapi itoe kemoerkahan dioetarakan via golongan Tionghoa, sebab dalem keriboetan jang katanja ditoedjoehkan pada si penindes, ada bebrapa orang Tionghoa jang mendjadi korban.

Koetika fihak Belanda moelai dengen apa jang marika namaken politioneele actie, dan waktoe pasoekannja masoek di Malang (saja soedah bilang, saja ambil tjoema doewa tjonto sadja) kombali oleh bebrapa grombolan orang orang Indonesia, dalem marahnja pada Belanda, orang-orang Tionghoa jang dibabatin.

Ini jang aneh!

Roepanja orang-orang Tionghoa di Indonesia memang soedah ditakdirken oentoek djadi tusschen station jang penting, djadi sematjem richting aanwijzer, sabelonnja napsoe amarah itoe bisa ditimpahken ka djoeroesannja jang betoel. Di zaman Asia Timoer Raja, Djepang jang hendak diarah, katanja, tapi pelor-pelornja Peta beristirahat di dada Tionghoa doeloe.

Di zaman dalem mana orang Belanda oleh bebrapa gerombolan orang Indonesia ditoedoeh ingin mendjadi pendjajah kombali, boekannja si Belanda jang ditjari, tapi orang-orang Tionghoa jang di sembeleh. (Berdoeri, 1947: 157)

Dari kutipan di atas pembaca dapat mengetahui bahwa pada zaman tersebut masyarakat Tionghoa selalu menjadi korban. Pengarang meilhat hal tersebut sudah sering terjadi dan menganggapnya sebagai takdir orang Tionghoa. Pengarang tidak menyalahkan bangsa Indonesia sebagai penyebab itu semua, karena ia membedakan antara orang indonesia dan bangsa Indonesia. Ia tidak mengeneralisir orang-orang Indonesia yang melakukan tindakan kejahatan terhadap orang-orang Tionghoa sebagai bangsa Indonesia. Ia tidak menganggap bangsa Indonesia semua kejam. Ia mengkritik masyarakat Tionghoa yang tidak dapat mengambil sikap menghadapi pemerintahan yang sedang berkuasa, menurutnya masyarakat Tionghoa selalu mengikuti apa yang sedang berkuasa tanpa memikirkannja masak-masak sehingga mereka menjadi korban kekerasan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kutipan di bawah ini:

     Saja tida maoe tanja, apa salahnja orang-orang Tionghoa itoe jang didjadiken korban; saja tida maoe kemoekaken seolah-olah orang Tionghoa itoe meloeloe terdiri dari orang-orang jang poetih bersih lahir batinnja, kerna zoo iets zal niet kunnen bestaan. Orang Tionghoa seperti djoega orang dari bangsa manapoen, sama bersinja, sama koprotnja. Barangkali kesalahan paling besar terletak pada fihak Tionghoa sendiri dengen sikapnja apem-apeman. Bila fihak Tionghoa beladjar lempar itoe sikep kaja koewee peroet ajam, beladjar bikin kakoe sedikit toelang belakangnja hingga tida mabat-mabit teoroet aliran angin jang lagi menioep, beladjar bikin tjioet sedikit tenggorokannja hingga tida maen telan sadja apa jang disoegoehken di depan moeloetnja, barangkali baroe fihak Tionghoa bisa dipensioen sebagai bliksem afleider!

Tjoema sadja, pembatja, hendaklah djangan diloepa barang satoe detik, kesalahannja orang Indonesia, orang Belanda, orang Tionghoa boekan berarti kesalahannja bangsa Indonesia, bangsa Belanda, bangsa Tionghoa.

Sebagi bangsa terhadep bangsa, bangsa Indonesia, bangsa Belanda, bangsa Tionghoa dan laen-laen bangsa poela jang isih ini doenia sama loehoernja, sama rendahnja; sama moelianja, sama boeroeknya. Tida perdoeli oleh alam warna koelit kita ditjat item, poetih, koening dan, voor mijn part, dengen segala warna jang dipoenjaken oleh samber lilen. (Berdoeri, 1947:157—158)

Pada bagian terakhir di dalam buku ini pembaca dapat melihat kemarahan tokoh Aku karena banyak orang Tionghoa yang dibantai dan dikuburkan dengan tidak layak. Ia marah sekali, tapi ia tidak mengatakan bahwa ia marah dengan pihak Indonesia, ia marah dengan sifat organisasi Tionghoa yang seakan ingin mengangkat tangan atas kejadian tersebut. Ia ingin makam tersebut dibehani dan orang-orang Tionghoa tersebut mendapat makam yang layak. Tapi ia sama sekali tidak menyinggung Indonesia.

     Pembatja, saja mengakoe jang itoe waktoe darah Djamino dan Djoliteng dalem toeboeh saja jang bekerdja. Disebabken oleh apa jang saja liat di Mergosono, ketambahan oleh sikep melempem dari marika jang namaken dirinja pemoeka-pemoeka kita. (Berdoeri. 1947: 221)

Melalui buku Indonesia Dalem Api dan Bara, Tjamboek Berdoeri alias Kwee Thiam Tjing ingin mengungkapkan ketidakadilan yang dialami oleh bangsa Tionghoa di setiap pergantian zaman, mulai dari runtuhnya Hindia Belanda hingga awal revolusi Indonesia, tanpa menyalahkan pihak Indonesia. Di awal buku, ia menulis Ditoelis sebagi peringetan oentoek anak tjoetjoe saja. Dari tulisan tersebut pembaca dapat melihat bahwa pengarang ingin buku ini dibaca oleh keturunannya sebagai peringatan agar mereka belajar dari kesalahan-kesalahan zaman itu.

Penulis-penulis Indonesia juga menulisa tentang revolusi, salah satunya adlah Nur St. Iskandar yang menulis Udjian Masa yang diterbitkan tahun 1952. Buku ini mirip dengan Indonesia Dalem Api dan Bara, berlatarkan kedaan zaman revolusi di Jakarta, mulai 21 Juli 1947 hingga 1 April 1948. Buku ini berbentuk buku harian, memiliki sudut pandang orang pertama. Tidak seperti dengan Indonesia Dalem Api dan Bara yang ercerita dengan alur kilas balik, Udjian Masa memiliki alur linear. Bahasa yang digunakan di dalam buku Udjian Masa adalah bahasa Indonesia yang telah sesuai ejaan yang berlaku, sedangkan di dalam Indonesia Dalem Api dan Bara menggunakan bahasa Melayu pasar. Akan tetapi, kedua buku ini sama-sama menggunakan bahasa daerah sebagai warna lokal di beberapa bagian, terutama kalimat langsung. Di buku Indonesia Dalem Api dan Bara penulis memasukkan bahasa Jawa, sedangkan di buku Udjian Masa penulismemasukkan bahasa Betawi.

Udjian Masa bercerita tentang keadaan Jakarta, sebagai kota diplomasi, di zaman revolusi. Tokoh Aku di dalam cerita ini bernama Tjaja yang bekerja sebagai guru. Diceritakan bahwa Jakarta tidak dapat melakukan praktik bumi hangus untuk melawan Belanda yang datang kembali ke Indonesia, jadi yang dilakukan oleh orang-orang di Jakarta adalah dengan tidak melakukan kerjasama dengan Belanda, mereka melakukan mogok kerja. Belanda dengan segala cara menghasut orang-orang Indonesia untuk bekerja bersama dia,beberapa orang terhasut karena tekanan ekonomi. Orang-orang yang terhasut kemudian mengajak orang lain untuk bekerja bersama Belanda. Orang-orang yang berjiwa patriotik enggan melakuakn kerjasama meski keadaan ekonomi semakin menghimpit, tapi ada pula yang terhasut.

Di dalam buku ini diceritakan juga tentang sepak terjang pemimpin Indonesia di kancah Internasional. Perkembangan Indonesia di dunia Internasional diketahui melalui radio yang dimiliki oleh pak Tjaja. Uniknya, selain presiden dan wakil presiden, semua pembesar negeri namanya disamarkan, seperti Bung Ketjil, Bung Beres, Pak Djakarta, dan Wak Haji. Bung Ketjil adalah Syahrir, Bung Beres adalah Amir Syarifudin, Pak Djakarta adalah Suwiryo, dan Wak Hadji adalah Agus Salim.

Buku ini juga sedikit menyinggung tentang orang-orang Tionghoa. Di dalam buku ini orang Tionghoa, menurut warga Jakarta, digambarkan sebagai oportunis yang membela pihak manapun yang memberi mereka keuntungan. Akan tetapi pak Tjaja, sebagai tokoh utama, mengatakan bahwa tidak semua orang tionghoa seperti itu.

Tentu sadja tidak sekalian bangsa Tionghoa bersifat sematjam itu, banjak pula mereka itu jang berhabis-habis menolong dan menjokong perdjuangan kita. Baik di pedalaman, baikpun di daerah jang telah diduduki musuh. Hal itu sudah kehendak alam, bukan? Djangan kita memandang kepada bangsa asing sadja. Bangsa kita sendiripun mau mendjual negerinja, asal ia kaja dan senang dan mewah sendiri!! (Iskandar, 1952: 54)

Di dalam buku ini juga terdapat satu subbab di tanggl 26 Agustus 1947 yang membahas tentang Tionghoa. Pada tanggal tersebut diadakan konfrensi dari 31 cabang Chung Hui, mereka menyatakan mendukung kemerdekaan Indonesia, tapi tidak menerima perlakuan buruk yang terjadi beberapa waktu lalu yang menimpa orang-orang Tionghoa karea hal tersebut melanggar peri kemanusiaan dan keadilan. Hasil dari konfrensi tersebut adalah akan dibentuk Chung Hua Ghung Hui lien Ho Pan She Thu atau badan koordinasi Chung Hua Chung Hui seluruh Indonesi ayang berpusat di jakarta yang bertugas untuk memberi pertolongan kepada masyarakat Tionghoa yang menjadi korban. Keputusani ni diterima oleh Belanda, tapi tidak oleh pemerintah Indonesia karena pemerintah Indonesia sanggup memberikan keamanan bagi bangsa Tionghoa.

Di dalam buku ini pak Tjaja berpendapat bahwa Indonesia mungkin bersalah terhadap masyarakat Tionghoa, tapi semua kejadian itu adalah buah dari revolusi. Menurutnya setiap revolusi pasti membawa akibat buruk, bahkan di Tiongkok. Ia hanya berharap masyarakat Tionghoa jangan berat sebelah dan jangan merusak hubungan baik antara Indonesia-Tionghoa dengan mencari keuntungan pribadi.

Baik Tjamboek Berdoeri maupun Nur St. Iskandar tidak mengelak bahwa Masyarakat Tionghoa sering menjadi korban kekerasan di Indonesia, keduanya tidak menyalahkan orang Indonesia atas kejadian seperti itu, dan menyayangkan sikap kebanyakan masyarakat Tionghoa yang oportunis. Akan tetapi yang dikemukakan keduanya lewat bukunya masing-masing tentu berbeda. Tjamboek Berdoeri alian Kwee Thiam Tjing ingin memberitahu masyarakat luas bahwa masyarakat Tionghoa sering menjadi korban, dan ia menggugat orang-orang Tionghoa yang tidak peduli terhadap bangsanya yang menjadi korban. Ia ingin menggugah kesadaran orang-orang Tionghoa, ia tidak begitu peduli soal kemerdekaan Indonesia, ia hanya ingin kedamaian dania bersikap netral. Sedangkan Nur St. Iskandar bercerita tentang Indonesia yang mempertahankan kemerdekaannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s