Surat Dini Hari

Halo, Ranum

Aku tulis surat ini dini hari. “dini hari”, manis, ya? Seperti namaku. Ah, sudahlah, jangan kita bicarakan tentang dini hari. Aku menulis surat ini karena aku tidak bisa tidur lagi, Ranum. Aku tidur terlalu cepat dan terbangun tengah malam. Hingga saat ini mataku belum bisa terpejam.

Aku tidak terbiasa terjaga di waktu seperti ini. Hal ini membuatku gelisah. Aku mulai berpikir tentang banyak hal, mengandaikan berbagai kemungkinan di dalam hidup. Aku mulai mengarang-ngarang cerita yang membuat kepalaku sakit. Aku memutuskan menulis surat kepadamu agar kegelisahanku berkurang.

Hidup ini, Ranum, penuh dengan kejutan. Bukankah sudah kubilang kepadamu kita tidak akan pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah ini, bahkan sedetik setelah ini. Aku mendapat tawaran kerjaan dini hari ini dari temanku, tepat setelah aku berpikir bahwa aku merasa bosan karena sedang tidak melakukan pekerjaan apapun. Ternyata ia telah menelponku berkali-kali untuk memberi tahu tentang tawaran pekerjaan ini, tapi aku tidak juga terbangun. Tapi tengah malam aku terbangun dan mengecek telpon genggamku, aku membaca pesannya. Aku kira dia sudah tidur, ternyata belum. Akhirnya aku terima pekerjaan itu. Kalau aku terlambat bangun, aku tidak akan mendapat pekerjaan itu. Menurutku kejadian ini cukup lucu, seperti banyak kejadian lucu lainnya di hidupku.

Aku mulai mengenang, Ranum. Aku mengenang tentang jalan. Jalan rindang di depan rumah-rumah mewah di Jakarta. Aku selalu suka berjalan di tempat seperti itu, tapi kenyataannya aku baru sekali (atau dua kali) berjalan di sana. Aku tidak cukup berani berjalan di sana sendiri. Aku ingat aku berjalan dengannya. Menikmati jalan yang cukup jauh dengan taburan cerita dan tawa di sana-sini. Kami berjalan menuju taman. Aku sangat suka perjalanan itu karena aku suka melihat rumah-rumah yang indah, pohon yang rindang, juga jalanan yang tidak terlalu sibuk.

Aku ingat kami tiba di taman pada sore hari. Kami menghabiskan petang di sana. Kami mendengar pemain biola bermain dengan biolanya. Indah sekali, Ranum. Langit yang semburat jingga, alunan biola yang merdu, anak-anak yang berlarian, dan kami yang tersenyum. Aku juga ingat toko roti yang sering kami kunjungi di dekat sana. Kami akan memilih roti kesukaan kami, membayarnya, lalu duduk di pojok ruangan dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Kami selalu bercerita, tapi aku tak ingat apa yang sudah kami ceritakan. Kenapa, ya, Ranum?

Ranum, pernahkah kamu merasa hal yang dulu sangat inginkan tiba-tiba kamu dapatkan ketika kamu sudah tidak terlalu memikirkannya? Aku dulu pernah menginginkan sesuatu, tapi tak kunjung ku dapatkan. Tapi ketika aku sudah mulai merelakan keinginanku itu, sesuatu yang dulu aku inginkan tiba-tiba datang. Semesta seperti ingin menghiburku. Seolah-olah ia mengatakan “Ini hadiah dariku. Jangan lupa, kau pernah amat menginginkan hal itu.” Aku senang sekali, Ranum. Tapi seperti yang sudah kubilang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku harus selalu siap merelakannya agar kehilangan tidak terasa terlalu berat karena kehilangan adalah satu hal yang pasti terjadi dalam hidup kita. Aku pun harus rela kehilanganmu suatu hari nanti, Ranum.

Sebenarnya aku mengantuk, Ranum. Tapi setiap kali aku pejamkan mataku, pikiranku malah semakin ramai. Aku tidak bisa tidur dengan pikiran yang begitu ramai. Kalau kau di sini, tentu aku akan memintamu memainkan gitar dan petikkan nada-nada lembut untukku. Tapi kamu tidak di sini, kamu sedang di kota manis nan tenang. Apakah di sana, saat musim hujan seperti ini, daun-daun tetap berguguran? Apakah kamu dapat memandang gunung di kejauhan? Apakah kamu pernah bertanya tentang hidup? Apakah kamu pernah membayangkanku ada di sana bersamamu? Apakah kamu pernah begitu menikmati tetes hujan pertama? Apakah kamu bahagia? Apakah? Apakah aku bertanya terlalu banyak?

Baiklah, Ranum, aku akan sudahi surat ini di sini. Tak baik mengganggumu dengan kata-kataku yang semakin tidak indah. Terima kasih sudah mau mebaca surat ini. Aku (selalu) menyayangimu.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s