Cerita yang Terlambat untuk Ranum

Selamat hari Minggu, Ranum. Maaf, aku membuatmu menunggu ceritaku. Awalnya aku kira aku akan banyak bercerita, tapi ternyata entah mengapa, seperti biasa, semua cerita yang kusiapkan lenyap. Dihabisi malas yang selalu menghadang. Aku ingin bercerita tentang tarian dan liburanku. Aku adalah penyuka tarian yang tidak bisa menari. Aku suka segala jenis tarian, terlebih tari tradisional. Dua bulan lalu, ketika aku main ke ponorogo dan menyaksikan reog, aku merasa sangat bahagia. Aku tidak pernah menyaksikan pertunjukkan tari sepuas itu. Orang lain mungkin bosan menonton festival itu karena tarian antargrup tidak jauh berbeda. Kenapa tidak jauh berbeda? Karena tarian itu menceritakan hal yang sama. Tapi bagiku, gerakan setiap pemain yang memerankan tokoh tertentu sangat menarik.

Pasukan Jathil dan Warog. Pasukan Jathil selalu diperankan oleh perempuan.

Pasukan Jathil dan Warog. Pasukan Jathil selalu diperankan oleh perempuan.

Eh, kau tahu, kan, cerita di dalam tarian reog? Jadi begini, diceritakan bahwa ada putri yang teramat cantik yang belum juga menikah. Putri tersebut bernama Putri Sangga Langit. Putri itu baru akan menikah dengan raja yang dapat memberikan pertunjukkan yang sangat menarik, yang belum pernah dilihat oleh masyarakat, yang terdiri atas seratus (aku hanya mengira-ngira, mungkin jumlahnya lebih banyak) warog, seratus (ini juga hanya perkiraan) pasukan berkuda, dan makhluk aneh (manusia berkepala harimau). Banyak yang tergila-gila dengan putri Sangga Langit, termasuk seorang raja (aku lupa namanya) yang menyanggupi syarat dari sang putri. Tapi dia tidak dapat menemukan makhluk berkepala singa. Dia tetap berangkat ke kerajaan sang putri tanpa makhlu kitu. Di tengah perjalanan ia diserang oleh singabarong. Singkat cerita, singabarong ia kalahkan dengan cambuk sakti. Akhirnya ia memenangkan sayembara tersebut dan mendapatkan sang putri.

Aku menyebutnya Reog, tapi ada juga yang menyebutnya Singobarong.

Aku menyebutnya Reog, tapi ada juga yang menyebutnya Singobarong.

Ceritanya sangat aneh, ya? Menurutku juga begitu. Mana ada putri yang minta makhluk aneh untuk syarat pernikahan. Jangan-jangan, memang sang putri tidak mau menikah. Makanya dia buat syarat sangat aneh agar tak ada yang dapat mewujudkannya. Memang sih, dia dapat syarat tersebut setelah bertapa. Siapa tahu itu hanya keinginan dia, bukan dewa. Hahahahahaha. Aku mulai ngawur. Terserah deh putri itu mau nikah atau tidak. Tapi reog hasil permintaannya yang aneh itu memang sangat menarik.

Dari semua peran di dalam tari reog, aku sangat suka Bujangganom. Dia adalah tokoh yang paling lincah dan sangat jenaka, tapi dia berpangkat patih. Biasanya kan patih adalah seorang yang pendiam, tidak banyak tingkah, dan tampan tapi bujangganom berbeda. Dia dapat menjadi patih kepercayaan Raja dengan sifatnya yang jenaka dan dia mampu memerintah (atau setidaknya mengatur) pasukan jathil dan warog. Ketika aku menonton festival reog, banyak grup yang menggunakan lebih dari satu bujangganom. Aku jadi bingung, bujangganom itu nama orang apa nama pangkat? Tapi kan pangkat Bujagganom adalah patih. Kamu bisa menjelaskannya padaku?

tarian Bujangganom sangat indah, tapi susah mendapatkan gambar yang bagus karena dia selalu dan selalu bergerak dengan cepat.

tarian Bujangganom sangat indah, tapi susah mendapatkan gambar yang bagus karena dia selalu dan selalu bergerak dengan cepat.

Festival reog dilaksanakan selama enam hari (duh, aku sebenarnya lupa tepatnya), tapi aku hanya menonton selama tiga hari. Menurutku, grup tari reog dari SMA-SMA di Ponorogo sangat sangat bagus. Mereka menampilkan pertunjukkan yang megah, banyak improvisasi dan sangat memukau. Penari-penari mereka juga sangat enak dilihat. Aku beberapa kali terpesona oleh penari yang memerankan raja. Aku seperti melihat raja yang menari. Jangan-jangan penari itu sedang melupakan kenyataan dengan menari. Bayangkan, dia adalah raja! Suatu posisi yang tidak ia dapatkan di kehidupan nyata. Dari gerakannya, aku tahu dia sangat suka menari. Aku sangat suka melihat penari. Kamu?

Dialah Sang Raja

Dialah Sang Raja

Oleh karena festival reog diadakan pada malam hari, siang harinya aku berjalan-jalan mengunjungi beberapa tempat wisata di Madiun. Aku mengunjungi Masjid Kuno Kuncen di Desa Kuncen. Aku disambut oleh gapura buatan yang menyerupai gapura zaman dahulu. Aku serasa kembali ke masa kerajaan. Di dalam masjid itu terdapat dua buah prasasti yang berupa batu dan gentong penyimpanan air. Selain prasasti, di belakang masjid juga terdapat makam. Beberapa Bupati Madiun dimakamkan di sana. Sayang, aku tidak boleh masuk ke dalam makam. Di Desa Kuncen juga terdapat sendang yang letaknya tidak jauh dari Masjid Kuncen, aku lupa tepatnya, kalau tidak salah di sebelah timur deh (Oleh karena aku buta arah dan sering sekali tersesat, baiknya kamu jangan percaya perkataanku ini). Sendang itu terletak di dekat perkebunan warga, suasananya sangat sepi. Sayang sekali, saat aku ke sana sendangnya sedang kering. Sendang itu dipakai oleh warga untuk keperluan mereka. Aku tahu hal itu dari prasasti yang ada di sana. Prasasti itu menyatakan bahwa Sendang ini digunakan untuk kesejahteraan warga. Sebenarnya prasasti itu menggunakan bahasa jawa halus, aku tidak mengerti, tapi saudaraku menjelaskan artinya kepadaku. Ah, jalan-jalan kalau ada guide memang seru. Hahaha

Masjid Kuno Kuncen. Aku salah menggunakan mode di kameraku, hasilnya jadi tidak bagus.

Masjid Kuno Kuncen. Aku salah menggunakan mode di kameraku, hasilnya jadi tidak bagus.

DSC_0373

Prasasti yang ada di Masjid Kuncen

Prasasti yang terdapat di Sendang

Prasasti yang terdapat di Sendang

Setelah dari Masjid Kuncen, aku ke Masjid Kuno Taman di Desa Taman. Berbeda dari Masjid Kuncen, yang menjadi daya tarik Masjid ini adalah makam-makam kuno yang terdapat di belakang masjid. Masjid Taman juga ramai, berbeda dari Masjid Kuncen yang sepi. Ketika Aku datang, suatu acara baru selesai dilaksanakan. Acaranya ramai, banyak bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak yang sedang istirahat di sekitar masjid. Acaranya menggunakan tenda dan soundsystem segala. Sepertinya mereka baru selesai membagikan doorprize. Aku baru masuk dan baru melihat sedikit makam ketika juru kunci memberitahuku bahwa pintu gerbang akan ditutup. Aku tidak tahu jadwal buka-tutup gerbang ke makam, sepertinya gerbang ke makam ditutup saat tengah hari karena aku tiba di sana menjelang azan zuhur. Gerbang-gerbang makam di sana membuatku merasa ada di zaman Majapahit atau Mataram. Aku sok tahu sih. Aku kan tidak tahu bagaimana gerbang di zaman Majapahit atau Mataram. Mungkin waktu kecil aku terlalu banyak menonton film-film kolosal yang ditayangkan di salah satu televisi nasional. Bisa jadi. Di Masjid Taman dimakamkan pula beberapa bupati Madiun. eh, sebenarnya aku tak tahu pasti sih jabatannya apa. Aku belum sempat mencari informasi lebih di sana. Taman Makam di Masjid Taman dijadikan cagar budaya oleh pemerintah. Aku senang mengetahui hal itu. Nanti akan aku ajak adik-adikku ke sana, biar mereka tahu refreshing tidak melulu soal belanja di mal atau bermain game.

Salah satu gerbang yang ada di Taman Makam Masjid Taman

Salah satu gerbang yang ada di Taman Makam Masjid Taman

salah satu Makam Buapati di Masjid taman

salah satu Makam Buapati di Masjid taman

Selain ke masjid-masjid kuno yang ada di Madiun, aku juga mengunjungi Monumen Keganasan PKI di Desa Kresek. Seram ya, namanya? Aku kira tempatnya akan seperti Manumen Lubang Buaya di Jakarta, tapi ternyata tidak. Ketika tiba, aku disambut patung anak-anak yang cukup besar yang berada lumayan jauh. Aku harus menaiki anak tangga untuk mencapai monumen. Lebih ke atas, terdapat patung yang menggambarkan seorang ulama yang akan dipenggal oleh seorang PKI. Seram. Aku tidak tahu maknanya apa. Lalu di belekang patung keganasan PKI (ini hanya sebutanku saja), ada prasasti yang ditulis oleh Soelarso, Gubernur Jawa Timur saat itu. Masih satu lokasi, tapi berbeda tempat terdapat prasasti yang memuat nama-nama korban pembantaian PKI yang dibantai di Desa Kresek. Di depan prasasti tersebut terdapat monumen yang menggambarkan korban-korban PKI. Seperti kumpulan mayat. Aku takut sekaligus sedih membayangkan mereka yang dibantai oleh PKI. Tapi aku bertanya-tanya, kenapa ada monumen keganasan PKI, tapi tidak ada monumen keganasan pemerintah terhadap PKI? Padahal sudah jelas-jelas pemerintah waktu itu membantai semua PKI, bahkan rakyat kecil dan petani yang sebenarnya tidak tahu apa-apa soal PKI. Kalu nanti ada yang ingin membangun monumen keganasan pemerintah terhadap PKI, aku rasa lokasi yang cocok adalah di Goa Jomblang, Gunung Kidul, Yogyakarta. Kata banyak orang, sih, banyak PKI yang dieksekusi di sana.

Maonumen Keganasan PKI

Maonumen Keganasan PKI

Prasasti yang ditulis oleh Soemarso

Prasasti yang ditulis oleh Soemarso

Nama-nama korban keganasan PKI

Nama-nama korban keganasan PKI

Aku jadi ketagihan jalan-jalan, Ranum. Menyenangkan sekali keluar dari rutinitas dan mengunjungi tempat-tempat baru. Kamu mau menemani aku jalan-jalan lain waktu nanti? Aku belum tahu akan ke mana. Tapi aku ingin kembali lagi ke Jogja, menikmati tempat-tempat yang belum aku nikmati. Doakan aku bisa jalan-jalan lagi ya, Ranum.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s