Remah Kenangan

Sekarang November. Sudah masuk musim penghujan. Harusnya sudah dari beberapa bulan yang lalu, tapi pemanasan global membuat musim jadi tidak menentu. Mungkin suatu hari nanti, anak cucuku sudah tidak mengenal konsep musim lagi. Betapa menakutkan masa depan yang seperti itu.

Seharian ini langit kelam terus. Siang hari hujan mulai luruh. Hingga malam, langit masih saja menumpahkan air, tapi hanya rimis. Hari yang seperti ini membuatku ingin bercerita tentang kita. Orang lain akan berkata bahwa aku sedang mengenang. Ya, aku memang pengumpul remah kenangan untuk kunikmati di saat seperti ini, ketika hujan menyapa hariku seharian. Aku menikmati remah-remah kenangan yang kukumpulkan di beranda dan ditemani secangkir teh manis panas.

Karena aku menikmati remah kenangan, tentu cerita ini dapat saja dibilang remehan. Tapi, remah kadang adalah bagian terbaik dari sesuatu. Makanan misalnya. Aku suka sekali remah-remah gorengan. Aku juga suka remah-remah kenangan. Kamu tahu apa yang menyenangkan dari remah kenangan? Remah kenangan membuat hari tak terlalu berat. Ia seperti semacam obat mujarab bagiku. Membuatku sadar, aku pernah bahagia. Dan aku yakin, aku akan bahagia. Karena kadang kebahagiaan baru terasa setelah momen bahagia itu lewat. Ya, ketika hidup terasa hambar, atau bahkan pahit.

Ini cerita tentang kita. Aku ingat kita terjebak hujan di sebuah gedung. Kita tidak gelisah karena kita memang tidak sedang diburu apapun. Kita menikmati hujan dari jendela besar yang ada di gedung itu. Bukan hanya kita yang terjebak di gedung itu. Banyak orang lain yang juga terjebak hujan. Sama seperti kita. Tapi rasa-rasanya yang tidak gelisah hanya kita berdua. Mungkin orang-orang itu tidak sabar bertemu rumah, atau mungkin ada hal lain. Akhirnya hujan reda ketika hari mulai gelap. Kita berjalan pulang. Aku memang tidak diburu apapun. Tapi aku takut hujan tiba-tiba muncul. Aku tidak siap basah, padahal aku tidak membawa payung.  Kita berjalan di bawah pohon rindang yang tidak terlalu tinggi, tapi tidak bisa dibilang pendek. Tiba-tiba badanku basah. “ah, hujan!” pikirku. Aku baru mau lari ketika kudengar kau tertawa. “itu hanya angin.” Katamu “bukan hujan.” Aku tidak paham kenapa kamu tertawa. Mungkin karena wajah bodohku. Aku tak ikut tertawa. Aku hanya memandang pohon itu. Kesal. Kamu bilang “Kalau habis hujan, pohon memang basah. Kalau ada angin, air di dedaunan jatuh. Seolah-olah hujan.” Tuturmu. Iya, aku tahu. Aku tidak perlu penjelasan. Tapi mungkin kamu merasa perlu menjelaskan. Aku senang mengenang tawamu. Begitu renyah dan hangat. Mungkin karena kau jarang tertawa lepas.

Ini memang hanya cerita remehan. Tidak ada konflik di dalamnya. Tapi, kalau diteliti benar, mungkin ada juga konflik yang tersirat. Tersirat bukan berarti tak ada, bukan? Seperti aku, seperti kamu. Kita sama-sama diam, tenang. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki konflik, kan? Aku ingat sore itu di pinggir danau. Aku diam memandangi permukaan danau yang beriak karena angin atau mungkin karena ikan di dalamnya. Pikiranku penuh saat itu. Bukan tentang kamu. Tapi tentang diriku sendiri, tentang manusia pada umumnya. Menurutku manusia tidak pernah benar-benar sendiri. Kenapa aku bisa berpikir seperti itu? awalnya karena aku merasa terpana ada orang lain yang mengerti diriku. Mereka menawarkan atau melakukan sesuatu untukku, dan aku suka. Ketika mereka melakukan hal itu, sebelumnya tentu mereka menganalisis diriku dengan sadar atau tidak sadar. Mereka berusaha memahami aku. Ketika menurutku mereka mampu memahami aku, aku merasa luar biasa. Merasa manusia memang tidak dapat hidup sendiri, manusia butuh orang lain. Bahkan, ketika manusia itu merasa sendiri, ia tidak benar-benar sendiri. Contohnya aku. Ketika aku merasa sendiri, ternyata ada orang lain yang memperhatikanku, meski dari kejauhan. Jika sudut pandangnya diperluas, bukan hanya sudut pandangku, tapi sudut pandang semesta, manusia tidak pernah benar-benar sendiri.

Kamu menghampiriku. Bertanya “ada apa?” aku menceritakan semua pemikiranku. Ternyata kita tidak sependapat. Menurutmu, manusia pada dasarnya selalu sendiri, meskipun ia dikelilingi orang lain. Kamu bilang “Ketika kamu menyuruhku atau menyarankanku melakukan sesuatu, lalu aku melakukannya. Itu bukan karena kamu. Itu karena aku  mau melakukannya. Aku membuat keputusan itu sendiri. Keputusan akhir ada di tanganku. Sendiri. Tanpa campur tangan orang lain.” Begitu katamu. Katamu, di dunia ini tidak ada yang benar-benar mengerti diri kita masing-masing kecuali diri kita sendiri. Benar juga. Tapi aku masih memegang pendapatku. Sore itu, kamu membuat kepalaku sakit. Aku memikirkan tanggapanmu, memikirkan pendapatku. Aku rindu percakapan-percakapan absurd kita. Kita memang tidak sama. Lantas kenapa? Aku  tidak keberatan. Kamu?

Berbicara tentang manusia, tidak lepas dari penilaian. Manusia selalu menilai. Biasanya manusia menilai dari yang tampak. Manusia yang menilai sesuatu yang tak tampak biasanya lebih bijak. Sayangnya, di dunia ini lebih banyak manusia yang kurang bijak dibanding dengan yang bijak. Apakah kau sependapat denganku? Menurutku, kamu adalah salah satu orang bijak. Setidaknya, aku merasa kau bijak.

Aku ingat, malam itu aku merasa sangat sedih. Aku merasa sangat kecewa. Lalu aku menceritakan kesedihanku kepadamu, kegelisahanku, kekecewaanku. Malam itu, kuberitahu kau tentang rahasia besarku. Rahasia yang hanya aku yang tahu. Kita memang tak sama. Suasana hatiku sangat mudah dibaca. Aku sangat emosional. Kau tidak. Kau tenang, tidak seperti aku. Kau meladeni ceritaku. Aku tidak berharap apa-apa kepadamu kecuali didengarkan. Dan kau mendengarkanku dengan baik. Kau menunggu ceritaku mengalir hingga habis. Lalu kau diam. Kau menyuruhku membuka kitab suci, memberitahu satu ayat di sebuah surat. Aku bukan penghafal kitab suci. Aku tak tahu apa isi ayat itu. lalu setelah aku buka ayat yang kau maksud, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan, bukan karena aku sedih. Tapi karena aku bahagia. Bahagia karena banyak hal. Tapi yang paling membahagiakanku adalah aku bahagia memiliki Tuhan. Tuhan yang mempertemukan aku denganmu, orang yang dapat mendengarku. Orang yang memberitahuku bahwa jawaban dari kesedihanku ada di kitab suci. Aku bahagia aku mendapatkan jawaban di kitab suci. Aku bahagia. Sangat bahagia. Aneh memang. Tapi ketika itu aku merasa ayat itu sangat cocok dengan keadaanku. Aku merasa kerdil. Aku merasa terlalu beruntung untuk merasa sedih. Hidupku indah dan patut disyukuri. Aku beruntung.

Jika orang lain melihat penampilan kita, mereka dapat menilai bahwa kita tidak religius, kita  profan. Mereka bebas menilai kita. Penilaian mereka toh tidak merugikanku. Tapi mereka tidak tahu bahwa kita sangat mencintai Tuhan. Aku dengan caraku, kamu dengan caramu. Hubungan manusia dengan Tuhan memang sangat misterius. Hubungan itu tidak dapat diumbar dijelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada orang lain. Itu pendapatku. Mungkin aku memang bukan orang yang religius. Orang bisa bilang, “kamu terlalu mencintai hidup.” Tak apa. Memang, kok. Aku orang sangat mencintai hidup dengan segala manis dan pahitnya karena aku belum pernah merasakan mati. Tapi aku juga mencintai Tuhan. Aku percaya sepenuhnya kepadaNya. Aku berserah kepada setiap putusanNnya. Aku mengagumi setiap makhlukNya. Aku berusaha menjadi orang baik yang tidak merugikan orang lain. Itu cukup bagiku. Cukupkah itu bagimu?

Aku memang sangat mencintai hidup. Hidup itu unik. Dalam hidup, kita mengenal konsep waktu. Waktu adalah sesuatu yang pasti, bukan? Berapa detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dasawarsa, dan seterusnya dapat diperkirakan. Tapi apakah kita dapat benar-benar tahu apa yang akan terjadi dalam hidup? Satu detik dari sekarang pun masih merupakan rahasia. Waktu selalu membawa kemungkinan-kemungkinan yang dapat mengejutkan manusia. Termasuk kita.

Siapa sangka aku akan mengenangmu begini rupa? Kenapa juga aku bercerita seperti ini? mungkin karena hidup ini sungguh terasa semakin membosankan, dan kamu pernah membuatku merasa tidak bosan pada hidup. Aku perlu mengenangmu karena kamu ada di masa lalu, bukan masa depan. Kalau kamu di masa depan, aku bukan mengenang, tapi bermimpi. Ah, itu tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya.

Begini, aku adalah manusia pencerita, aku butuh bercerita. Sudah lama aku tidak bercerita. Aku terlalu menikmati hidup. Aku terlena dan tenggelam di dalam arus hidup yang sangat deras. Tapi ternyata hidup bisa juga membosankan. Lalu aku memutuskan aku ingin bercerita. Karena ini cerita awalku setelah sekian lama tidak bercerita, aku putuskan untuk bercerita yang ringan-ringan saja. Lalu aku ingat, aku memiliki remah kenangan tentangmu. Jadi, aku bercerita saja tentangmu. Begitulah. Tidak ada yang spesial memang di cerita ini. di awal akau sudah bialng, ini cerita remehan. Aku tidak membohongimu, kan? Tapi, apakah di sesuatu yang disebut remehan tidak ada yang dapat direnungkan? Jawablah sendiri. Ceritaku sudah selesai. Remah kenanganku sudah habis. Lain kali, kaulah yang harus bercerita. Selamat malam.

Advertisements

2 thoughts on “Remah Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s