kereta telah tiba di stasiun merah.

Kereta telah tiba di stasiun merah.

 

Aku menunggu di peron dua. Menunggu kereta, tentu. Tak berapa lama, kereta telah tiba di stasiun merah, stasiun yang tak akrab denganku. Hari itu aku hanya ingin menunggu kereta di sana. Aku tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin menyaksikan orang-orang masuk dan keluar gerbong yang berderet-deret. Ada yang tergesa, ada pula yang santai saja. Orang-orang tak pernah berpikir sedang apa aku di sana. Aku memang tidak ingin mereka berpikir tentangku. Aku hanya ingin melihat kereta tiba, lalu pergi lagi, lalu menunggu lagi, lalu kereta tiba lagi. Orang-orang menunggu kereta, kereta menunggu orang-orang. Betapa romantis, kan?

Aneh, di tempat seramai itu, banyak orang yang sepertinya sepi saja. Aku pun bagian dari mereka. Peron dua sepi saja, yang ada hanya suara pengumuman dari laki-laki yang entah ada di mana. Ia sibuk sekali memberi tahu tentang kedatangan kereta. Suara kereta yang datang dan pergi juga sesekali mengganggu pikiranku yang ramai. Tapi aku menikmati semua itu. Menikmati suasana sepi di stasiun merah, stasiun yang tak akrab denganku.

Selalu ada yang bisa dipelajari di stasiun, di raut wajah orang-orang yang lalulalang. Karena stasiun tak hanya tentang gesa dan gegas, tapi juga tentang tunggu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s