Kamu dalam Ceritaku

Aku tak lagi pandai menulismu. Aku tak lagi mampu menghadirkan kamu dalam tulisan. Kupikir, memang mungkin sudah waktunya aku menghadirkan yang lain dalam tulisan-tulisanku. Waktu terus saja berjalan tanpa kenal lelah. Aku juga terus berjalan, dengan pandangan lurus ke depan, tanpa memerhatikan sekitar. Aku sombong, aku tahu. Tak seharusnya aku tidak memerhatikan sekitar, bukankah semua saling terkait? Lalu kenapa aku ingin berjalan sendiri?

Hingga pada suatu malam aku merasa jalanan pulang yang biasa kulalui begitu berbeda, begitu manis. Jalanan yang kulalui masih jalanan yang sama, dengan lampu-lampu yang sama, begitu juga toko-toko yang berbaris rapi di sepanjangnya. Tapi ada yang berbeda, kali ini jalanan terasa manis dan ramah. Semua terasa berbeda ketika mataku pindah ke mata jalanan itu sendiri, dan aku merasa langit malam sangat anggun dan biijak. Kulihat lampu-lampu yang tinggi menyala dengan rendah hati dan tanpa mengeluh, betapa setia. Kulihat para pejalan kaki dan orang-orang yang berlalu lalang di jalan sangat riuh, semua ingin sampai ke rumah; tak sabar dengan kehangatan yang menunggu di rumah. Ketika itu aku sadar, sudut pandangku terlalu sempit, hatiku terlalu picik. Malam telah begitu berbeda, saat itu. Dan pandanganku padamu pun ikut berubah, barangkali.

***

“Apa kabar?”

“Kabar baik. Kamu apa kabar?”

“Selalu baik. Kamu jarang kelihatan. Sibuk?”

“ah, tidak juga. Kamu yang menghilang.”

“kamu mencariku?”

“tidak juga. Aku hanya tidak dapat menemukanmu di tempat biasa.”

“aku tidak lagi suka tempat itu. Terlalu banyak kenangan yang tidak ingin kukenang. Terlalu menyesakkan.”

“sungguhkah? Kenangan apa yang begitu menyesakkanmu?”

“aku tak dapat menjawabnya. Aku tak ingin menjawabnya. Kamu masih sering ke sana? Apakah masih menenangkan?”

“tidak. Tidak lagi. Aku hanya sering melewatinya.”

“kenapa?”

“aku punya tempat lain sekarang.”

“oh, begitu rupanya. Aku lebih sering sendiri sekarang.”

“sama. Aku juga lebih sering sendiri.”

“bohong. Kau sering bersamanya, kan?”

“hahahaha, entahlah. Dia juga sering sendiri, jadi kenapa harus sendiri-sendiri kalau bisa bersama?”

“benar juga. Aku rasa aku juga harus menemukan orang yang seperti itu, agar aku tak lagi sendiri.”

“kau punya cerita apa? Aku kehilangan ceritamu.”

“tidak ada. Tidak ada lagi yang dapat kuceritakan kepadamu. Semua sangat biasa dihidupku, tak ada yang menarik.”

“kau kan bisa cerita betapa tak menariknya hidupmu, bagiku itu menarik.”

“entahlah, aku bingung memulainya. Aku takut mengganggumu.”

“jangan seperti itu. Aku kan bukan orang asing, kenapa harus takut mengganggu?”

“entahlah. Eh, bagaimana denganmu? Ada cerita apa? Pasti banyak”

“tidak. Tidak ada.”

“ah, kamu tidak berubah. Susah untuk bercerita, lebih senang menyimpan rahasia sendiri. Apakah aku masih harus menebak? Kau kan tahu sendiri, tebakanku jarang meleset.”

“memang aku seperti itu, ya? Tebaklah, sudah lama kau tidak menebakku. Aku rindu tebakanmu yang selalu tepat. Tak ada yang lebih mampu menebakku selain kamu.”

“oh, begitu? Tidak mau, ah. Aku senang kamu merindukan tebakanku. Paling tidak ada yang kau rindukan dariku. Menurutku, kalau seseorang dirindukan oleh orang lain, berarti orang itu berharga di mata orang lain. Aku senang aku berharga di matamu.”

“iya, tentu aku merindukanmu. Tidakkah kamu merindukanku?”

“oh, tentu saja. Dulu kan aku sering langsung mengatakan padamu. Tapi aku malu terus menerus bilang aku rindu padamu, tapi kamu tak menjawab pesanku. Kamu toh pasti tahu aku merindukanmu. Kamu tahu kan?”

“iya, aku tahu. “

“baguslah.”

“aku selalu berharap kamu bahagia dan sehat. Jangan sakit. Aku selalu khawatir kalau kamu sakit. Jangan membuatku khawatir lagi.”

“kamu baik sekali.”

“karena kamu orang baik.”

***

Aku melihatmu di sana, di kejauhan, bersamanya. Aku tak ingin menyapa. Untuk apa? Aku pikir kalian juga tak mengharapkan kehadiranku, kan? Tapi akhirnya aku menghampirimu, di sana, bersamanya. Setelah kupikir lagi, kenapa aku harus menghindari kalian? Kukubur semua rasa sebelum aku bertatap muka denganmu, aku takut kamu melihat ke dalam hatiku dan mengetahui semuanya. Aku menyapa, berbasa-basi, mencuri kesempatan untuk melihat ke dalam matamu. Ada sesuatu di matamu yang membuatku senang, aku membacanya. Terbersit kerinduan di sana. Aku senang karena aku pun rindu kamu.

Tapi sesungguhnya aku tak lagi sakit melihatmu bersamanya, hanya janggal. Dulu pasti aku akan merasa sakit, tapi sekarang rasa sakit itu terkikis dan hanya menyisakan kejanggalan. Ini pasti karena waktu dan aku pun telah melepasmu, melepas hasratku untukmu. Entah bagaimana aku memaknai sepi hingga aku tak lagi merasa kesepian. Aku yakin, pada akhirnya aku pasti bahagia. Kamu? Kamu pasti bahagia, aku meyakininya.

Ketika aku bercerita denganmu, berdua saja, aku sering sekali menyiratkan banyak hal. Apakah kamu menangkap apa yang kumaksud? Apakah kamu mengerti? Apakah kamu merasakan apa yang kurasakan? Aku ingin kamu menebakku, aku ingin kamu menduga-duga tentangku. Aku ingin kamu memahamiku. Apakah aku cukup memahamimu? Aku menyayangimu. Kenapa kamu tidak pernah berkata kamu menyayangiku? Apakah sangat aneh bagimu mengucapkan hal itu? Padahal kamu juga sering menyiratkan banyak hal. Padahal kamu sering memperlihatkan bentuk sayangmu padaku lewat hal-hal manis. Aku tidak mungkin salah mengerti bentuk sayangmu. Kenapa kamu begitu rumit? Tak apa, jangan berubah. Aku menyukaimu yang seperti itu, aku tetap menyayangimu, hanya aku tak lagi berhasrat berbagi cerita dan membuat cerita denganmu. Dan kau juga telah memiliki orang lain untuk berbagi cerita, kan? Kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama. Mungkin begitu.

***

“tadi aku melihatnya. Aku tak sengaja melihatnya. Dia bersama orang yang memang sering bersamanya.”

“lalu? Kamu sedih?”

“tidak. Aku tidak sedih, hanya janggal.”

“kasihan kamu.”

“tak apa. Aku baik-baik saja.”

“iya, tak apa. Kamu pasti akan bertemu orang lain.”

“iya, aku tahu. Aku ditakdirkan untuk bahagia.”

“semoga terwujud. Amin.”

“amin.”

“ketika kamu ikhlas, kamu pasti akan mendapat yang kamu butuhkan.”

“aku sedang mengikhlaskannya. Tapi menunggu sungguh sangat membuatku gelisah.”

“menunggu memang pekerjaan berat. Tapi jangan terlalu mengharapkan. Ikhlas dan biasa saja, biar dia yang kamu butuhkan datang menghampirimu.”

“iya. Terima kasih.”

“untuk apa?”

“segalanya.”

“segalanya?”

“iya. Untuk waktumu yang kau habiskan untuk mendengarkan keluhanku. Untuk semua nasihat yang melegakan.”

“sama-sama. Jangan terlalu sungkan denganku. Kalau aku bisa membantu, aku senang.”

“kamu orang baik, pantas kamu mendapatkan orang baik. Dia baik”

“iya, dia baik.”

“kamu menyayanginya?”

“tentu.”

“baguslah. Semoga kalian bahagia. Aku senang akhirnya kamu mendapatkan yang terbaik. Semoga dia benar-benar yang terbaik.”

“iya, amin. Semoga kamu juga mendapatkan yang terbaik”

“iya, amin.”

***

Aku percaya bahwa Tuhan, semesta, dan waktu bekerja sama untuk menyimpan kejutan-kejutan di hidupku. kejutan tak selalu menyenangkan, tapi tetap saja kejutan. Kejutan ada untuk membuat hidup tidak terlalu membosankan, dan Tuhan sangat ahli dalam memberi kejutan. Kadang aku suka tersenyum sendiri jika mengingat bagaimana cara Tuuhan menegurku dengan kejutannya. Dia baik, sangat baik. Aku menyayangiNya sekaligus menghormatiNya dan di saat yang sama Aku segan kepadaNya.

Aku hanya terlalu sibuk dengan diriku sendiri, dengan kesedihanku sehingga aku tidak sadar dengan kejutan-kejtan yang Dia berikan. Aku tak sadar bahwa di sana banyak yang memerhatikanku. Ketika aku jatuh dan banyak yang menolongku, hal itu sudah merupakan kejutan. Aku tidak sadar banyak orang baik di sekelilingku yang menyayangiku. Aku bersyukur untuk itu semua, untuk semua hal di hidupku, termasuk kamu. Aku bersyukur mengenalmu. Kamu memberiku banyak kenangan manis, banyak pelajaran. Lalu kenapa aku harus bersedih? Aku bersyukur, sangat. Terima kasih Tuhan, semesta, waktu. Ini pasti yang terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s