Ranum, Ini Tentang Mimpi

Halo, Ranum. Bagaimana kabarmu kali ini? Baik-baik saja, kan? Aku selalu berdoa untuk kebaikanmu, karena kau orang  baik. Kabarku biasa-biasa saja, Ranum.  Aku selalu bersukur karena aku dikelilingi oleh orang-orang baik, tidak ada alasan bagiku untuk membenci hidup.

Kali ini bolehkah aku berbicara tentang mimpi, Ranum? Ya, mimpi yang kata orang bunga tidur. Ketika aku menyikat gigiku malam ini, aku berpikir tentang mimpi. Beberapa tahun belakangan (mungkin tiga tahun) aku jarang sekali mimpi berlari; karena dikejar sesuatu atau menghindari sesuatu. Sekarang aku lebih sering bermimpi tetang perjalanan mencari sesuatu, atau aku sebagai orang yang menyaksikan sesuatu. Aku tidak lelah lagi dalam mimpi.

Dulu, sebelum aku masuk ke perguruan tinggi, aku sering sekali mimpi berlari karena dikejar sesuatau. Mimpi yang membuatku lelah. Hal itu berlangsung hingga tahun pertamaku di perguruan tinggi. Mimpi dikejar sangat lelah, Ranum. Aku bahkan pernah bermimpi dikejar diriku sendiri. Betapa menakutkan.

Kenapa hal itu bisa terjadi? Mungkin karena dulu aku belum mampu menyalurkan apa yang ada di pikiranku, aku belum mampu mengendalikan rasa cemas dan khawatirku. Aku ingat beberapa mimpiku dulu. Di dalam mimpi itu aku harus menghindari diri dari sesuatu yang mengerikan. Aku sadar sedang bermimpi, dan aku sadar aku pernah melewati jalan yang sedang ku lalui di mimpi yang lain. Aku pikir, seharusnya aku mengetahui jalan pintas atau jalan keluarnya. Tapi dalam kepanikan, aku tersesat. Dan aku sungguh takut dan lelah. Ketika terjaga, yang aku tahu aku lega karena aku sudah bangun dari mimpi. Aku tak pernah berpikir kenapa aku bermimpi seperti itu.

Aku pernah merasa sangat tidak enak, entah kenapa. Mungkin aku kesal karena sesuatu, mungkin aku muak, mungkin aku lelah; aku tidak tahu. Aku tidak bermimpi, tapi aku bangun karena aku merasa memuntahkan sesuatu seukuran bola basket hingga aku sempat berpikir mungkin aku akan mati. Tapi setelah aku bangun, aku merasa lega. Aku tahu itu aneh, Ranum. Tapi itu benar-benar terjadi padaku.

Tapi kini, ketika aku mulai belajar memahami dan memaknai hidup, mimpi-mimpi melalahkan itu sudah jarang aku alami. Belajar bertanggung jawab membuatku mampu mengatur rasa khawatir dan cemasku. Dulu aku sangat mengandalkan orangtuaku, aku tidak pernah mengalami masalah dalam hidup, tapi justru itu masalahnya. Aku tak pernah berpikir tentang bagaimana cara mengatasi masalah, hingga yang muncul hanya rasa takut dan cemas ketika aku berhadapan dengan masalah. Kini, meski kadang sedikit cemas, aku tahu akulah yang mampu menyelesaikan masalah yang aku perbuat. Aku harus berpikir bagaimana caranya masalah tersebut dapat teratasi. Hal itu membuat pikiranku teratur karena aku harus memilih dan memilah apa yang harus kulakukan terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah.

Selain itu, sekarang aku belajar menghargai hidup. Belajar untuk lebih santai dan menerima apa yang hidup berikan padaku, meski kadang terasa sakit. Dan aku sudah memiliki pelarian jika rasa sakit yang aku rasakan terasa amat sakit: menulis. Ya, sekarang aku suka menulis. Menulis membuat pikiranku teratur. Aku dapat menuangkan apa yang kurasakan dalam tulisan, mengolahnya dan merenungkannya kembali. Hal itu membuatku lebih tenang. Menulis adalah pelampiasan atas apa yang kurasa. Aku menulis kalau aku merasa senang atau sedih. Bisa dikatakan, dengan menuliskan apa yang kurasakan aku sedang menuliskan sejarah hidupku. Dan aku dapat belajar dari sejarah hidupku. Bukankah manfaat dari belajar sejarah adalah untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama? Aku harap tulisanku bermanfaat untukku. Oh, tidak. Aku tak berharap, aku yakin tulisanku akan bermanfaat untukku.

Sekarang-sekarang ini mimpiku (yang kuingat) lebih filosofis dan relijius. Suatu kali, aku pernah bermimpi tentang pencarian makna ke-esa-an Tuhan. Di waktu yang lain, aku bermimpi seseorang memberikan aku pencerahan tentang iman. Setelah aku bangun dari mimpi yang seperti itu, aku selalu merasa ini bukan sekadar mimpi, ini adalah bagian dari pencarian jati diriku. Aku sadar, aku sedang berusaha memahami sesuatu tentang hal yang cukup esensial dari hidup; nilai relijius. Dan hal itu membuatku sangat mengagumi Tuhan. Aku tahu aku sangat sok tahu, Ranum. Tapi setidaknya itulah pendapatku.

Sama seperti sastra yang tak lepas dari pengarang yang merupakan produk sosial. Mimpi pasti ada hubungannya dengan apa yang kita lalui dalam hidup, harapan kita, pikiran-pikiran kita yang belum tuntas. Ada yang berusaha dijawab lewat mimpi, atau mungkin sekadar penghiburan. Dan kadang, kita diberi peringatan tentang sesuatu lewat sebuah mimpi. Tidakkah begitu menurutmu, Ranum? Tapi ini hanyalah tulisan orang yang sok tahu, Ranum. Jangan begitu percaya padaku. Aku bahkan tidak memiliki pengetahuan akan psikologi. Ini murni ke-sok-tahu-an ku akan diriku sendiri. Hehehehe. Sampai jumpa di suratku yang lain. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia.

 

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s