Kantor Pos

Kantor Pos

Pada bulan Juli lalu, ketika pagi beranjak siang, aku menjejakkan kaki di sebuah kantor pos di kota orang. Asing, tapi menyenangkan. Bangunannya jelas sekali peninggalan Belanda, dan aku meninggalkan jejakku di sana. Kukirimkan kartu pos untukmu yang kutuliskan “Selamat mengenang kota ini”. Aku beli kartu pos tak jauh dari kantor pos itu. Kutulis pesan dan alamatmu langsung di kantor pos itu. Pulpennya langsung aku beli di sana, pulpen biasa berwarna ungu, bukan warna kesukaan kita. Kurekatkan perangko warna hijau di sudut kanan atas. Kuucapkan selamat tinggal padanya ketika aku menyerahkannya di loket. Ia harus sampai kepadamu, meski kartu pos darimu yang dulu entah kapan kau kirim tak jua sampai padaku. Kartu pos yang kukirimkan bukanlah sekadar kartu pos. Itu adalah kenang-kenangan dariku, tulisan yang tidak dapat kau hapus. Tidak seperti tullisan-tulisanku yang kukirim dari tepon genggam atau surat elektronik. Ia lebih kekal dari itu.
Di kantor pos ini, kugurat kenangan tentang suatu hari di bulan Juli ketika aku pertama kali mengirimkanmu sebuah kartu pos. Suatu saat, ketika aku mengunjungi kantor pos ini lagi, aku akan berkata pada diriku “Selamat mengenang kota ini, dan segala kenangan yang ada di dalamnya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s