Racauan Pagi

Aku muak mendengar keluhan dari mulut orang yang tidak bersyukur. Seolah-olah hidupnya adalah yang paling berat. Orang lain selalu digambarkan tidak baik. Kenapa dia tidak bisa melihat sisi baik dari hidup? Dia menyalahkan hidup atas beban yang ditanggungnya, padahal dia yang memilih melihat sisi yang itu. Aku muak mendengar cerita orang yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Orang yang membicarakan keburukan orang lain, padahal dirinya juga seperti yang ia cibir. Manusia memang unik, sih. Aku jadi ambivalen menilai manusia seperti itu. Di satu sisi aku muak dan kesal, tapi di satu sisi aku memaklumi. Tidakkah mereka lelah hidup seperti itu? Kalau merasa kekurangan dan menderita, kapan mereka merasa bahagia? Padahal bahagia lahir dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Orang lain dapat menyebabkan kebahagiaan, tapi penerimaan atas tindakan orang lain tersebut kan tetap tergantung pada diri sendiri. Maksudku, meskipun orang lain berusaha membahagiakan kita, kalau kita tidak melihat hal itu sebagai hal yang membahagiakan, kita tidak akan bahagia, kan? Begitu juga sebaliknya, kita dapat merasa bahagia atas apa yang dilakukan orang lain terhadap kita, meskipun orang tersebut tidak bermaksud membahagiakan kita. Ini masalah sudut pandang, kan? Semua pada dasarnya memang berpangkal pada sudut pandang. Mungkin karena perbedaan sudut pandang inilah kita mengenal kompromi, toleransi, pertikaian. Aku tahu aku tidak sempurna. Aku juga pernah mengeluh. Jadi, maafkan aku yang sangat sok tahu tentang manusia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s