cerita sangat pendek tentang pohon

Namaku Intan. Kenapa namaku Intan? Aku tak tahu. Orangtuaku yang memberiku nama. Aku rasa, dalam namaku terkandung harapan mereka. Mungkin mereka ingin aku seperti Intan. Suatu kali ayahku pernah berkata bahwa intan akan tetap intan di manapun ia berada. Ia tidak akan pernah terkontaminasi. Mungkin, itu alasannya. Sebenarnya, aku tidak peduli pada namaku. Nama hanya sebatas penanda, bagiku. Pembeda antara aku dan yang lain.

Suatu hari aku melewati pohon besar di pinggir jalan. Lalu aku merasa bahwa Pohon ini sangat tabah. Betapa umurnya? Mungkin 100 tahun, mungkin lebih, tapi tidak akan kurang karena pohon ini terlihat sangat tua. Kapan ia mati? Tidak ada yang tahu. Yang orang-orang tahu ia memang sudah seharusnya di situ. Tidak ada yang aneh.

Berapa orang yang sudah berteduh di bawahnya? Sudah berapa kali ia ditebang? Sudah berapa cerita yang ia saksikan? Tidak ada yang tahu. Yang orang-orang tahu, pohon itu ada di sana. Kalau mentari terlalu terik, maka ia menyediakan keteduhan. Ketika hujan merintik, ia menyediakan tempat untuk berteduh.

Adakah yang pernah bertanya, atau sekadar penasaran, apakah pohon pernah menangisi setiap daun yang terlepas dari rantingnya? Atau ia mengikhlaskan mereka karena ia tahu bahwa setiap daun akan terganti dengan yang baru? Tidak ada yang peduli sudah berapa daun yang meninggalkan pohon besar itu.

Pohon besar itu selalu menyaksikan orang-orang yang berlalu-lalang di bawahnya. Ia menyaksikan kesibukan yang selalu sibuk dan selalu berjalan dengan diam dan tabah. Ia sudah sibuk tanpa harus bergerak kesana-kemari. Di tubuhnya pun sudah banyak kesibukan. Ada lebah yang menggantungkan sarangnya, ada semut yang merangkak dan menggerogoti daun-daunnya, sesekali ada tupai yang berlari-lari di dahannya, atau burung yang bertengger. Sesungguhnya ia berjalan meski ia diam. Akarnya selalu berjalan, selalu mencari sumber air. Tapi siapa yang sadar? Siapa yang peduli?

Tidak ada yang aneh dari sebatang pohon besar di pingir jalan. Tidak ada yang menarik darinya. Mungkin ia memang besar, tapi seberapa besarkah arti keberadaannya bagi orang yang selalu melewatinya? Tapi ia memang tidak pernah meminta untuk diperhatikan, kan? Ia juga tidak peduli seberapa berartinya dia bagi manusia. Harusnya manusia bisa belajar ketabahan dari sebatang pohon besar di pinggir jalan. Tapi manusia terlalu sibuk untuk belajar dari alam.

Mungkin, suatu saat nanti manusia-manusia yang sudah biasa melewatinya akan merasa kehilangan ketika pohon besar itu mati dan bersatu dengan tanah. Yah, nasib baik kalau ia dapat  bersatu dengan tanah. Bisa jadi ia berubah bentuk menjadi furnitur atau hal lain. Tapi bisa jadi manusia-manusia yang biasa melewatinya tidak begitu peduli dengan kematian pohon besar itu. Yah, siapa yang tahu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s