Ranum, Mari Berbicara Puisi

Hai, Ranum. Apa kabar hidup? Baik-baik saja, kan? Semoga baik-baik saja. aku juga baik-baik saja di sini. Bolehkah aku di surat ini membicarakan puisi? Kita belum pernah, kan, membicarakan puisi lewat surat? Aku akan membicarakan puisi Sapardi Djoko Damono yang menurutku sesuai dengan keadaanku saat ini. Belakangan ini aku seringkali memikirkan tentang hidup, waktu, dan diriku sendiri. Ya, aku memang selalu memikirkan diriku sendiri, sih.

Aku akan membicarakan puisi SDD yang berjudul Buat Ning dan Dalam Sakit. Ini adalah puisi yang berjudul Buat Ning:

 

Buat Ning

Pasti datangkah semua yang ditunggu?

Detikdetik berjajar pada mistar yang panjang

Barangkali tanpa salam terlebih dahulu

Januari mengeras di tembok itu juga, lalu desember

Musim pun masak sebelum menyala cakrawala

Tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu

 

Kadang, ketika aku membaca puisi itu, aku berpikir sebaiknya judulnya diganti saja dengan Buat Galuh. Hahaha. Puisi ini bukan hanya untuk Ning, Ranum. Ini bisa untuk siapa saja. Bisa untukku, bisa juga untukmu. Kenapa aku suka sekali puisi ini? Jawabannya adalah karena puisi ini membicarakan waktu. Waktu yang sampai kapanpun tetap waktu, yang terikat pada ruang. Dan kita bertanya, “pasti datangkah yang ditunggu?” meski Januari mengeras di tembok itu juga, lalu tanpa terasa Desember pun tiba. Kenapa Sapardi menulis Detikdetik berjajar pada mistar yang panjang? Karena waktu adalah kumpulan detik yang teratur rapi bagai angka-angka pada mistar, tapi waktu adalah mistar yang panjang sekali. Sangat panjang sampai tidak ada seorangpun yang tahu ujung dari mistar tersebut.

Aku suka kalimat terakhir pada puisi itu “Tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu”, jemputan apa? Siapa yang dijemput? Ya, kita semua pasti dijemput. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kita dijemput ke mana? Dijemput siapa? Bagiku, pertanyaan itu memiliki jawaban yang pasti tapi juga kabur. Kita akan dijemput waktu, ke antah berantah. Setujukah  kamu, Ranum? Kalau kita bertatap muka saat ini, kamu pasti akan bertanya sesuatu yang sulit aku jawab. Kamu selalu menyimpan pertanyaan-pertanyaan aneh, seperti –mungkin-  “kenapa waktu tak juga mati?”. Ah, aku tak dapat menjawabnya, Ranum. Sejak beribu-ribu tahun yang lalu, ia belum juga mati. Mungkin usianya masih akan lama lagi. Puisi Buat Ning, menurutku, membicarakan tentang hidup. Hidup selalu berujung pada kematian, karena yang hidup pasti akan mati. Puisinya yang berjudul Dalam Sakit menurutku juga berbicara tentang hidup yang menunggu waktu mati. Baca saja ini:

 

Dalam Sakit

Waktu lonceng berbunyi percakapan merendah

kita kembali menantinanti

kau berbisik: siapa lagi akan tiba

Siapa lagi menjemputmu berangkat berduka

 

di ruangan ini kita gaib dalam gema

di luar malam hari mengendap, kekal dalam rahasia

kita pun setia memulai percakapan kembali

 seakan abadi, menantinanti lonceng berbunyi

 

Ketika aku membaca puisi ini, aku langsung mengingat kematian. Tidakkah kau pikir seperti itu, Ranum? Menurutmu kenapa judul puisi itu Dalam Sakit? Mungkin ketika kita dalam sakit yang parah, kita baru benar-benar menunggu mati dengan cermat. Kalimat pertama di bait pertama ia menulis “Waktu lonceng berbunyi percakapan merendah”, bagiku ‘lonceng berbunyi’ adalah simbol penanda. Ketika kita sudah mendapat tanda, maka kita akan bersiap-siap. Dalam hal ini, bersiap-siap menunggu mati. Kamu lihat saja bait-bait berikutnya. Kalimat terakhir pada bait pertama berbunyi “Siapa lagi menjemputmu berangkat berduka”, tidakkah duka memiliki asosiasi sangat kuat dengan kematian, Ranum? Siapa lagi orang yang akan berduka mengantar kematianmu? Bukankah bait itu sedih, Ranum? Aku sedih. Ketika aku mati nanti, siapa yang akan bersedih?

Aku sangat menyukai dua larik terakhir, yaitu “kita pun setia memulai percakapan kembali seakan abadi, menantinanti lonceng berbunyi”. Ya, apa yang dapat kita lakukan ketika menunggu “lonceng”? kita memulai percakapan kembali, menanti lonceng berbunyi, seakan abadi. Pada dasarnya kita hanya menunggu, kan? Dan kita bercakap-cakap dalam menunggu.

Ranum, maaf ya aku tak pandai berbicara soal puisi. Ilmuku masih rendah. Tidakkah kamu merasa aku hanya mengulang-ulang larik puisi Sapardi? Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku katakan, tapi aku tidak dapat mengolahnya dengan baik, sehingga yang keluar hanya rangkaian kata-kata yang kurang bagus. Ranum, berbicara soal mati –yang memang sudah pasti—, aku selalu merasa janggal. Kadang aku berpikir untuk apa lama-lama hidup kalau memang akan mati? Sanggupkah aku menahan beban di hidupku ini? Tapi kadang aku berpikir aku takut mati. Aku masih menikmati hidupku. Betapa nikmatnya hidup, apakah kalau aku mati nanti aku akan merasa sebahagia hidup? Tapi di samping itu semua, aku menunggu dengan sabar waktu mengantarkan mati padaku. Aku berusaha untuk tidak lagi banyak bertanya tentang itu. Masih banyak yang menarik untuk dipertanyakan, kan, Ranum?

Terima kasih sudah mau mendengar racauanku kali ini. Semoga kamu sehat dan bahagia, ya. Aku juga berusaha sehat dan bahagia. Jangan pernah merasa sendiri, Ranum. Aku yakin, kita tidak pernah benar-benar sendiri.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s