Meracau itu nikmat

Pada mulanya adalah salah dan kalah. Siapa yang tahu akhir? Dan doa hanya meluncur bila perlu. Siapa yang perlu? Manusia dan segala keanehannya jangan diharapkan, bisa mati capek nanti. Memang sudah waktunya sadar dan lekas bangun. Sudah bukan zamannya lagi untuk bermimpi. Mimpi hanya perlu jika sudah muak dengan nyata.

Ah, ribet! Sedang mata masih saja memiliki air; otak dan hati masih memiliki pertentangan. Tapi itu bagus. Artinya hidup masih normal. Ketika semua teratur dan damai itu pertanda akhir sudah dekat. –Meracau itu nikmat!–

Mungkin memang perlu keluar dengan kereta, dengan pesawat. Diam di satu kota berarti memupuk kenangan. Satu tempat bisa memiliki banyak kenangan tentang orang yang berbeda. Tidak romantis!

Mungkin memang harus keluar dengan mimpi, dengan harap. Tapi harus pulang dengan bangga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s