Pertanyaan-Pertanyaan Untuk Srikandi

Halo, Srikandi.

Aku bukan penggemarmu, aku juga tidak terlalu tahu cerita hidupmu. Tapi aku juga bukan pembencimu. Sungguh. Aku ingin bertanya padamu tentang beberapa hal. Hal-hal ini membuatku penasaran sehingga melahirkan tanya.

Apa rasanya membunuh Bhisma? Apa rasanya membalaskan dendam Amba? Apa rasanya mengakhiri perang Bharatayudha? Apakah luar biasa? Aku sungguh-sungguh penasaran tentang hal-hal tersebut. Oh, iya! Ada satu hal lagi yang membuatku penasaran. Apakah kamu benar-benar membenci Bhisma?

Jangan kesal dulu terhadapku yang cerewet dan banyak tanya ini. Aku sadar perang Bharatayudha memang aneh. Tidak harus membenci seseorang untuk membunuh di dalam perang. Musuh adalah musuh. Karena kalau tidak begitu, bagaiana bisa para Pandawa membabat habis saudara-saudara, guru, kakek, dan orang-orang terdekatnya sendiri?

Tahukah kamu apa yang kupelajari dari kisah Mahabharata? Ketidaktamakan ternyata juga dapat melahirkan ketamakan di kemudian hari. Kasihan Bhisma, kasihan kamu. Kebaikan atau setidaknya niat baik juga dapat berbuah tidak baik. Tapi toh sebagian orang di cerita itu, dan sebagian orang yang aku kenal menganggap yang tidak baik tersebut sebagai sebuah kebaikan. Atau jangan-jangan aku yang melihat sesuatu yang baik sebagai sesuatu yang tidak baik? Bisa jadi. Menurutmu bagaimana, Srikandi?

Kenapa kau memilih Arjuna? Kenapa Amba menitis kepadamu? Apakah semua itu kebetulan? Tidak mungkin. Semua sudah diatur. Hidupmu sudah diatur. Hidupku? Mungkin saja. Hidupmu diatur siapa? Hidupku diatur siapa? Samakah?

Bahagiakah kamu, Srikandi? Aku penggemar Bhisma, orang yang kau antar ke nirwana. Bhisma menerimamu, memahami bahwa hanya panahmu yang dapat menjemput ajalnya. Kekasih dari cucu sekaligus muridnya, titisan wanita yang dilukainya, membunuhnya. Bagaimana rasanya, ya? Apa yang dirasakan Bhisma? Pernah memikirkannya?

Dan kenapa kamu tidak pernah disebut pembunuh? Kenapa Arjuna bukan pembunuh? Kenapa banyak orang yang membunuh di dalam perang tidak cisebut pembunuh? Apakah membunuh telah menjadi sebuah kewajaran? Pasti seperti itu. tapi aku tetap saja sulit menerima pembunuhan sebagai suatu kewajaran. Bagaimana denganmu?

Ah, maaf. Aku memang banyak bertanya. Cerewet. Kamu pasti kesal terhadapku. Tapi aku tidak kesal terhadapmu. Aku berterima kasih kepadamu. Terima kasih telah membunuh Bhisma, ia sudah terlalu tua untuk hidup. Sudah cukup lama ia menderita karena ulah sanak familinya sendiri. Terima kasih telah menjadi Srikandi yang hebat. Kamu membuktikan kepada dunia bahwa kamu bisa lebih baik dari Arjuna yang katanya baik, karena kamulah yang mengantarkan Bhisma ke Nirwana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s