Hai, Ranum!

Halom Ranum, apa kabar? Sering malihat berita, bukan? Ibukota kebanjiran. Tapi tenang, rumahku tidak kebanjiran. Kamu masih suka hujan? Kalau iya, dia turun hampir sepanjang hari di rumahku. Mainlah ke sini, kita menikmati hujan berdua.

Belakangan ini aku sangat tidak produktif, Ranum. aku jarang sekali menulis. aku juga jarang membaca. Aku juga bingung apa yang kulakukan selama ini. Kamu sibuk apa sekarang? Tapi sesibuk apapun kamu, masih lebih sibuk kotaku. Iya, kotaku yang sibuk dan angkuh. Makanya, lain kali datanglah ke sini, akan kutunjukkan sisi menarik dari kotaku ini, yang tidak angkuh dan tidak sibuk.

Ranum, kalau aku melihat teman-temanku aku merasa sangat kerdil. Mereka hebat-hebat. Mereka juga sepertinya sudah tau apa yang mereka inginkan  dan sudah mempersiapkan cara untuk meraih apa yang mereka inginkan. Sedangkan aku? entahlah, aku benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Eh, tapi kau masih tetap mau jadi temanku, kan?

Belakangan ini aku sudah tidak menggunakan kendaraan pribadi, karena sementara ini dipakai untuk antar-jemput sekolah adikku. Kasihan dia, tulang kakinya ada yang retak. Dia kecelakaan saat sedang bermain sepak bola dengan teman-temannya. Oleh karena itu, aku jadi sering naik angkutan umum.

Aku ingin bercerita tentang angkutan umum. Belakangan ini aku sering naik kereta. Kereta adalah angkutan umum yang bisa memuat orang banyak. Tapi kereta adalah kendaraan yang sepi. Di dalamnya orang tidak saling berbincang atau menyapa. Kalaupun ada yang berbincang, hanya satu atau dua orang. Tapi aku yakin, orang-orang yang tidak tertidur di dalam kereta pasti pikirannya berisik, karena kepalaku berisik. Aku memang diam, tidak mengeluarkan suara sama sekali, tapi kepalaku berisik. Aku memikirkan dan mengandaikan banyak hal. Di kereta, kita belajar egois, tapi juga belajar menentukan prioritas. Maksudku dalam hal memberikan tempat duduk. Kalau kereta penuh, mendapatkan tempat duduk adalah suatu kemewahan. Aku sering tidak dapat tempat duduk. Payah, ya?

Lain halnya dengan di Angkot. Bukan berarti angkot ramai pembicaraan. Tapi entah kenapa, suasana kereta lebih angkuh dari suasana angkot. Di angkot aku menjumpai banyak orang, dan aku lebih leluasa menguping pembicaraan mereka. Hehehehe. Suatu kali aku mendengar cerita antara dua wanita penghibur. Wah, dunia mereka rumit sekali, Ranum. cerita mereka selalu seputar laki-laki dan uang, memang wajar saja sih membicarakan laki-laki dan uang, tapi kalau kamu mendengar sendiri, mungkin kamu akan paham betapa rumitnya hidup mereka.

Naik angkot itu ada seninya, Ranum. paling enak jika dapat tempat duduk di samping supir, di depan. Memang lebih sepi dan tidak dapat menguping pembicaraan penumpang di belakang, tapi aku jadi bisa mendengar percakapan antara supir dan calo, atau supir dengan supir lainnya, atau supir dengan temannya di luar. Waktu itu ketika aku sedang duduk di depan, si supir berhenti di depan rumah seseorang di pinggir jalan. Suasananya agak ramai di depan rumah itu, ada bendera kuningnya, pertanda ada penghuninya yang meninggal. Lalu datang seorang bapak-bapak membawa kardus, rupanya itu tempat sumbangan. Sopir angkotku menaruh sumbangannya ke dalam kardus. Setelah itu mereka bercerita tentang si almarhum. Wah, sedih sekali ceritanya Ranum. ternyata yang meninggal juga supir angkot yang meminta sumbangan juga supir angkot. Mereka berteman. Kabarnya si Almarhum memang sudah sakit. Ia ngotot tidak mau ke rumah sakit untuk memeriksakan sakitnya. Ia ingin kejar setoran, katanya. Padahal teman-temannya sudah menganjurkan dia ke puskesmas. Kata supir angkotku “udah gue suruh ke puskesmas, tapi dia kagak mau. Udah gw bilangin, ;kalo sakit lu tambah parah, lu gak bisa narik. Kasian anak bini lu’ gitu”. Wah, aku langsung sedih. Aku ingin turut menyumbang, tapi entah kenapa tanganku kaku. Aku bingung. Aku bukan siapa-siapa. Jadi aku tidak jadi menyumbang. Itu kesalahan yang sampai sekarang aku sesali. Sampai saat ini kalau aku melintas di depan rumah almarhum, aku selalu memikirkan nasib istri dan anaknya.

Aku jarang sekali naik Kopaja, metromini, atau bajaj. Jadi aku tidak bisa bercerita tentang kendaraan-kendaraan itu. Yang aku tahu, naik metromini yang penuh itu susah, turunnya juga susah. Apalagi kalau metromininya berhenti agak di tengah. Aku selalu ngeri, takut tertabrak motor yang menyalip dari sebelah kiri. Metromini adalah kendaraan yang menguji adrenalin. Hehehehehe

Ah, Ranum. kamu pasti sangat bosan membaca surat ini. Lagi-lagi hanya cerita yang kurang bermakna. Maaf, ya. Kusudahi saja suratku sampai di sini. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Teruslah jadi orang baik agar mendapat yang terbaik. Jangan benci hujan, dia turun dangan deras karena sangat rindu dengan bumi. Kasihanilah. Kalau ada banjir, mungkin memang manusianya saja yang kelewat batas. Daerah resapan air dijadikan jalan, buang sampah sembarangan, menebang pohon secara berlebih, ya wajar kalau banjir. Kamu jangan pernah buang sampah sembarangan, ya. Dosa. Hehehehehe.

 

Salam termanis,

 

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s