Ranum!

Selamat Minggu pagi, Ranum. Pagi ini manis, seperti pagi-pagi yang lalu, yang sudah dahulu tanggal. Aku ingin sekali bertemu denganmu, Ranum. Kita berbincang dan menyeruput segelas coklat panas. Mungkin aku sedang penat. Tapi ini bukan penat. Aku hanya merasa tawar dan datar. Aku butuh permainan gitarmu, Ranum.

aku rasa aku mulai menjelma manusia munafik dan mengesalkan. Dan aku benci itu semua! Tapi apakah masih munafik namanya jika aku mengakui bahwa aku munafik? Aku tidak tahu. Tapi aku mulai menjelma orang yang tidak aku suka. Ranum, jangan jadi orang munafik ya. Jadi orang munafik itu tidak enak. Aku sedang berusaha untuk tidak jadi orang munafik. Doakan saja ya. Semoga aku baik-baik saja.

Apakah kamu baik-baik, saja? Aku yakin kamu baik-baik saja. Kadang aku bertanya-tanya, apa yang dapat membuatmu tidak baik? Hehehehe. Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan padamu. Tapi entah kenapa semua itu seolah lenyap, dan aku hanya mampu mengingat masalah, itupun tidak runut. Mungkin kau jengah padaku. Maafkan aku ya, Ranum.

Kemarin aku menangis Ranum. Sebenarnya, aku tidak tahu benar apa yang membuatku menangis. Aku sedih karena aku tak mampu berbuat banyak untuk orang-orang yang aku sayangi. Saat itu aku butuh kamu, Ranum. Tapi kamu terlalu jauh dariku. Akhirnya aku berlari pada sahabatku. Di depannya semua air mataku tumpah dan aku menjadi lega.

Kamu pernah merasakan betapi sedihnya ketika kita tak mampu memberi yang terbaik untuk orang yang kita sayang meski kita sudah berusaha sepenuh tenaga? Aku merasakannya kemarin, Ranum. betapa tidak bergunanya aku. Betapa berat mengetahui bahwa kita ada di perbatasan dan kita tahu kita tidak bisa memihak atau bahkan kita harus memihak semuanya tanpa boleh pindah jalur. Kau mengerti maksudku? Aku takut kamu tidak mengerti apa yang kumaksud. Tidak banyak orang yang mengerti maksudku, Ranum.

Ranum, sebenarnya aku sedang ditemani masalah, dan semua masalah itu bersumber dari diriku. Aku merasa bersalah sekaligus bingung karena aku tahu aku belum bisa menyelesaikannya saat ini. Jadi yang kulakukan hanya berdamai dan hidup berdampingan dengan masalah-masalah itu. Aku tahu, pada saatnya nanti, semua masalah itu akan selesai. Aku hanya perlu untuk tidak membuatnya tambah rumit.

Meskipun aku sedang ditemani masalah, aku selalu merasa aku orang yang sangat diberkati. Aku memiliki teman-teman yang baik, hidup yang yang baik, dan banyak sekali kebaikan yang aku nikmati hingga aku tak dapat menghitungnya. Aku bersyukur untuk itu semua. Benar-benar bersyukur. Aku bersyukur memilikimu.

aku bersyukur ketika aku bangun pada pagi hari, kulihat melalui jendela bahwa langit sangat ramah dan tanah basah. Betapa sejuk dan indahnya pagi hari. Aku bersyukur ketika aku keluar rumah dan langit tampak sangat cerah. Kalau langit saja bersemangat, kenapa aku harus merasa jenuh dengan hidup? Aku bersyukur ketika sore berangin dan ditemani rimis. tidak setiap hari, kan, sore seperti itu? aku bersyukur ketika menjalani hidup dan tersadar bahwa banyak sekali hal baik di sekitarku yang patut untuk disyukuri.

 

ranum, ayo makan es krim!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s