Cerita Sangat Pendek Tentang Laut

Intan, namaku. Aku ingin bercerita tentang laut. karena aku rasa, aku adalah reinkarnasi dari laut.  Tapi belakangan aku tak percaya pada reinkarnasi. Tapi aku tetap ingin bercerita tentang laut. Laut yang tenang dan gusar. Laut yang tidak memiliki awal dan akhir, tapi memiliki tepi. Laut yang satu.

Pernah terpikir pada siapa laut jatuh cinta? Kubayangkan ia jatuh cinta Pada setiap yang terpantul di atasnya –awan, burung, pesawat—, pada setiap yang berlayar di permukaannya, dan pada setiap yang hidup di dalamnya. Ya, laut begitu mudah jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada apa saja yang bersinggungan dengannya.

Ia suka setiap kali langit tak hanya biru, tapi juga putih dengan awannya. Dan ketika la melihat langit menjadi gelap, dia juga menjadi gusar. Ombaknya membesar, ia membentuk gelombang.

Ia juga suka pada setiap yang berlayar di permukaannya, tak peduli saudagar atau perompak. Baginya, tak ada yang lebih menyenangkan daripada dapat berlayar, dapat menjelajah. Tapi ia tak dapat berlayar.Ia hanya diam, tak pernah kemana-mana, nasibnya adalah dijelajahi.

Ia juga mencintai setiap yang di dalamnya. Ia berikan tempat bagi ikan-ikan dan terumbu karang untuk hidup. ia berikan segala yang mereka butuhkan. Tapi,kepada siapa ia benar-benar menjatuhkan hatinya?

Tidak ada yang pernah tahu kepada siapa laut benar-benar memberi rasa. Yang kita ketahui, kadang ia gelisah, kadang ia gusar, kadang ia marah tanpa pernah benar-benar kita ketahui penyebabnya. Mungkin ia cemburu, mungkin hanya merasa dicampakkan.

Apakah ada yang lebih tabah daripada laut? Ia terima semua yang datang. Ia menjadi muara bagi semua sungai, ia menjadi tempat menarik untuk dijelajahi perahu, ia menjadi tempat yang nyaman bagi para penghuninya. Pernahkah laut meminta sesuatu dari apapun? Tidak pernah. Ia diam. Ia hanya pengamat. Ia hanya pasif. Tak ada yang dapat benar-benar mengerti laut. Ia dicintai sekaligus ditakuti.

Betapa absurd bagi laut untuk mengerti bahwa setiap penjelajah harus pulang, setiap ikan dan terumbu karang harus mati, dan setiap awan harus hilang bentuk. Ia tidak mengerti itu semua. Ia tidak pernah pulang, tidak pernah mati, dan selalu hilang bentuk.

Pernah bercita-cita menjadi laut? Aku pernah. Aku pernah mencoba jadi laut. Dan rasanya sungguh sungguh aneh. Ada suatu kenyamanan dan keihlasan yang aneh. Bukan ganjil, hanya aneh. Lalu, apakah aku sekarang masih menjadi laut? Entahlah. Sepertinya tidak, sepertinya bukan. Tapi, bukankah aku Intan?

Advertisements

2 thoughts on “Cerita Sangat Pendek Tentang Laut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s