Ranum

Halo, Ranum. Lama juga ya aku tidak mengirim kabar padamu. Aku rindu kamu, Ranum. Sangat rindu kamu. Kamu apa kabar? Sudah berapa cerita yang kau siapkan untukku? Cerita apa yang kau harapkan dari suratku ini, Ranum? Tapi seperti biasanya, aku bercerita sesukaku tanpa menghiraukan harapanmu. Hahahahaha. Jangan marah, Ranum. Karena kalau aku bercerita sesuai harapanmu, betapa akan membosankan pertemanan ini. Aku sayang kamu, Ranum. Aku rindu kamu.

Dulu sekali, aku pernah berkata bahwa aku akan memberitahumu jika aku rindu seseorang. Baiklah, di surat ini aku memberitahumu bahwa aku rindu. Bukan hanya kepada seseorang, tapi  kepada banyak orang termasuk kamu. Kamu sedang sibuk apa? Aku sedang sibuk merindu. Merindu tawa, cerita juga waktu yang dihabiskan bersama. Aku rindu teman-temanku yang dulu sering berbincang denganku. Bukan aku tidak pernah bertemu mereka, aku hanya jarang berkumpul bersama. Betapa kegiatan yang berbeda sangat mampu membuat kita tak dapat bertukar cerita atau sekadar duduk bersama.

Aku orang yang sulit menyimpan rindu. Oleh karena itu aku selalu berkata kepada teman-temanku yang aku temui bahwa aku rindu mereka. Aku rindu berbincang dengan mereka dan menghabiskan waktu bersama mereka. Aku rindu bermain bersama. Dan ternyata mereka juga rindu bermain bersamaku. Betapa kita memang butuh semangat anak-anak, karena kalau tidak bisa-bisa kita cepat mati karena bosan. Anak-anak selalu ingin tahu, selalu semangat. Semangat membuat hidup jadi tidak terlalu membosankan.

Lalu aku sadar, betapa aku terlalu egois dengan menghabiskan waktu untuk kepuasanku sendiri. Kenapa tidak kumulai menjalin hubungan dengan teman-teman lamaku? Lalu aku sadar, aku sombong, Ranum. Aku malu. Aku harus meluangkan waktu untuk teman-temanku dan atau keluargaku. Kita memang butuh sendiri, tapi kita juga harus bertukar cerita dengan orang lain.

kamu pernah bahagia? aku sering sekali bahagia. menyaksikan pagi rimis yang manis saja akus udah bahagia. tapi perasaan paling membahagiakan adalah ketika aku tahu bahwa aku dicinta. Aku dicinta, Ranum. Betapa Indah perasaan bahagia karena tahu bahwa kita dicinta. Lalu aku kembali diberi pelajaran oleh hidup bahwa memang tidak ada yang sia-sia di dunia ini, dan bahwa ketulusan memang dapat terasa oleh hati. Tentu saja aku cinta kamu, Ranum. ciinta terlalu luas untuk didefinisikan, dan definisi terlalu kerdil untuk memaknai cinta.

Ranum, sekarang aku sudah berani pergi sendiri. Memang tidak terlalu jauh, sih. Tapi aku sudah berani pergi sendiri ke luar kota. Hebat, kan? Lain kali aku akan pergi lebih jauh, lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Aku rasa aku sedang bosan dan ingin menerobos batas-batas yang secara tak sadar aku buat untukku sendiri. Ranum, kapan aku sampai pada kotamu, ya? Ranum, adakah orang yang merinduku? Semoga ada, ya. Semoga kamu termasuk orang yang merinduku. Hahahaha.

Ranum, baiknya kusudahi saja surat ini. Surat ini penuh dengan celoteh konyol, semoga kamu tidak bosan dan tidak kesal kepadaku, ya. Baik-baik di sana. Jaga kesehatan dan jangan terlalu sering terjaga sampai larut. Selalu jadi orang baik, ya. Sampai bertemu di cerita selanjutnya, Ranum.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s