Ranum, Surat Lagi

Halo, Ranum. Ini surat lagi dariku. Jangan bosan, ya. Kamu memang tidak boleh bosan dengan kata-kata dariku, dengan cerita-ceritaku. Aku menulis ini khusus untukmu. Hanya untukmu. Harusnya kamu merasa bangga, kamu istimewa bagiku.

Liburan ini akhirnya pergi ke luar kota dengan teman-teman. Lebih tepatnya, aku dibolehkan oleh orangtuaku pergi ke luar kota dengan teman-temanku tanpa harus menuruti seluruh permintaan mereka. Biasanya mereka repot sekali mengatur semuanya kalau aku ingin pergi ke luar kota. Mulai dari transportasi, tempat menginap, dan lainnya. Liburan ini aku bahagia, Ranum. akhirnya aku ‘lepas’. Maaf, tidak membelikanmu oleh-oleh. Aku memang tidak membeli oleh-oleh untuk siapapun. Aku malas membeli oleh-oleh. Itu bukan tujuanku berlibur. Aku hanya ingin waktu untukku sendiri.

Tapi kali ini aku tidak ingiin bercerita tentang liburanku. Biarkanlah itu menjadi kenangan. Mungkin suatu saat nanti aku lupa, tapi sepertinya aku tak akan lupa Liburanku kali ini. Segala sesuatu yang pertama memang susah lupa, kan? Meski pada lupa kita juga akan jadi karib, kata Goenawan Mohamad.

Aku ingin bercerita soal perjalanan menuju pulang. Sebentar lagi aku dan keluargaku akan melaksanakan tradisi tahunan yaitu, mudik. Aku tak tahu kenapa namanya mudik, tapi singkatnya mudik adalah pulang ke kampung halaman. Aku selalu suka perjalanan mudik dengan mobil. Aku seperti lebih merasakan semangat mudik. Melebur dalam kemacetan yang disebabkan oleh orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya. Yang paling kurindukan adalah persinggahan-persinggahan yang kami lakukan. Selalu menyenangkan mencoba tempat makan baru di pinggir jalan. Selalu menyenangkan mendengar obrolan-obrolan orang yang singgah, atau bahkan obrolan penduduk setempat dengan logat asli mereka. Rasanya seperti benar-benar manusia. Selama ini, di kota besar mungkin manusia menjelma robot. Egoisme tumbuh di mana-mana. Tapi ketika mudik, ketika orang-orang saling berinteraksi, sepertinya mereka menjadi manusia kembali. Tapi tidak kupungkiri bahwa banyak egoisme juga di jalanan. 

Satu lagi yang paling aku suka, yaitu ketika berhenti untuk melaksanakan ibadahku. Kami singgah di musala, langgar, atau mesjid di pinggr jalan. Paling menyenangkan adalah ketika kami berhenti di sebuah musala kecil di pinggir sawah, dan banyak masyarakat setempat yang juga beribadah di situ. Mereka baik padaku, Ranum. Aku senang memerhatikan cara mereka berbicara, berpakaian, dan cara mereka memperlakukan orang asing sepertiku. o iya! satu lagi yang aku suka dari musala kecil adalah tempat wudhunya yang biasanya sejuk. Entah kenapa ayahku lebih suka musala kecil dibanding mesjid besar. Tapi tak apa, aku bersyukur ayahku memilih musala kecil. Di mesjid besar tak ada penduduk lokal, atau seandainya ada pun jumlahnya sedikit. Yang ada hanya orang-orang perantauan yang ingin pulang dan singgah, sama sepertiku. 

Aku suka perjalanan malam dan meilhat rumah-rumah yang kami lewati. Membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu. Apakah mereka tidak mudik? Apakah mereka tertidur? atau ternyata di dalam sebuah rumah hanya ada seorang yang sedang kespian. Selalu ada pertanyaan untuk sebuah rumah yang isinya tak kita ketahui, dan kita hanya lewat.

Gardu-gardu desa, pematang sawah, pengairan, warung pinggir jalan, semuanya aku suka. Semuanya membuatku rindu untuk mudik. Aku sebenarnya tidak tahu kenapa banyak sekali orang yang mudik, dan banyak orang yang memaksakan dirinya untuk mudik. Sebenarnya semua yang aku bicarakan hanya tentang perjalanan yang dapat kulakukan sewaktu-waktu, tapi ternyata hanya pada saat libur lebaran keluargaku dapat berkumpul semua. Kalau perjalanan pulang ke kampung halaman kulakukan di lain waktu, aku tak dapat pergi dengan keluargaku, Ranum. Jadi, menurutku Mudik adalah momen di mana masing-masing anggota keluarga memiliki waktu luang dan sepakat menghabiskannya untuk pulang. Menurutku, setiap orang butuh pulang, dan di setiap rumah yang mereka pulangi selalu terdapat alasan yang membuat mereka harus kembali. Alasan keluargaku adalah karena nenekku, orangtuanya orangtuaku, masih ada. Jika nenekku sudah tak ada, aku tak tahu apakah kami masih akan mudik? Aku tak berani menduga. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tergantung nanti.

Ranum, perjalanan memang selalu menyenangan, bukan? Lain kali aku ingin juga sepertimu yang pergi jauh dan melakukan banyak perjalanan. Aku tahu, nanti ada saatnya aku tidak dapat pergi ke mana-mana, dan sebelum saat itu tiba aku ingin pergi. Aku belum ingin menjelma rumah yang selalu menjadi tempat pulang. Aku masih ingin menjadi kereta, bus, atau pesawat yang selalu pergi dan berhenti hanya untuk singgah. Tapi aku ingin menjadi alasan seseorang unuk selalu pulang kepadaku.

Ranum, maaf kalau ceritau aneh dan tidak menarik. Semoga kamu selalu bahagia. Orang baik memang pantas bahagia. Sehat-sehat ya, Ranum. Cuaca sedang aneh, tapi tidak seaneh kamu, sih. hehehehe. Sampai jumpa di surat yang lain.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s