Surat untuk Ranum II

Ranum, aku tak sedang rindu siapapun. 
Hanya rindu sesuatu. Maka kutulis surat untukmu. Suratku yang dulu belum juga kau balas. Apakah kau baca suratku itu? Waktu itu aku bilang aku rindu seseorang. Sekarang aku tak rindu lagi padanya. Aku tertelan rutinitas yang membuatku mual. Sekarang aku rindu ketenangan dan waktu yang lengang untuk sekadar mengenang masa lalu.

Kemarin aku pergi ke kota yang rindang. Tapi tetap saja ramai dan banyak yang lalu lalang. Aku lelah sebenarnya, Ranum. Aku pulang naik kereta, sebelum kereta berangkat, aku menengok ke luar gerbong lewat pintu. Ada senja yang tenang di sana. Senja jingga yang tenang di tengah ramai dan bising kota. Sejenak aku merasa amat nyaman. Indah sekali, Ranum. Seperti sebagian diriku disedot pada sebuah ruang yang amat damai. Tapi itu hanya sebentar, karena kereta harus segera berangkat dan aku tak sempat lagi melihat langit. Aku selalu suka rona jingga setiap senja.

O iya, belakangan aku beberapa kali disergap wangi yang mengingatkanku pada masa kecilku. Waktu itu aku sedang berjalan di gang kecil, pagi-pagi, ada beberapa anak kecil yang sedang bermain ditemani ibu mereka. Lalu aku disergap wangi itu. Wangi yang entah berasal dari mana, tapi jelas-jelas menangkapku dan mengingatkanku pada masa kecilku, Masa paling menyenangkan dalam hidupku. Aku ingat, waktu itu aku masih kecil, Baru saja masuk sekolah dasar, ketika setiap hari Kamis pagi aku menanti tukang koran langganan yang membawakanku majalah anak-anak. Aku selalu bahagia menunggu tukang koran datang. Aku begitu senang akan mendapat bacaan baru. Aku begitu gembira menebak-nebak cerita apa lagi yang akan aku dapat. Ya, aku ingat pagi ketika menunggu tukang koran langgananku. Saat itu juga ada anak-anak dan ibu-ibu yang bercengkrama. Saling menyapa dan menanyakan kabar. Aku rindu saat-saat seperti itu, Ranum. Sekarang aku merasa asing. Aku tak mendengar lagi suara yang saling menyapa di pagi hari. Tak ada tawa, tak ada gurauan, tak ada tangis anak yang merengek dibelikan sesuatu. Semua terasa begitu kaku, Ranum. Aku ingin pergi tanpa harus terikat tanggung jawab semua rutinitas yang menelanku ini. Kapan aku bisa berkunjung ke kotamu?

Semua menjadi terlalu biasa, Ranum. Entah kenapa, aku menjadi terbiasa pada tawar-menawar hati. Tapi hanya sebatas tawar-menawar. Tak pernah sekalipun ada yang berhasil memiliki. Tak apa. Aku tak merasa sedih apalagi senang. Ada yang menarik hatiku, tapi hanya sebatas untuk merentangkan benang –tak pernah benar-benar menarik. Ada yang menarik, lalu menghempaskan. Aku sudah biasa, Ranum. Terbiasa menjaga perasaan tak tumbuh lebih jauh.
Merelakan diri terhempas. Aku terbiasa merasa sesak.

Aku selalu tak sabar menunggu esok. Menerka-nerka apa yang akan terjadi esok. Menerka-nerka siapa yang akan pergi. Mengira-ngira siapa yang akan datang. Kalau aku sudah amat bosan, aku tak sabar segera tua. Duduk di beranda rumahku yang tenang, menyaksikan langit berubah warna –ungu, biru, jingga, hitam–, membongkar kenangan bersama pasanganku, mengenang apa yang dapat dikenang. Aku hanya bosan, Ranum. bukan putus asa.

Ranum, kapan kita pergi ke kota yang jauh? Bukan kotamu, apalagi kotaku. Kita pergi ke kota yang benar-benar jauh. Mengukir cerita pada lembar kenangan. Aku rindu sesuatu, utopis.
Aku rindu tenang.

Ah, sudahlah. Kamu pasti bosan mendengar ceritaku, Ranum. Kusudahi saja tulisanku, Omong kosongku, sampai di sini. Lain kali benar-benar kusertakan foto. Kali ini aku memotret lewat mata, tak dapat dicetak. Haha

Salam termanis,
Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s